Bermain Game Bisa Latih Otak dan Sosial Anak, Asal Ada Batasnya

8 hours ago 2

Jumali

Jumali Selasa, 09 Juni 2026 16:57 WIB

Bermain Game Bisa Latih Otak dan Sosial Anak, Asal Ada Batasnya

Foto ilustrasi bermain game. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Kebiasaan anak laki-laki menghabiskan waktu bermain video game sering kali menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua. Banyak yang khawatir aktivitas tersebut dapat mengganggu prestasi belajar, mengurangi interaksi sosial, hingga memicu perilaku agresif.

Namun, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampak video game terhadap tumbuh kembang anak tidak selalu negatif. Dengan penggunaan yang tepat dan pendampingan orang tua, game justru dapat memberikan manfaat bagi perkembangan kognitif maupun sosial.

Dilansir dari Parents, video game kini telah menjadi bagian dari budaya anak muda, khususnya anak laki-laki. Selain sebagai sarana hiburan, game modern juga menjadi ruang interaksi sosial tempat pemain membangun komunitas, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan teman sebaya.

Melatih Kemampuan Berpikir dan Kerja Sama

Beberapa jenis permainan, terutama game strategi dan permainan dunia terbuka (open-world), dinilai mampu melatih kemampuan pemecahan masalah.

Dalam permainan tersebut, anak dituntut berpikir kritis, menyusun strategi, serta mengambil keputusan dalam waktu singkat. Kemampuan ini dapat membantu meningkatkan keterampilan berpikir logis dan adaptasi terhadap situasi yang berubah dengan cepat.

Selain itu, fitur permainan daring (multiplayer) juga memberi kesempatan bagi anak untuk belajar bekerja sama dalam tim, berkomunikasi, dan membangun hubungan sosial dengan pemain lain.

Kemampuan kolaborasi dan komunikasi tersebut merupakan keterampilan yang juga dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Risiko Tetap Perlu Diwaspadai

Meski memiliki sejumlah manfaat, penggunaan video game secara berlebihan tetap menyimpan risiko yang perlu diperhatikan.

Paparan stimulasi cepat dan berulang dari permainan dapat memengaruhi sistem penghargaan di otak yang berkaitan dengan hormon dopamin. Kondisi ini berpotensi membuat anak lebih mudah bosan terhadap aktivitas yang berlangsung lebih lambat, seperti membaca buku atau mengikuti pelajaran di kelas.

Selain itu, kebiasaan bermain tanpa batas juga dapat meningkatkan risiko kurang aktivitas fisik, gangguan pola tidur, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial di dunia nyata.

Karena itu, para ahli menilai pengawasan dan pendampingan orang tua menjadi faktor penting dalam memastikan kebiasaan bermain game tetap sehat.

Peran Orang Tua Lebih Penting daripada Larangan

Para ahli menyarankan orang tua tidak hanya berfokus pada larangan bermain game, tetapi juga mengarahkan penggunaan teknologi secara seimbang.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menetapkan batas waktu bermain atau screen time yang jelas.
  • Memastikan anak tetap aktif berolahraga dan memiliki aktivitas fisik rutin.
  • Mendorong interaksi sosial secara langsung dengan keluarga maupun teman sebaya.
  • Memahami jenis permainan yang dimainkan anak.
  • Sesekali bermain bersama anak untuk memantau konten sekaligus mempererat hubungan emosional.

Dengan pendampingan yang tepat, video game dapat menjadi sarana belajar dan hiburan yang mendukung perkembangan anak tanpa mengorbankan kesehatan maupun pendidikan mereka.

Pada akhirnya, kunci utama bukan terletak pada melarang atau membebaskan anak bermain game sepenuhnya, melainkan menciptakan keseimbangan antara aktivitas digital, aktivitas fisik, dan interaksi sosial di kehidupan sehari-hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news