Subayang: Sebelum Bapak Pulang

18 hours ago 7

Desi masih berdiri di depan jendela sambil menatap ke hilir Sungai Subayang. Tatapan penuh penantian dan kosong. Ia tarik kain panjang kasur tipisnya dan segera menutupi tubuh ringkih itu. Angin malam sudah turun dari Bukit Rimbang Baling, gigil yang segera menggerayangi rambut-rambut halus kuduknya.

“Bapak belum juga pulang, Mak?”

Sering kali aku menemukannya sendirian dan membisu. Entah berdoa, atau sengaja diam untuk hikmat mendengarkan suara ribut piyau* yang tergesa-gesa pulang menuju hulu, sebab cicit kalong telah memecah sunyi malam. Kadang ia bicara sendiri, seolah bercakap- cakap dengan seseorang di luar rumah. Melambaikan tangan, lalu tersenyum pada sesuatu yang tidak pernah kulihat.

“Kenapa kamu tidak tidur, Nak?”

Aku mendekatinya, decit nyaring langkah kakiku memecah sunyi, tapi ia tak memperhatikanku.

“Menunggu Bapak pulang.” Tatapannya masih lurus ke arah sungai yang gelap ditelan malam.

Aku berdiri di samping gadis kecil tersebut, sembari mengusap rambut panjang dan kusut itu. Sejak kepergian suamiku, ia tidak pernah mau keluar kamar. Perlahan kugendong dia kembali ke kasur, sudah pukul sepuluh malam, waktu bagi gadis seusianya untuk tidur bersama mimpi-mimpinya tentang permainan.

“Aku masih belum ngantuk, Mak.” katanya dengan pelan dan pasrah.

“Kenapa? Bapak pasti pulang esok hari.”

“Selalu itu yang kudengar darimu, Mak.”

***

Aku jenuh mendengar Emak kerap menjanjikan Bapak pulang. Seakan Bapak segera mengetuk pintu, meletakkan peralatan kerjanya di kolong rumah dan duduk di ruang tengah menikmati kopi hangat buatan emak seperti biasa. Namun kenyataannya, saban malam piyau Bapak tak kunjung berlabuh di tepian rumah kami. Bapak telah pergi selama sepuluh hari, tak sekali pun ia berkabar. Aku sedih.

Tapi kenapa tak sekali pun kulihat rona murung di wajah Emak?

Emak pasti tahu aku merasa kehilangan. Sejak kepergian Bapak, aku tak lagi dapat ke mana-mana—Muara Bio, Ludai, Bukit Cahaya, bahkan Batu Dinding. Biasanya, saban sore aku akan bermain di tepi sungai, menemani Bapak yang asyik memancing ikan toman. Aku juga senang berlari-lari di bawah hamparan pohon kelapa dan gugur daun ketapang, sambil sesekali kupanggil Emak yang duduk di teras rumah, sembari berkaca mencari kutu-kutu yang hinggap di kepalanya.

Aku begitu lasak, tidak akan berhenti meski bebatuan sungai yang tajam menusuk kakiku. Emak selalu tersenyum ketika melihatku mendongak langit, berusaha menggapai awan. Meloncat dan terjatuh. Aku bahagia. Aku tidak peduli sakit.

***

“Aku akan bekerja di kota.”

Sebagai istri, aku diam. Aku sudah tidak mengenali kata maupun bahasa tubuhnya.

Laki-laki itu hanya duduk di lantai ruang tamu, sedang aku sibuk menanak nasi di dapur.           “Apa kau tak dengar? Aku akan bekerja di kota. Berbahagialah!”

Ia tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu. Menatap padaku dengan senyum semringah.

“Apa bedanya, tak berjejak dan tak mengubah segalanya. Kita tetap akan miskin.”

Dia menyentuhku, meraba bahuku sambil berbisik. “Aku akan pergi jauh seperti kehendakmu, Istriku.”

“Aku tak pernah memintamu pergi. Jangan jadikan aku sebagai alasan untuk kau meninggalkan keluarga ini.”

Kutepis tangannya yang hendak memelukku. Ia mundur.

“Aku hanya memintamu bekerja. Setelah kau jadi pengangguran karena tutupnya perusahaan di belakang rumah kita. Semuanya berubah. Bahkan untuk membeli beras saja, aku harus berutang. Sebentar lagi anak kita masuk sekolah, Pak. Janganlah uang menjadi persoalan untuk menghentikan mimpinya. Sudah cukup Desi membantuku di rumah, karena kau tidak mampu menyekolahkannya.“

Sama sekali tak kupandang kedua mata itu, semua mendadak sunyi, hanya ada suara napasnya tersengal-sengal. Tungku api berubah merah padam.

