Suatu Hari Murti Ingin Berfotosintesis

18 hours ago 6

Kala matahari berada tepat di pucuk kepala, Murti akan membuka baju dan bersila persis di tengah-tengah halaman belakang. Kedua tangan dicakup depan dada, manganjali, layaknya orang yang sedang bermeditasi demi sebuah pencerahan batin dan rohani. Ia sangat taat terhadap lakon ini. Bahkan, menurut hemat saya, para guru-guru spiritual pun kalah disiplin dari padanya.

Nanti, ketika matahari mulai tampak bulat-bulat dilahap horizon, ia baru akan membuka mata. Bangun. Mandi. Lalu beranjak tidur dengan posisi telentang tanpa alas kepala. Katanya, posisi ini membuat udara lebih leluasa terhirup dan terhela hidung.

Belakangan bahkan ia bilang telah bisa merasakan keluar masuknya udara-udara itu melalui celah pori tubuh. Layaknya orang bernapas, tapi menggunakan kulit sebagaimana yang dilakukan para amfibi seperti salamander dan katak.

Memangnya benar begitu? Ah, aku pun tak tahu. Tapi apa pun pendapatmu, Murti tidak akan tergoyah keyakinannya. Dia bilang, Tuhan sudah mewisikkan mandat itu untuk dilakoni, demi mendapat kualitas hidup terbaik.

Murti orang yang pandai. Terbukti dari hapalan-hapalan di kepala yang masih sangat ia ingat, meski sudah sepuluh tahun menamatkan sekolah menengah.

“Fotosintesis adalah proses pemasakan makanan oleh tumbuhan dengan menggunakan bantuan cahaya matahari,” kelakarnya kala aku tanya apa yang sedang ia lakukan saat duduk bersila di bawah terik matahari di jam dua belas tepat.

“Memang kau tumbuhan? Punya klorofil?”

“Ah, mainmu kurang jauh. Kau tau apa? Aku ini pemenang Olimpiade Biologi Nasional.” Mimik Murti mulai keliatan serius, membuatku tergelak.

“Kau jangan ketawa saja, sini kukasih tau!” Ia mendekat dan berbisik.

“Sebenarnya manusia memiliki zat yang secara struktur molekul sangat mirip klorofil. Ialah heme. Jika klorofil adalah darah hijau bagi tanaman, maka heme adalah darah merah mamalia.”

Sungguh, awalnya aku bahkan tak mempercayai ucapan yang seperti bualan tersebut. Namun betapa tercengangnya aku ketika Murti menanyakan kebenaran teorinya pada para cendikiawan berjas putih yang kebetulan lewat di lorong. “Benar. Saya sudah mempelajarinya di bangku kuliah. Klorofil bekerja layaknya hemoglobin.”

Bahkan, masih menurut mereka, berjemur berkorelasi (meski secara tidak langsung) dalam proses pengedaran sari-sari makanan melalui pembentukan heme.

Sinar matahari mengubah provitamin D menjadi vitamin D yang membantu tubuh memproduksi heme dan zat besi. Selanjutnya heme berikatan dengan protein globulin yang dihasilkan ginjal, lalu jadilah hemoglobin.

“Kau tau sobat? Jika ginjalmu rusak atau kurang sinar matahari, kau akan anemia, pucat. Tidak ada globulin mau pun heme yang dibentuk tubuhmu.” Begitu nasehat Murti. Selalu dan selalu.

Sejak saat itu, Murti semakin semangat mengasimilasi karbon. Dan setiap kali dia duduk di tengah halaman untuk berfosintesis, aku akan menunggu di pojok lorong tergelap. “Hei Murti, jangan sampai kau menyesal. Sinar matahari membakar kulit sampai gosong, nanti wajahmu dipenuhi bitnik hitam hiperpigmentasi.”

“Ah, kau hanya korban iklan-iklan tabir surya. Lihat kulitmu pucat seperti anemia begitu. Bandingkan denganku. Lebih segar bugar. Sepertinya sari-sari makanan yang masuk ke perut, diserap sangat optimal, hingga sampai ke tingkat atom dan quark.” Murti tersenyum puas. Matahari sudah terbenam, saatnya mengakhiri fotosintesis hari itu.

“Sejak kapan kau berpikir untuk berberfotosintesis?” Langkahku memburunya.

