Newswire Sabtu, 05 September 2026 11:37 WIB

Kapolda Kalsel Irjen Pol Dr Rosyanto Yudha Hermawan saat memimpin pengujian formula bubuk tepung yang dicampur air dalam pemadaman lahan gambut di Banjarbaru. Antara/Firman\r\n
Harianjogja.com, JAMBI— Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LH) sekaligus Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Diaz Hendropriyono mengapresiasi kolaborasi masyarakat, perusahaan, serta pemerintah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.
Apresiasi tersebut disampaikan setelah Diaz meninjau langsung penanganan karhutla di wilayah tersebut pada Sabtu (5/9/2026). Menurutnya, pola kerja sama yang dilakukan di lahan gambut dapat menjadi praktik baik yang diterapkan untuk mempercepat penanganan kebakaran di wilayah lain.
Diaz menilai upaya pemadaman yang melibatkan PT Wirakarya Sakti (WKS), Masyarakat Peduli Api, BPBD, TNI/Polri, serta masyarakat sekitar menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi kebakaran lahan gambut.
Air Sungai Batang Hari Dipompa 11 Kilometer
Salah satu metode yang mendapat perhatian Diaz adalah sistem distribusi air dari Sungai Batang Hari menuju kawasan lahan gambut yang terbakar di Desa Parit Culum I.
"Saya lihat tadi best practice yang dilakukan oleh PT WKS di Desa Parit Culum, mereka mengambil air dari Sungai Batang Hari lalu estafet sepanjang 11 km dengan beberapa pompa yang dibawa ke sekat kanal di daerah yang ada titik kebakaran," jelas Wamen Diaz.
Lahan gambut yang terbakar membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar. Karena itu, sekat kanal digunakan untuk mempertahankan ketersediaan air di sekitar kawasan terdampak kebakaran.
PT WKS menyalurkan air dari Sungai Batang Hari dengan menggunakan sistem pompa secara estafet. Air tersebut kemudian diarahkan menuju area yang membutuhkan pembasahan.
Proses distribusi air itu tidak dapat dilakukan secara cepat. Dibutuhkan waktu sekitar 6–7 hari hingga air dari sungai dapat mencapai area kebakaran. Hingga saat ini, proses pemompaan masih terus dilakukan.
Kebakaran Pertama Terdeteksi 27 Agustus
Titik kebakaran di Desa Parit Culum I pertama kali diketahui pada 27 Agustus 2026. Lokasinya berada di luar wilayah konsesi.
Setelah titik api teridentifikasi, penanganan langsung dilakukan pada hari yang sama. Pemadaman kebakaran di permukaan lahan membutuhkan waktu sekitar empat hari.
Namun, tantangan penanganan kebakaran lahan gambut tidak berhenti setelah api di permukaan berhasil dipadamkan. Lapisan gambut yang berada lebih dalam masih membutuhkan proses pembasahan agar api tidak kembali muncul.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, petugas masih melakukan pembasahan menggunakan sambunesia atau alat semprot pemadaman. Metode ini digunakan untuk menjangkau lapisan gambut yang lebih dalam dan sulit ditangani hanya dengan metode seperti water bombing.
Perusahaan Diminta Ikut Tangani Karhutla
Setelah meninjau lokasi penanganan karhutla, Diaz mengumpulkan sejumlah perusahaan yang berada di sekitar titik hotspot. Pertemuan tersebut dilakukan untuk memperkuat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Jambi.
Dalam pertemuan itu, Diaz meminta perusahaan turut mengambil bagian dalam pengendalian karhutla. Salah satu bentuk dukungan yang didorong adalah pembangunan sekat kanal serta membantu proses distribusi air menuju area yang terdampak.
Diaz menilai pengalaman PT WKS dalam mengalirkan air dari Sungai Batang Hari menuju kawasan kebakaran dapat menjadi contoh yang dapat diterapkan bersama.
"Saya minta beberapa perusahaan di Jambi untuk ikut membantu bangun sekat kanal dan membantu transfer air dari sungai (Batang Hari), kita sudah ada best practice-nya, semoga dengan ini, kebakaran lahan gambut bisa diselesaikan," demikian Diaz Hendropriyono.
Kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, pemerintah daerah, serta aparat menjadi salah satu pendekatan yang didorong dalam penanganan karhutla, khususnya di wilayah dengan karakteristik lahan gambut.
Penggunaan sekat kanal dan distribusi air juga diarahkan untuk menjaga kelembapan gambut sehingga risiko kebakaran berulang dapat ditekan.
Penanganan karhutla di Jambi menjadi perhatian karena kebakaran pada lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran di lahan mineral. Api dapat bertahan di lapisan bawah sehingga proses pemadaman membutuhkan pasokan air dan pembasahan yang memadai.
Karena itu, koordinasi lintas pihak dinilai penting untuk memastikan penanganan tidak hanya berfokus pada pemadaman api di permukaan, tetapi juga pada pembasahan gambut dan pencegahan agar kebakaran tidak kembali meluas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
2
















