“Izinkan aku pergi ke kota.” Dia meminta sekali lagi.

“Tanpa izinku, kau tetap akan memilih pergi. Semua keputusan kuserahkan padamu. Pergilah! Pergi ke mana pun kau mau. Jangan kau khawatirkan anak dan istrimu ini! Tiap hari kami akan makan kangkung tumis serta salai kering yang kujemur di genteng rumah. Biarlah pintu rumah ini selalu tertutup, agar tak ada yang bertanya ke mana suamiku pergi.”

Bisa kurasakan air mata mengalir deras dari kedua pipiku.

“Kau juga tak akan peduli terhadap air mata yang sebenarnya memaksamu untuk tetap tinggal. Pergilah, Pak.”

“Tapi aku sudah tidak kuat.”

“Tidak jika kau berusaha, Pak.”

“Kurang apa lagi usaha yang kuberikan untuk keluarga ini?” Nada bicaranya mulai meninggi.

“Pak, sadarlah! Sudah banyak luka kau berikan kepadaku.” Sekarang giliranku yang menatapnya. “Sadarlah, setiap malam aku selalu menangis dan menyesal memilih hidup bersamamu. Tapi ketika pagi datang, aku berusaha memaafkanmu. Takkah ada secercah penyesalan di hatimu? Tidakkah kau paham atas segalanya? Atap rumah kita telah berlubang dan rintik hujan terus menerobosnya, siapa yang memperbaikinya? Aku yang meminjam tangga milik tetangga kita dan memanjat atap rumah. Aku yang memperbaikinya, aku yang menempelkan atap sisa di atas sana. Sedang kau hanya tidur pulas di ruang tengah, seperti tidak mendengar kasak-kusuk, seolah tak menghiraukan rutukku. Suami macam apa kau ini, Pak?”

“Kau membenciku! Kau benar-benar membenciku. Aku akan pergi ke kota!” “Terserahlah! Tinggalkan kami! Tinggalkan Desi!”

Sekarang lelaki itu benar-benar bisu, hanya dengus kesalnya yang masih kudengar menggerutu saat masuk ke dalam kamar, sedang nasi yang kubuat sudah masak.

***

Sebagai penduduk asli desa di hulu Sungai Subayang, aku tentu mengenal keseharian warga: Memancing, memanen sayur kangkung, memberi makan ikan atau sekadar memandu sapi-sapi ke tanah lapang. Aku juga tahu benar kesibukan Bapak, duduk di teras sambil ngopi dan memandang ke hilir sungai. Sesekali dia menyapa para nelayan yang lewat. Begitulah Bapak sepanjang hari, terlebih jika dia membaca koran bekas lalu tertidur hingga sore.

Semua orang desa tentu kenal Bapak sebagai orang yang ramah senyum, tetapi tidak bagiku. Aku lebih tahu tabiat Bapak dibandingkan orang-orang. Bapak bosan untuk tidak mengerjakan sesuatu sejak perusahaan di belakang desa kami ditutup. Dia sering kali diam, melamun sekadar memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil ini. Masalahnya, dia tidak bisa jadi nelayan, karena bapak gampang capek dan pingsan. Ia bahkan tidak tahu cara beternak, hewan-hewan kecil sekali pun pasti ia tinggalkan begitu saja.

Yang dia tahu, hanya menjagaku.

“Desi harus jadi anak yang sukses.” Bapak mengusap rambutku begitu pelan pada suatu malam.

“Apa Bapak selalu ada untuk Desi?”

“Sampai kamu besar, Nak. Sampai kamu besar.”

Kami sama-sama berbaring. Kupandangi langit-langit kamar yang usang, penuh batang kayu menguning juga sarang laba-laba. Namun Bapak masih mengusap rambutku, semakin pelan, penuh kasih sayang. Aku lihat sesekali ia menguap, lalu sekali lagi mencium keningku sebelum beranjak pergi.

Aku tertidur sendirian.

***

Hek lala nak lailah nak lahailolah

Lolok batimang nak dalam buaian

Nak omak atik kan nyia nak.

Apak olun baliak lai

Jan isau jan comeh

Loloklah nak, loloklah.*

“Tidurlah, Desi. Emak sudah mengantuk. Bukankah kakimu masih sakit karena tertusuk batu-batu sungai?”

“Emak tidur saja, jangan hiraukan aku. Kakiku tidak sakit.”

