
Aktivitas guru dan petugas PMI Sragen menolong para siswa yang luka-luka karena terkena reruntuhan atap di MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan, Sragen, Selasa (12/5/2026). (Istimewa/PMI Sragen)
Harianjogja.com, SRAGEN — Insiden ambruknya atap ruang kelas di MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan, Kabupaten Sragen, Selasa (12/5/2026) pagi, memicu kebijakan darurat dari pihak sekolah. Sebanyak 48 siswa dari kelas VII hingga IX diliburkan sementara selama sepekan guna mengantisipasi potensi bahaya lanjutan dari kondisi bangunan.
Wakil Kepala Sekolah, Cipto Waluyo, menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil setelah mempertimbangkan keselamatan siswa. Evaluasi menyeluruh terhadap struktur bangunan dilakukan, terutama pada ruang kelas lain yang berada dalam satu gedung.
“Total ada 48 siswa terdampak. Kami minta mereka belajar dari rumah sambil menunggu hasil pengecekan kondisi bangunan, khususnya bagian atap dan kuda-kuda,” ujarnya.
Insiden terjadi sekitar pukul 07.30 WIB saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Ruang kelas VII yang digunakan untuk pelajaran Bahasa Inggris tiba-tiba mengalami keruntuhan atap. Padahal sebelumnya, pada Minggu (10/5/2026), plafon di ruangan tersebut sudah menunjukkan tanda kerusakan.
Guru pengampu mata pelajaran, Eka Nurul Ismiyati, diketahui tengah mengajar saat kejadian. Tanpa peringatan signifikan, struktur atap yang tertutup plafon ambruk dan menimpa siswa yang berada di dalam kelas.
Menurut pihak sekolah, kondisi kerusakan tidak terdeteksi secara menyeluruh karena bagian struktur utama tertutup plafon. Hal ini membuat pelapukan pada kayu penyangga tidak terlihat dari luar.
Akibat kejadian tersebut, enam siswa mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis. Mereka dirujuk ke RSUD dr. Soehadi Prijonegoro serta RSI Amal Sehat Sragen. Selain itu, guru yang mengajar juga mengalami syok dan ikut menjalani perawatan.
“Luka yang dialami siswa bervariasi, mulai dari cedera kepala, pundak, hingga patah kaki. Saat ini sebagian masih dirawat,” jelas Cipto.
Salah satu siswa bernama Ilyas dilaporkan mengalami luka di bagian kepala, namun kondisinya sudah membaik dan diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan.
Pasca kejadian, seluruh siswa langsung dipulangkan lebih awal sebagai langkah antisipatif. Sekolah juga tengah mempertimbangkan penerapan pembelajaran daring selama masa evaluasi berlangsung.
Selain itu, pihak sekolah mengakui sebelumnya telah merencanakan relokasi kegiatan belajar dan mengajukan bantuan pembangunan. Namun, rencana tersebut belum sempat terealisasi hingga insiden terjadi.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya audit rutin terhadap infrastruktur sekolah, terutama bangunan lama yang berpotensi mengalami kerusakan struktural. Pemerintah daerah diharapkan segera turun tangan untuk memastikan keamanan fasilitas pendidikan agar kejadian serupa tidak terulang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : espos.id
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
5

















































