Program revitalisasi sekolah (dok. Ist)KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Pendidikan mengusulkan ratusan sekolah untuk mengikuti program revitalisasi tahun 2026.
Usulan tersebut mencakup jenjang pendidikan SMA/SMK se-derajat dengan harapan dapat meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pembelajaran.
Total sekitar 450 sekolah diajukan dalam program revitalisasi yang bersumber dari pemerintah pusat. Dari jumlah tersebut, sekitar 360 sekolah diperkirakan akan lolos verifikasi awal dan berpeluang menerima bantuan pembangunan maupun perbaikan fasilitas pendidikan.
Plt Sekretaris Dinas Pendidikan Sulsel, Mustakim, menyebutkan bahwa jumlah tersebut masih bersifat sementara. Ia menegaskan hasil akhir tetap bergantung pada keputusan kementerian setelah proses verifikasi selesai.
“Kemarin kita mengajukan kurang lebih 450 sekolah, jenjang SMA, SMK, dan SLB. Mudah-mudahan tahun ini setidak-tidaknya yang saya dapat informasi itu kurang lebih 360 sekolah. Cuma finish terakhirnya itu saya belum dapat,” ujarnya, Rabu (29/04).
Ia mengungkapkan, pada jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sebagian sekolah telah melalui tahap verifikasi awal. Sementara itu, untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), hasil verifikasi masih menunggu proses lanjutan dari pihak terkait.
“Kalau SMK kemarin yang berhasil diverifikasi itu kurang lebih 90 kalau tidak salah. SMA ini yang kita tunggu hasilnya lagi,” lanjutnya.
Selain pengajuan tahun ini, Mustakim juga menyinggung capaian revitalisasi pada tahun sebelumnya. Ia menyebutkan jumlah sekolah yang memperoleh bantuan pada tahun lalu mencapai ratusan unit dari berbagai jenjang pendidikan.
“Kurang lebih hampir 200 lah, saya tidak hafal pasti jumlahnya, yang jelas kurang lebih 160-an. Tingkat SMA, SMK, dan SLB, SLB itu hanya beberapa saja,” jelas Mustakim.
Pemerintah provinsi juga tidak hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah pusat dalam memperbaiki fasilitas sekolah. Sejumlah sekolah yang belum mendapatkan program revitalisasi tetap mendapatkan perhatian melalui pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“SLB itu hanya beberapa saja, tapi kita bantu juga dengan APBD. Jadi ada juga rehab melalui APBD kita yang tidak mendapatkan revitalisasi,” katanya.
Menurut Mustakim, pelaksanaan rehabilitasi sekolah melalui APBD dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan bangunan. Perbaikan yang dilakukan dapat mencakup ruang kelas, laboratorium, hingga fasilitas pendukung lain sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.
“Dilihat dari kondisi sekolah. Ada rehab laboratorium, ada rehab kelas, tergantung tingkat kerusakan sekolah, khususnya yang kita danai dengan APBD,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa program revitalisasi sekolah tidak hanya terbatas pada pembangunan fisik bangunan. Bantuan yang diberikan juga mencakup penyediaan perlengkapan pendukung proses pembelajaran di dalam kelas maupun laboratorium.
“Revitalisasi itu termasuk dengan peralatan yang ada di dalamnya. Misalnya untuk SMK ada yang kita bantuan APBD peralatan, ada juga yang langsung dari pusat. Misalnya Kalau untuk lab itu biasanya dengan isinya, kalau kelas yang biasanya hanya kelasnya saja, kalau untuk lainnya mungkin bisa nanti dibantu dengan APBD,” paparnya.
Dia juga menyampaikan bahwa jumlah sekolah yang diusulkan pada tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, jumlah sekolah yang lolos verifikasi awal justru sedikit lebih rendah dari capaian tahun lalu.
“Banyak kita ajukan tahun ini, cuma yang diverifikasi kemarin agak kurang dibanding tahun lalu. Itu juga tergantung dari data dapodik di sekolah. Tahun 2025 kemarin termasuk tinggi capaian Sulsel dalam revitalisasi. Mudah-mudahan tahun ini ya minimal samalah tahun lalu,” pungkasnya.


















































