Jumali Jum'at, 10 Juli 2026 17:17 WIB

Ilustrasi serangan siber./Sputniknews
Harianjogja.com, JOGJA— Ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin sulit dikenali dan kini menjadi salah satu risiko terbesar bagi pengguna internet. Dalam tiga bulan pertama 2026 saja, lebih dari 140 juta upaya phishing dan penipuan online berhasil diblokir oleh sistem keamanan Kaspersky di seluruh dunia.
Jumlah tersebut menggambarkan besarnya ancaman yang kini mengintai masyarakat di ruang digital, mulai dari pencurian akun, kebocoran data pribadi, hingga penipuan yang dirancang secara sangat meyakinkan menggunakan teknologi AI.
Hampir Separuh Pengguna Pernah Jadi Korban
Temuan itu diperkuat melalui survei global yang dilakukan Kaspersky pada Maret 2026 terhadap 7.200 responden di 18 negara, termasuk Indonesia.
Hasil survei menunjukkan lebih dari separuh responden mengaku pernah menghadapi penipuan online dalam kurun satu tahun terakhir.
Tidak hanya itu, sekitar 45 persen responden menyatakan pernah menjadi korban serangan siber, mulai dari peretasan akun media sosial, pencurian data pribadi, hingga infeksi malware.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman siber kini tidak lagi menyasar kelompok tertentu, tetapi dapat menyerang siapa saja yang aktif menggunakan internet.
Modus Baru Memanfaatkan AI dan Data Bocor
Para peneliti keamanan Kaspersky menemukan bahwa pelaku kejahatan siber semakin cepat beradaptasi dengan berbagai tren global.
Salah satu contoh yang terdeteksi pada Maret 2026 adalah munculnya gelombang penipuan yang memanfaatkan popularitas Piala Dunia 2026.
Pelaku membuat situs palsu yang menyerupai kanal resmi turnamen untuk menjebak korban agar menyerahkan data pribadi maupun informasi keuangan.
Yang lebih mengkhawatirkan, pesan-pesan penipuan kini dirancang semakin personal karena memanfaatkan data yang bocor dari insiden peretasan sebelumnya atau malware pencuri informasi (infostealer).
Dengan dukungan AI, pelaku dapat membuat pesan yang tampak sangat meyakinkan sehingga sulit dibedakan dari komunikasi resmi.
Kewaspadaan Saja Tidak Lagi Cukup
Kaspersky menilai ancaman berbasis AI telah memasuki fase baru yang membuat perlindungan digital tidak bisa hanya mengandalkan kehati-hatian pengguna.
Untuk merespons perkembangan tersebut, perusahaan memperkuat layanan Kaspersky Premium dengan teknologi deteksi berbasis Artificial Intelligence dan Machine Learning (ML).
Seluruh fitur perlindungan kini dikelompokkan dalam sistem khusus bernama Perlindungan Penipuan bertenaga AI untuk pengguna Windows dan macOS.
Layanan tersebut mencakup pemeriksa kebocoran data, perlindungan pencurian identitas, pengelola kata sandi, hingga teknologi pemantauan perilaku mencurigakan secara real-time melalui fitur System Watcher.
Sementara itu, pada perangkat seluler, perlindungan berjalan otomatis di latar belakang untuk mendeteksi berbagai aktivitas berisiko.
Ancaman AI Jadi Realitas Baru
Vice President Consumer Business Kaspersky, Marina Titova, mengatakan penipuan berbasis AI kini telah menjadi tantangan nyata yang sulit dikenali manusia.
Menurutnya, pelaku kejahatan dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk menciptakan skenario penipuan yang tampak autentik dan meyakinkan.
Karena itu, pengguna perlu mengombinasikan kewaspadaan pribadi dengan perlindungan teknologi yang mampu mendeteksi ancaman secara proaktif.
Perkembangan ini menjadi pengingat bahwa keamanan digital kini sama pentingnya dengan keamanan di dunia nyata. Di tengah meningkatnya aktivitas online masyarakat, perlindungan terhadap data pribadi, akun digital, dan transaksi elektronik menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

7 hours ago
4

















































