Angin Duduk Bisa Picu Serangan Jantung, Yuk Kenali Tandanya

5 hours ago 1

Harianjogja.com, JAKARTA—Istilah “angin duduk” kerap dianggap sepele oleh sebagian masyarakat. Padahal, kondisi ini bisa menjadi sinyal serius adanya gangguan pada jantung yang tidak boleh diabaikan. Dalam dunia medis, angin duduk dikenal sebagai Angina pektoris.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Febtusia Puspitasari, menjelaskan bahwa angina terjadi ketika otot jantung kekurangan pasokan darah dan oksigen. Padahal, organ vital ini sangat bergantung pada suplai oksigen yang stabil agar dapat berfungsi optimal.

“Ketika aliran darah terganggu, sebagian otot jantung tidak mendapat oksigen yang cukup. Kondisi ini memicu rasa nyeri yang khas di dada,” ujarnya dalam diskusi kesehatan dikutip dari Antara, Selasa (9/6/2026).

Gejala Khas yang Sering Diabaikan

Angina pektoris umumnya ditandai dengan rasa nyeri di dada seperti tertindih beban berat, tertekan, atau sensasi tidak nyaman yang menjalar ke leher, lengan, hingga punggung. Banyak penderita juga merasa sulit bernapas saat gejala muncul.

Istilah “angin duduk” sendiri diyakini berasal dari kebiasaan penderita yang memilih duduk untuk meredakan rasa nyeri. Posisi ini membantu memperbaiki pernapasan dan mengurangi tekanan pada dada.

Penyebab dan Faktor Risiko Utama

Menurut dr. Febtusia, sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami angina. Salah satu yang paling dominan adalah tingginya kadar kolesterol jahat atau Low Density Lipoprotein (LDL).

Penumpukan LDL dalam pembuluh darah dapat memicu terbentuknya plak yang menyempitkan arteri. Kondisi ini membuat aliran darah ke jantung menjadi terhambat. Selain itu, tekanan darah tinggi atau Hipertensi juga memperburuk kondisi pembuluh darah.

“Tekanan darah ideal berada di kisaran 130/80. Jika lebih tinggi, dinding pembuluh darah mulai mengalami kerusakan sehingga kolesterol mudah menempel dan membentuk sumbatan,” jelasnya.

Tak hanya itu, Diabetes juga menjadi faktor risiko karena dapat merusak lapisan pembuluh darah secara perlahan. Kebiasaan merokok pun turut memperparah kondisi, sebab zat berbahaya seperti karbon monoksida dan nikotin mengganggu kemampuan darah dalam membawa oksigen.

Bahaya Jika Dibiarkan

Jika tidak ditangani, angina pektoris dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, termasuk serangan jantung. Hal ini terjadi ketika aliran darah ke jantung benar-benar terhenti akibat sumbatan total.

Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali gejala sejak dini dan segera memeriksakan diri jika mengalami nyeri dada berulang, terutama saat beraktivitas.

Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Untuk mencegah angina pektoris, masyarakat disarankan menjaga pola hidup sehat. Mulai dari mengontrol kadar kolesterol, menjaga tekanan darah tetap normal, rutin berolahraga, hingga menghindari rokok.

Langkah sederhana ini terbukti efektif menjaga kesehatan pembuluh darah sekaligus menurunkan risiko penyakit jantung di kemudian hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news