Talud Sungai Opak Rusak Parah, DPRD DIY Desak Penanganan Segera

4 hours ago 1

Talud Sungai Opak Rusak Parah, DPRD DIY Desak Penanganan Segera

Komisi C DPRD DIY melakukan pengecekan lapangan kerusakan talud Sungai Opak di Padukuhan Pagergunung, Kalurahan Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, Bantul. (istimewa)


Harianjogja.com, BANTUL— Kerusakan talud di bantaran Sungai Opak wilayah Padukuhan Pagergunung, Kalurahan Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, Bantul, mendapat perhatian serius dari Komisi C DPRD DIY. Abrasi yang terus terjadi akibat banjir berulang dikhawatirkan semakin meluas dan mengancam jalan, makam, tanah wakaf, hingga aset milik warga.

Kondisi tersebut mendorong Komisi C DPRD DIY bersama perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) melakukan peninjauan langsung ke lokasi untuk melihat tingkat kerusakan yang terjadi di sepanjang bantaran Sungai Opak.

Tokoh masyarakat Sitimulyo, Yanto dan Sutiyar, mengungkapkan warga Pagergunung 1 dan Pagergunung 2 selama ini telah berupaya melakukan penanganan secara mandiri. Melalui gotong royong, masyarakat membangun talud darurat menggunakan ribuan ban bekas truk yang dipadukan dengan batu dan pasir untuk menahan gerusan arus sungai.

Namun, upaya swadaya tersebut belum mampu mengatasi derasnya aliran Sungai Opak ketika debit air meningkat pada musim hujan.

Talud Darurat Kerap Rusak Saat Musim Hujan

Menurut warga, setiap musim penghujan datang, talud darurat yang dibangun kembali rusak diterjang banjir. Kondisi itu membuat abrasi terus terjadi dan menggerus bantaran sungai dari tahun ke tahun.

"Karena kemampuan masyarakat terbatas, kami berharap pemerintah segera turun tangan agar abrasi tidak semakin meluas," ujar perwakilan warga.

Warga khawatir jika tidak ada penanganan permanen, kerusakan akan semakin parah dan berdampak pada keselamatan lingkungan permukiman serta fasilitas umum yang berada di sekitar aliran sungai.

Selain mengikis lahan warga, abrasi juga berpotensi memperbesar risiko longsor pada bantaran sungai yang berada dekat dengan kawasan permukiman.

DPRD DIY Respons Aduan Warga

Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro, mengatakan kunjungan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas laporan masyarakat terkait kerusakan talud Sungai Opak yang telah berlangsung cukup lama.

Ia menyebut kerusakan yang terjadi tidak hanya menyebabkan abrasi, tetapi juga berdampak pada amblasnya jalan, tergerusnya area makam, serta berkurangnya luas tanah wakaf di sekitar lokasi.

"Kami ke sini merespons aduan warga mengenai adanya kerusakan talud Sungai Opak yang telah mengakibatkan jalan amblas, makam dan tanah wakaf tergerus," kata Nur Subiyantoro, Kamis (6/8/2026).

Menurut dia, Komisi C akan mengawal proses penanganan kerusakan talud dengan berkoordinasi bersama instansi teknis yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan sungai.

BBWSSO Siapkan Bantuan Bronjong

Dalam kunjungan tersebut, Komisi C DPRD DIY juga mengundang perwakilan BBWSSO untuk melihat langsung kondisi lapangan. Hasil koordinasi awal menunjukkan adanya kesiapan dari BBWSSO untuk memberikan bantuan penanganan sementara.

Nur Subiyantoro menyampaikan BBWSSO siap membantu menyediakan bronjong sebagai pengaman darurat bantaran sungai agar abrasi tidak semakin meluas sebelum dilakukan penanganan permanen.

Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, menilai penanganan harus segera dilakukan karena dampak abrasi sudah sangat besar.

Menurut dia, kerusakan yang terjadi telah menyebabkan hilangnya ribuan meter persegi tanah milik warga maupun tanah wakaf akibat tergerus aliran Sungai Opak.

"Warga sudah lama menderita sehingga perlu penanganan segera," ujarnya.

Skema Penanganan Bisa Meniru Wirokerten

Anggota Komisi C DPRD DIY, Aslam Ridlo, mengusulkan pola penanganan seperti yang pernah diterapkan di wilayah Wirokerten, Banguntapan, Bantul.

Dalam skema tersebut, BBWSSO menyediakan bronjong, sementara material pendukung disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul. Adapun masyarakat terlibat melalui gotong royong untuk pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

"Seperti di Wirokerten, untuk bronjong disediakan oleh BBWSSO sedangkan material dari Pemerintah Kabupaten Bantul, sementara masyarakat tenaga gotong royong," katanya.

Aslam menilai model kolaborasi tersebut dapat mempercepat penanganan sekaligus mengoptimalkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan sungai.

BBWSSO Siap Pinjamkan Alat Berat

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai Pantai BBWSSO, Dicky Maulana, menyatakan pihaknya telah menerima surat permohonan bantuan bronjong dari warga.

Ia memastikan BBWSSO siap memberikan dukungan sesuai kebutuhan masyarakat untuk mengurangi risiko abrasi yang terus terjadi.

Selain bantuan bronjong, BBWSSO juga siap meminjamkan alat berat guna mendukung normalisasi Sungai Opak sehingga aliran air dapat kembali lebih terkendali.

Dicky turut mengapresiasi inisiatif warga Pagergunung 1 dan Pagergunung 2 yang selama ini secara swadaya melakukan perawatan bantaran sungai meski dengan keterbatasan sumber daya.

"Kami siap membantu bronjong sesuai permintaan warga untuk penanganan jangka pendek," ujarnya.

Dengan adanya dukungan dari DPRD DIY, BBWSSO, Pemerintah Kabupaten Bantul, dan masyarakat, diharapkan penanganan abrasi Sungai Opak di Pagergunung dapat segera direalisasikan sehingga risiko kerusakan yang lebih luas dapat dicegah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news