Gempa Dalam M5,9 Jakarta Terasa di Jogja, Ini Penyebabnya

4 hours ago 1

Harianjogja.com, JOGJA—Gempa bumi magnitudo 5,9 yang berpusat di laut barat laut Jakarta, Sabtu (12/9/2026) dini hari, ternyata bukan sekadar getaran yang dirasakan warga hingga Jogja. Gempa tersebut merupakan jenis gempa dalam atau deep focus earthquake yang terjadi akibat patahnya batuan di dalam lempeng yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa.

Pakar gempa bumi yang juga merupakan anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan karakteristik gempa tersebut melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @daryono_edukator_kebencanaan.

Menurut Daryono, gempa terjadi akibat patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam hingga ratusan kilometer di bawah Laut Jawa. Peristiwa tersebut termasuk intra-slab event atau gempa yang terjadi di dalam lempeng yang tersubduksi.

"Gempa ini bukan dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dangkal, melainkan akibat patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa (Zona Benioff) hingga kedalaman 358 km. Proses deformasi batuan di dalam lempeng yang tersubduksi ini dikategorikan sebagai peristiwa intra-slab," tulis Daryono dalam unggahannya, Sabtu pagi.

Gempa Terasa Lebih Kuat di Jawa Selatan

Meski episenter gempa berada di Laut Jawa sebelah utara Jakarta, getarannya justru lebih awal dan lebih kuat dirasakan di sejumlah wilayah Jawa bagian selatan, termasuk Sukabumi.

Daryono menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan jalur perambatan energi seismik. Gelombang gempa dapat bergerak secara lebih efisien melalui medium slab lempeng yang padat dan homogen.

"Hal ini terjadi karena gelombang seismik merambat paling efisien melalui medium slab lempeng yang padat dan homogen menuju arah selatan sebelum menyebar ke permukaan," jelasnya.

Kedalaman gempa yang mencapai lebih dari 300 kilometer juga membuat wilayah yang merasakan getaran menjadi sangat luas. Guncangan disebut menjangkau Sumatra, Jawa bagian timur, hingga Kalimantan.

Meski jangkauannya luas, energi gempa di permukaan telah mengalami disipasi sehingga tidak sampai menimbulkan kerusakan struktural pada bangunan.

"Kedalaman hiposenter yang melebihi 300 km (deep focus) menyebabkan spektrum attenuasi gelombang melemah secara bertahap tetapi menjangkau area geografis yang sangat luas. Meskipun wilayah jangkauan getaran sangat lebar, energi di permukaan sudah terdisipasi sehingga tidak berpotensi menimbulkan kerusakan struktural," paparnya.

Warga Jogja Ikut Merasakan Guncangan

Gempa tersebut terjadi sekitar pukul 04.23 WIB. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut sekitar 49 kilometer barat laut Jakarta dengan kedalaman 376 kilometer.

Di wilayah DIY, getaran tercatat pada skala II-III MMI. Skala tersebut menunjukkan getaran dapat dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seperti ada truk yang sedang melintas.

Sejumlah warga di Jogja juga merasakan guncangan ketika waktu subuh. Nuri, 28, warga Kota Jogja, mengatakan getaran dirasakannya ketika baru bangun untuk bersiap salat subuh.

"Tadi pas baru bangun tidur sekitar jam 04.25 WIB terasa kayak ada getaran halus, setelah dicek di medsos ternyata memang gempa," ujarnya, Sabtu pagi.

Nuri mengatakan sejumlah barang yang tergantung di kamarnya sempat bergoyang pelan saat gempa berlangsung.

Pusat Gempa di Laut

BMKG mencatat gempa berada pada koordinat 5,81 derajat Lintang Selatan (LS) dan 106,56 derajat Bujur Timur (BT). Berdasarkan analisis BMKG, lokasi pusat gempa berada sekitar enam kilometer di sebelah tenggara Kepulauan Seribu.

Dengan kedalaman 376 kilometer, BMKG mengategorikan gempa tersebut sebagai gempa dalam. Kendati dirasakan di sejumlah wilayah, gempa tersebut dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

"Tidak berpotensi tsunami," demikian keterangan tertulis BMKG.

Guncangan juga dilaporkan dirasakan di berbagai daerah. Wilayah yang mengonfirmasi merasakan gempa antara lain Cilacap, Nagrak, Kalapanunggal dengan intensitas III MMI, Rancaekek, Lembang, Garut, Bandung, Sukabumi, Cianjur, Pacitan, Ponorogo, Malang, Kota Bengkulu, Sumur, Padang, Mentawai, Pariaman, hingga Solok Selatan.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi maupun isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat gempa tersebut.

Gempa Susulan Jarang Terjadi

Mengenai kemungkinan gempa susulan atau aftershocks, Daryono meminta masyarakat tidak khawatir secara berlebihan. Menurutnya, karakteristik batuan litosfer samudra yang homogen pada kedalaman ratusan kilometer membuat pelepasan tegangan cenderung berlangsung dalam satu peristiwa utama.

"Karena gempa terjadi pada batuan litosfer samudra yang sangat homogen di kedalaman ratusan kilometer, pelepasan tegangan (stress release) cenderung terjadi secara total dalam satu peristiwa utama. Oleh karena itu, gempa deep focus jenis ini sangat jarang memicu gempa susulan," pungkasnya.

Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi susulan. BMKG mengimbau warga memahami langkah keselamatan apabila kembali merasakan guncangan.

Saat berada di dalam bangunan, masyarakat dapat menerapkan prinsip Drop, Cover, Hold On. Langkah ini dilakukan dengan segera merunduk, berlindung di bawah meja yang kokoh, kemudian melindungi kepala dan leher menggunakan lengan atau benda lunak.

Warga juga perlu menjauhi jendela kaca, lemari tinggi, cermin, maupun benda lain yang berpotensi jatuh. Jika situasi memungkinkan dan aman, matikan kompor serta cabut aliran listrik untuk mengurangi risiko kebakaran.

Apabila harus melakukan evakuasi, masyarakat diminta tidak menggunakan lift. Gunakan tangga darurat dan keluar dari bangunan secara tertib.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news