Murti diam sejenak. Mengingat-ingat. Lalu mulai bercerita.

***

Begini…

Tahun 1990, Bapak memboyong kami dari rumah tua ke rumah pondok. Disebut rumah pondok, karena bangunan tersebut hanya satu-satunya yang tumbuh, di tengah permadani padi dan kebun jagung yang menghampar luas.

Alasannya, hanyalah karena Bapak seorang pelukis. Dia butuh lebih banyak suasana tenang yang jauh dari perkampungan desa agar bisa melukis. Ah, atau mungkin, itu hanyalah perkataan asal-asalan.

Sebab, kepindahan itu terjadi sesaat setelah pamanku menikah sehingga rumah tua itu kemudian diisi lebih banyak penghuni. Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, aku, Paman, dan Bibi yang saat itu tengah mengandung. Rumah tua jadi semakin sesak. Terlebih satu dapur untuk sekeluarga.

Kadang Nenek mengomel karena gerabah berisi beras mulai mengering, tapi tak ada yang beranjak mengisinya. Atau kala Ibu punya ikan yang hendak difillet lalu digoreng tepung, Nenek malah telanjur menjadikannya pepes. Atau juga saat Bibi menaruh jajan uli di dapur untuk dimakan nanti, jajan itu sudah hilang saja. Disangka Ibulah yang mengambil.

Letupan-letupan itu macam petasan murah saja. Kecil-kecil tapi lama kelamaan berisik juga. Akhirnya karena tidak tahan, Ibu membujuk Bapak untuk memboyong keluarga kecilnya tinggal di rumah pondok.

Suatu siang, Ibu merapikan sekeranjang baju-baju yang barusan disetrika. Disodorkannya padaku sepiring pisang goreng hangat agar aku tidak mengganggu pekerjaannya. Butuh waktu dua hari lebih bagi Ibu untuk menyelesaikan gunungan setrikaan di sela-sela masak, sapu-pel, hingga mengajariku PR.

Tapi, sepertinya Ibu memang sengaja menunda-nunda. Sebab, pernah dikatakan menyetrika benar-benar pekerjaan membosankan. Tidak semenarik mencabuti rumput-rumput pada pot mawarnya yang tumbuh subur dan rimbun. Tidak juga semenyenangkan pergi ke pasar dan memilih ikan atau sayuran aneka warna.

Selepas menghabiskan sepiring pisang goreng hangat sambil tiduran di teras bale, aku dan Ibu mendengar jeritan lirih dari pekarangan sebelah. Jeritan itu bukan suara manusia, melainkan sapi yang melenguh keras-keras.

Ibu segera ke sana. Ke sumber suara. Takut sendirian, aku pun mengekor di belakang Ibu. Siapa pula yang mau tiduran sendiri di teras bale yang tak memiliki tetangga kanan-kiri-depan-belakang?

Kata Bapak, pekarangan sebelah pondok kami milik seorang pegawai negeri yang sibuk. Di lahan seluas sepuluh are itu, ia melepas tujuh ekor sapi bali yang diikat di bawah pohon kersen yang disebar sebagai peneduh tanah. Sapi-sapi itu berwarna cokelat cerah yang bagian pantatnya putih terbelah. Mirip cermin saja.

“Mboo… Mboo…” Sapi-sapi itu riuh bersahut-sahutan. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Pekarangan itu terkunci gerbang kayu pendek sehingga kami tetap bisa melihat area dalam.

“Rupanya leher anak sapi itu terjerat tali yang tertaut tinggi pada dahan kersen,” gumam Ibu khawatir. Tidak ada cara selain harus masuk ke dalam. Menyelusup melalui celah-celah pagar batang singkong.

Ibu segera menyibak pagar singkong itu, dan aku mengikuti. Menyisipkan tubuh di antara celah demi dapat masuk ke dalam dan menyelamatkan anak sapi malang.

Ibu berhasil menyelamatkan leher anak sapi yang nyaris terpotong oleh jerat tali tambang. Tatkala Ibu sibuk menuntun anak sapi itu, ada satu rimbunan lain yang menarik perhatianku.

Di atas gundukan tahi sapi, jamur-jamur kurus berbatang putih dengan pentol kehitaman menyembul bergerombol. Aku penasaran. Memungutnya diam-diam, dimasak bersama mi instan, lalu memakannya.

