Wisata Edukasi Madukismo Bantul, Serunya Naik Lori Melihat Proses Produksi Gula

2 hours ago 1

Wisata Edukasi Madukismo Bantul, Serunya Naik Lori Melihat Proses Produksi Gula

Wisatawan menaiki kereta lori dalam rangkaian kunjungan wisata ke Pabrik Gula Madukismo Bantul beberapa waktu lalu. /Harian Jogja-Yosef Leon.

Harianjogja.com, BANTUL—Deru mesin pabrik berpadu dengan aroma tebu menyambut rombongan wisatawan di Pabrik Gula dan Pabrik Spiritus (PG-PS) Madukismo. Namun, pengalaman berkunjung ke tempat ini tidak berhenti pada melihat aktivitas industri dari kejauhan.

Tepat pukul 14.00 WIB, sebuah lokomotif tua mulai bergerak menarik belasan gerbong lori. Kereta lawas itu membawa wisatawan masuk ke kawasan produksi Pabrik Gula Madukismo untuk melihat langsung perjalanan tebu hingga diolah menjadi kristal gula.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari wisata edukasi yang dikembangkan PT Madubaru PG-PS Madukismo. Pengunjung tidak hanya memperoleh penjelasan dari pemandu, tetapi juga diajak mendekati proses produksi dengan menaiki kereta yang telah menjadi bagian dari perjalanan pabrik sejak awal berdiri.

Koordinator Pengembangan Aset PT Madubaru PG-PS Madukismo, Mahmud Safrudi mengatakan wisata edukasi Madukismo telah dibuka sejak 1997. Program tersebut berawal dari tingginya minat masyarakat untuk mengetahui secara langsung bagaimana gula dibuat.

Naik Lori Menuju Area Produksi

Untuk mengikuti wisata edukasi tersebut, pengunjung terlebih dahulu harus melakukan reservasi. Setelah jadwal ditentukan, rombongan akan diarahkan menuju kereta yang membawa mereka berkeliling kawasan pabrik.

Sebelum memasuki area produksi, wisatawan terlebih dahulu mendapatkan penjelasan mengenai sejarah Madukismo dan aktivitas pabrik saat ini.

"Sebelum masuk ke area pabrik, rombongan akan kami berikan penjelasan dulu seputar sejarah dan aktivitas terkini pabrik. Setelahnya baru naik kereta menuju lokasi dan kami perlihatkan semua prosesnya," kata Mahmud.

Perjalanan dengan lori menjadi salah satu pengalaman yang membedakan wisata edukasi Madukismo. Dari atas rangkaian kereta, pengunjung dapat melihat aktivitas produksi sekaligus merasakan suasana kawasan industri gula secara lebih dekat.

Kereta itu bukan sekadar alat transportasi untuk berkeliling pabrik. Lori menjadi bagian dari cara Madukismo menghubungkan wisatawan dengan proses industri yang selama ini mungkin hanya dikenal melalui produk gula yang sampai ke meja makan.

Mahmud mengatakan kereta tersebut sudah ada sejak Madukismo berdiri. Pabrik itu dibangun pada 1955 atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Pada masa tersebut, Jogja disebut memiliki 17 pabrik gula. Namun, seluruh pabrik tersebut kemudian dibumi hanguskan. Madukismo selanjutnya dibangun sebagai pengganti sekaligus untuk menyerap tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di pabrik-pabrik gula tersebut.

Madukismo pada awalnya dikenal sebagai Pabrik Gula Padokan dengan kapasitas produksi yang lebih kecil. Seiring berjalannya waktu, kapasitas gilingnya meningkat hingga mencapai 3.500 ton tebu per hari atau 3.500 TCD (ton cane per day).

Melihat Tebu Berubah Menjadi Gula

Begitu memasuki kawasan produksi, wisatawan mulai diperkenalkan dengan tahapan pengolahan tebu. Proses tersebut dimulai ketika tebu masuk ke pabrik untuk digiling guna mengambil air tebu.

Cairan hasil penggilingan kemudian menjalani proses pemurnian dengan metode sulfitasi. Gas belerang dan susu kapur digunakan dalam proses tersebut untuk mengikat kotoran sekaligus membantu pemutihan cairan tebu.

Setelah melalui proses pemurnian, cairan tebu masuk ke tahap evaporasi atau penguapan. Dari sana, cairan kemudian dilanjutkan ke proses pemasakan hingga terbentuk kristal-kristal gula.

Kristal yang terbentuk belum sepenuhnya bersih karena masih terdapat stroop atau cairan kental yang menempel. Karena itu, gula harus dipisahkan dari stroop menggunakan mesin khusus.

Gula yang telah terpisah selanjutnya dikemas. Sementara itu, stroop atau tetes tebu tidak menjadi limbah yang dibuang begitu saja karena dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuatan spiritus dan alkohol.

Rangkaian proses tersebut membuat wisatawan dapat melihat bahwa perjalanan gula tidak sesederhana tebu yang masuk ke pabrik kemudian langsung berubah menjadi produk jadi. Ada sejumlah tahapan yang harus dilalui hingga menghasilkan kristal gula yang siap dikemas.

Dua Jam Menyusuri Madukismo

Wisata edukasi Madukismo dibatasi maksimal empat kunjungan dalam sehari. Kegiatan dimulai pukul 07.00 hingga sekitar pukul 14.00 WIB, dengan durasi setiap kunjungan sekitar dua jam.

Wisatawan yang ingin mengikuti program tersebut harus melakukan reservasi terlebih dahulu. Untuk rombongan minimal 30 orang, tarif yang dikenakan sebesar Rp13.000 per orang.

Sementara rombongan dengan jumlah kurang dari 30 orang tetap dapat mengikuti kunjungan melalui sistem paket dengan biaya sekitar Rp450.000.

"Kalau lebih dari 30 orang, biayanya hanya Rp13.000 per orang," katanya.

Di balik wisata edukasi tersebut, aktivitas utama Madukismo tetap berkaitan dengan produksi gula. Kapasitas pabrik mencapai sekitar 3.500 ton tebu per hari.

Dari kapasitas tersebut, produksi gula ditargetkan sekitar 250 ton atau setara 5.000 karung dengan berat masing-masing 50 kilogram. Namun, realisasi produksinya bergantung pada kadar gula dan rendemen tebu yang digiling.

Salah satu jenis tebu yang digunakan adalah Bululawang. Adapun gula produksi Madukismo didistribusikan ke sejumlah wilayah, terutama Jogja dan Jawa Tengah, serta dapat menjangkau daerah lain sesuai pemenang lelang.

Di tengah perkembangan wisata yang semakin banyak menawarkan wahana dan pengalaman baru, Madukismo menghadirkan bentuk wisata yang berbeda. Lori lawas menjadi kendaraan untuk menelusuri jejak industri gula sekaligus memperlihatkan perjalanan sebuah komoditas yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news