“Tidak, Desi. Kamu harus tidur lebih dahulu sebelum emak. Jangan takut, Emak akan menjagamu.”

“Aku ingin dijaga Bapak.”

“Bapak akan pulang, Nak.”

Desi membisu, dia tak menggubris kehadiranku, matanya merah namun kosong. Ia benar-benar sudah mengantuk.

“Tidak, Bapak belum pulang, sebab itu aku akan terjaga.”

“Bapak hanya pergi sebentar ke kota, Nak. Sebentar saja.”

“Jika sebentar, kenapa Bapak meninggalkan kita?”

“Bapak tidak pernah meninggalkan kita, Desi.”

Kupeluk erat tubuh kecilnya. Ada basah serta isak kecil terdengar, Desi menangis.

“Mengapa Bapak pergi, Mak?” Suaranya lirih. Aku terdiam, kupeluk gadis kecil itu lebih erat.

Aku tak tahu, bagian mana yang belum kusentuh dalam hidup Desi, sehingga aku, ibunya sendiri, menjadi tokoh yang asing baginya. Kucoba tatap wajahnya yang basah, bekas air mata membekas di bajuku, ingus yang meleleh. Tapi dalam kesedihan itu, ia balik menatapku dengan sinis, seperti menahan sebuah kebencian.

Ia menggelinjang.

“Desi tahu Bapak sudah punya keluarga lagi, Mak.” Tangisnya pecah.

Aku sudah tahu hal itu lebih dulu darimu, Nak.

***

Kalau saja Emak bijak, pasti ia akan mengerti alasanku menunggu Bapak sampai selarut ini. Saat aku menemani Bapak di perusahaan tempat ia bekerja, seorang perempuan paruh baya datang menyalami tangan Bapak, seperti Emak menyalami Bapak—penuh kasih sayang. Di balik tubuhnya, ada seorang anak sebayaku. Anak itu juga menyalami Bapak, lalu Bapak dengan bahagia menggendong juga menciumnya. Bapak seakan lupa bahwa aku sepanjang waktu ada di sana. Mereka tertawa bersama. Aku cemburu, Mak.

Iya.

Bukan sekali dua kali kejadian ini kusaksikan. Saat hendak mengantar lauk untuk makan siang Bapak, kulihat ia sedang lesehan di sebuah warung, bersama ibu itu yang asyik berbaring di pahanya. Bapak mengelus rambutnya begitu mesra, Mak, sungguh aneh bagiku. Tapi, yang paling membuatku luka hati, Bapak kerap kali memberi anak ibu itu uang jajan. Aku tidak mengenal dia, bahkan kami tak pernah bermain bersama, tapi ia selalu memamerkan dengan gembira uang yang Bapak berikan. Aku membencinya.

***

“Desi, tidurlah, Nak.”

“Tidak, Mak. Tidak! Desi akan menunggu Bapak pulang dari hilir,” dia terus menegaskan bahwa akan tidur setelah bapaknya pulang.

“Desi, tidurlah!”

“Tidak, Mak! Mengapa Emak selalu memaksa? Apa Emak tidak merasakan kehilangan seperti yang Desi alami? Desi mau Bapak pulang, Mak!”

Desi belum tahu, bahkan Tuhan dan seluruh malaikat di langit tak tahu—atau mungkin tak peduli—dengan apa yang kualami: Suamiku pernah membawa wanita dari kantin perusahaan tempat ia bekerja, tepatnya ke rumah kami. Memang, aku sedang tidak ada, tapi ada yang aku tahu, bahkan lebih dari siapa pun.

Berawal dari kunjunganku ke rumah Mamak yang sedang sakit di seberang desa—kabarnya itu sakit tua. Hingga ketika aku memilih untuk pulang pada pukul dua pagi, aku langsung lemas begitu tiba di muka pintu. Sebab, kudengar suara sepasang kekasih dari dalam rumah, begitu mesra namun memilukan. Aku hanya terduduk, menahan tangis sekaligus amarah di teras rumah. Entahlah. Aku begitu takut, hingga aku terlelap dan terbangun di pagi berikutnya. Pintu terbuka lebar, suamiku sedang duduk di ruang tengah bersama secangkir kopi yang entah dibuat siapa.

“Mengapa kau tidur di luar?”

Iya, begitulah suamiku. Matanya lihai menyimpan rahasia, tapi aku mengetahuinya. Bahkan lelaki itu tak lagi menyukai kopi buatanku. Kini ia hanya mencintai Desi, dan aku tahu benar dia tak lagi mencintaiku.