***

“Sejak rutin mengonsumsi jamur itulah, aku mendapat banyak wangsit, salah satunya keharusan untuk berfotosintesis setiap hari. Jika tidak, aku berkeyakinan, mungkin saja aku bisa mati lebih cepat daripada batang toge yang kekurangan air.”

“Rasanya enak?” tanyaku penasaran.

“Hhmm… sebetulnya tidak. Malah ada sekilas aroma tahi sapi.”

“Tapi kenapa kau tetap memakannya?”

Murti berpikir sejenak, mencari-cari alasan kenapa ia tetap makan meski bau tahi menyeruak di antara aroma sedap mi instan rasa soto, Mungkin karena aku selalu rindu akan sensasinya,” gumam Murti seperti pada dirinya sendiri.

“Seperti apa? desakku penasaran.

“Seperti jadi lebih waskita. Aku bisa merasakan seluruh tubuh, kesadaran, hingga panca indra telah menyatu dengan alam semesta raya. Bahkan saat itu, bulan dan planet-planet ada di dalam rongga perutku. Beredar sepanjang zaman. Sebelum pada akhirnya musnah, dan terlahir kembali dalam siklus lahir-hidup-mati. Sebagaimana cerita Sang Krishna.”

“Ah… rupanya kau sudah melihatnya. Kelahiran dan kematian semesta.” Aku berdecak. Mata berbinar-binar.

Sungguh, pelepasan seperti itulah yang banyak orang lain harapkan dari berbagai ritual spiritual yang telah mereka lakoni. Namun, tetap saja tak pernah bisa sampai di tahap penyatuan seperti yang ia katakan.

“Jadi, itu adalah jalur ekspres menjadi lebih waskita…” Aku manggut-manggut, “Eh, bukannya itu dilarang undang-undang? Kau tahu, kan?”

“Waktu itu belum. Belum ada undang-undangnya. Sudah kubilang, itu terjadi di tahun 90-an, saat aku masih remaja ting-ting yang tinggal di desa terpencil.” Mata Murti mengarah pada langit lembayung.

“Ah, ngomong-ngomong soal larangan, sebelum dilarang, jamur itu kerap dipakai penganut Tantra zaman kerajaan dulu untuk alasan spiritual hingga pengobatan,” terangnya lagi.

Aku mengangguk mengiyakan. “Kudengar juga dipakai suku-suku di benua Amerika kuno bahkan hingga sekarang. Jadi, kita sudah setingkat lebih maju dari orang-orang ini.”

Para cendikiawan berjas putih itu menatap kami, sembari sesekali mencatat-catat sesuatu.

“Itu benar. Saking hebatnya, bahkan hingga kini, efek jamur itu masih terasa. Aku tetap bisa melihat yang orang tak lihat. Mendengar yang orang tak dengar. Mendengar dan melihatmu. Hahaha…” Murti tergelak seraya menudingkan telunjuknya padaku. Dari kacamata Murti, aku pun turut terbahak.

Iring-iringan cendikiawan itu, kemudian berlalu meninggalkan Murti yang masih saja tampak berbicara dan tertawa-tawa bahagia. Ada banyak yang seperti Murti disini, para manusia yang keranjingan candu.

Mereka selalu tampak berbicara dan tertawa-tawa bahagia. Sendirian.

Mereka memang selalu sendirian.

Lalu, di kesendirian itulah selalu ada aku dalam benak mereka. Menunggu di bagian lorong hati tergelap. Sangat-sangat gelap.

6 April 2026

Profil Singkat Penulis
Nityasa Wijaya lahir dan besar di Bali. Tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media. Karyanya yang lain sempat terpilih sebagai 30 Cerita Terbaik McDonalds Indonesia Tingkat Nasional 2022. Cerpen Buaian Rahim Patriarki (2023) masuk dalam “Tilik Karya 2024” yang diselenggarakan oleh Komunitas Art Theis de Cairo Universitas Al-Azhar Mesir. Merupakan salah satu dari 17 Cerpenis Terbaik Pilihan Kompas 2024, dengan cerpennya yakni Giri Tohlangkir (2024) yang telah dibukukan. Ia juga terpilih sebagai Finalis Emerging Writer Ubud Writers and Readers Festival 2026. Mari bersua di Instagram: Nityasa Wijaya, dan Facebook: Nityasa Wijaya.
Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news