Rupiah Menutup Hari di Rp17.890 Setelah Sempat Tertekan

9 hours ago 7

Jumali

Jumali Kamis, 23 Juli 2026 17:47 WIB

Rupiah Menutup Hari di Rp17.890 Setelah Sempat Tertekan

Ilustrasi rupiah. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih ditutup melemah pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Meski demikian, tekanan terhadap mata uang Garuda berangsur berkurang dibandingkan dengan kondisi saat awal perdagangan berlangsung.

Data Refinitiv menunjukkan rupiah ditutup pada level Rp17.890 per dolar AS atau terdepresiasi 0,08%. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan saat pembukaan perdagangan ketika rupiah sempat tertekan 0,20% hingga menyentuh level Rp17.910 per dolar AS.

Pergerakan rupiah sepanjang hari berlangsung cukup dinamis. Mata uang Garuda bergerak dalam rentang Rp17.875 hingga Rp17.928 per dolar AS sebelum akhirnya mengakhiri perdagangan di level Rp17.890 per dolar AS.

Rentang pergerakan tersebut menunjukkan aktivitas pasar yang masih tinggi seiring respons pelaku pasar terhadap berbagai perkembangan ekonomi dan geopolitik yang menjadi perhatian investor.

Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat atau US Dollar Index (DXY) justru mengalami pelemahan.

Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar tercatat berada di level 101,069 atau turun 0,06%. Sebelumnya, pada perdagangan sehari sebelumnya, DXY juga ditutup melemah ke posisi 101,125.

Pelemahan indeks dolar biasanya menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun pada perdagangan kali ini, sejumlah sentimen lain masih memengaruhi pergerakan pasar domestik.

Pelaku pasar masih mencermati respons terhadap keputusan kebijakan moneter yang telah diumumkan Bank Indonesia (BI).

Selain faktor domestik, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih menjadi salah satu sumber ketidakpastian di pasar global.

Situasi geopolitik tersebut turut memengaruhi pergerakan aset keuangan dunia karena investor cenderung memantau perkembangan risiko yang dapat berdampak terhadap stabilitas ekonomi global.

Kondisi tersebut juga menjadi perhatian pelaku usaha yang memiliki kebutuhan transaksi berbasis dolar AS, mulai dari importir, eksportir, hingga sektor industri yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

Pergerakan nilai tukar rupiah turut menjadi salah satu indikator yang dipantau karena dapat memengaruhi biaya transaksi internasional dan aktivitas perdagangan lintas negara.

Sementara itu, perkembangan kebijakan moneter global dan arah pergerakan dolar AS masih menjadi faktor yang akan terus diperhatikan pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan, bersamaan dengan perkembangan situasi geopolitik yang masih berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news