Aku tak pernah menginginkan kehadiran wanita itu. Aku memendam dendam padanya sejak kudengar erangan binal di dalam rumahku. Aku membencinya.

***

Sudah kuduga, Emak tidak pernah mencintai suaminya. Mereka sering bertengkar dan berselisih paham. Pastilah Emak telah mengusir Bapak. Emak yang menyuruh Bapak pergi.

Aku tahu, Emak begitu membenci Bapak yang sering malas-malasan di rumah. Emak sering menatap sinis kepada Bapak yang asyik tidur pulas di ruang tengah dengan telanjang dada dan perut buncitnya. Ia akan mengangkat gelas kopi milik Bapak yang telah habis, tinggal sisa hitam pekat. Lalu mengerang penuh rasa muak sambil merapikan koran-koran bekas yang berulang kali bapak baca.

Ia tutup pintu juga jendela-jendela agar sengat panas matahari tak membangunkan tidur nyenyak Bapak. Namun aku tahu, aku kenal rasa malu Emak ketika orang-orang lewat di halaman rumah dan Bapak—yang baginya tak berguna—justru enak mendengkur dengan suara memekakkan telinga. Lagi-lagi ia mengerang penuh muak. Begitulah saban hari berulang-ulang.

Ah, hidup Bapak yang berat. Lambat laun aku tahu bahwa seluruh orang desa mulai membencinya. Ya, Bapak telah membuang harga dirinya. Ia telah menjual tanah ulayat kepada perusahaan tempat ia bekerja, tanpa rapat adat bersama ninik mamak. Bapak dan teman-temannya menebang pohon sialang, mengusir habitat harimau sumatera, bahkan membuang limbah pada Sungai Subayang. Ikan-ikan mati. Belum lagi asap-asap produksi dari perusahaan yang terus menggerus paru-paru kami. Bagaimana tidak Bapak memilih untuk pergi, bila seluruh sumpah serapah dan segala kutukan hanya untuk menyakiti hatinya.

***

Bagaimanapun juga, ia tetap suamiku. Ia bapak dari anakku, Desi. Serindu-rindu Desi pada bapaknya, aku tak dapat menunjukkan seberapa besar rindu juga menghimpit hatiku di antara kebencian.

Aku juga merindukannya, rindu tubuh hangat itu. Aku jelas ingat aroma keringat tubuhnya. Lalu pelan suaranya yang kadangkala membuatku merinding tiap kali ia berbisik. Dialah alasan aku ada di desa ini, dia yang mengenalkan Rimbang Baling kepadaku, dia yang meyakinkan bapak ibuku di kota, hanya untuk bisa membawaku jauh ke dalam hutan Bukit Barisan dan peradaban masyarakat adat.

Dulu sekali—jauh sebelum perusahaan datang ke desa kami—ia adalah tokoh adat yang bijaksana. Sering kali, suaranya dijadikan pilihan terakhir dalam berbagai masalah. Tak jarang, orang-orang desa mengantarkan sepiring ubi rebus atau segelas manisan kolang-kaling hanya untuk sebuah doa darinya.

Lalu, kedatangan Desi bagi kehidupan kami menambah kecerahan keluarga ini. Ia sembelih satu ekor sapi untuk merayakan kelahiran Desi. Kami masak kalio daging dan mengantarkannya ke seluruh rumah di penjuru desa. Doa dan acara pengajian dilakukan dua malam di rumah kami. Tepat 40 hari kelahiran Desi, kami melakukan tradisi turun mandi, bersama ninik mamak yang membasuh rambut Desi dengan aliran Sungai Subayang. Hari-hari yang berjalan, seperti bintang-bintang berpendar pada tiap pucuk pohon hutan.

Tapi, hari-hari itu pudar sejak suamiku sering pergi ke kota sendirian. Mengendarai piyau dengan terburu-buru. Ia kerap membisu atas pertanyaan yang selalu kutujukan padanya.

“Ke mana Bapak pergi?”

“Apa yang akan Bapak lakukan?”

“Siapa yang Bapak temui?”

Diam hanyalah jawab yang selalu ia berikan.

Dia telah jadi orang lain, bukan lagi laki-laki yang kukenal sebelumnya. Tubuh yang tak lagi beraroma parfum murahan. Ia mulai membuang seluruh baju kusam di lemari dan menggantinya dengan barisan kemeja rapi. Dia juga mulai merokok sangat banyak sampai bungkus-bungkusnya bersepah ke seluruh penjuru rumah. Bapak sering pulang malam dan tidak tidur di kamar kami, tidak lagi tidur bersamaku.

Setiap pagi, ia akan bangun dan meminta kopi hangat segera hadir di meja tamu. Ia akan mengamuk dan berkata kasar bila secangkir kopi terlambat semenit saja ia dapatkan.

“Lama sekali kau buatkan kopiku! Apa gula sudah habis? Apa kopiku sudah habis? Bukankah aku selalu memberimu uang? Bukankah kita selalu berkecukupan? Ke mana uang-uang itu kau pakai? Ah!”

Sampai beberapa hari, marahnya tak kunjung reda. Hingga orang-orang dari kota datang dengan menjinjing surat penuh perjanjian. Aku tak kenal mereka, tetapi suamiku begitu akrab. Mereka bercakap-cakap di ruang tamu, lalu berjalan kecil ke belakang rumah, tertawa bersama, makan siang lalu pulang entah ke mana. Suamiku sekilas gembira. Ia tak berhenti tersenyum, sampai orang kota itu kembali bersama alat-alat besar. Mereka dirikan gedung besar di tengah hutan, merusak hutan kami, merusak kami.

***

Desi mau Bapak pulang!

Desi rindu suara serak Bapak. Desi rindu Bapak.

Pulanglah, Pak!

Desi tidak pernah membenci Bapak.

***

Aku tidak pernah menginginkan Desi membenci bapaknya sendiri. Biarlah aku yang memendam kesedihan dan seluruh kemarahan warga desa atas dosa bejat suamiku. Biarlah aku yang menanggung malu, lambat laun aku pasti memaafkannya.

Sebab seluruh dukaku sudah terbalas: Ketika matahari puas membakar ubun berikut isi kepalaku, tepat saat Desi sudah tidur pulas selepas memancing ikan. Aku berjalan menuju perusahaan di belakang desa, dengan menjinjing tempat makan berisi asam podeh baung beserta ulam pucuk rebung kesukaan suamiku.

Pelan. Perlahan.

Tidak ada orang yang menjaga gerbang perusahaan. Biasanya, aku hanya mengantar makan siang sampai pos. Tapi kali ini berbeda, aku diam-diam menyusup ke gedung belakang kantor, di mana terdapat sebuah kantin besar dengan para buruh yang asyik bersantai dan terlelap. Aku menuju dapur, menatap sinis kepada wanita yang tengah sibuk menggoreng ikan dengan api besar dan kuali penuh minyak. Api menyala tenang. Ia menoleh. Matanya mengenaliku, sebelum mulutnya sempat menyebut apa-apa.

Setelah itu, semua diam. Dunia kehilangan suara.

Yang kuingat, kuali yang terbalik dengan minyak luber ke mana-mana. Api menjalar hingga pintu dan kaki meja. Bau hangus, bau sekali, memenuhi hidungku. Orang-orang berlari. Dan aku sadar, bahwa tanganku tiba-tiba bukan lagi seperti tanganku.

Aku pulang sebelum asap mengepul dan menelan bangunan belakang kantor itu. Sepanjang jalan, Sungai Subayang memantulkan kilat kemerahan di kejauhan. Airnya mengalir seperti biasa, sedang aku berjalan pelan dengan sedikit tergesa-gesa, menuju rumah. Berharap Desi belum bangun, lalu bertanya mengapa aku menjinjing parang milik bapaknya.

***

“Tidurlah, Desi.”

“Tidak, Mak. Tidak!”

“Apalagi yang kau tunggu dari bapak?”

“Aku mau menagih titipan. Sebelum Bapak pergi, aku telah memintanya menagih uang dari anak ibu itu. Bapak berjanji mengambil kembali apa yang telah ia berikan kepada anak itu. Ia telah berutang padaku, Mak! Anak itu berutang! Aku tidak akan pernah tidur sampai uang itu kembali!”

“Bahkan apa pun yang kau minta tak akan pernah kembali, Desi. Yang sudah pergi, tidak selalu tahu jalan pulang. Tidak juga kita!” []

2020-2026

* Batimang (bertimang) adalah kearifan lokal daerah Kampar Kiri Hulu, biasanya berisi pesan-pesan atau amanat yang disampaikan kepada anak-anak setiap menjelang tidur.

*Piaw: Perahu (Kampar Kiri Hulu)

Muhammad Ade Putra, peraih Anugerah Kebudayaan Indonesia 2017. Mahasiswa Magister Antropologi Universitas Gadjah Mada. Penulis buku kumpulan puisi “Suara Ibu yang Lain.” Tengah menggagas karya kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat “Amakku Subayang, Subayang Amakku.”
Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news