Khairul JasmiSaya saja kaget karena tiba-tiba saya jadi “insinyur teknik,” menyeberang dari sarjana sejarah. Bersitungkin pula saya menghitung-hitung bersama kawan tentang bahan-bahan yang dipakai untuk Jam Gadang. Hasilnya: Jam Gadang menghabiskan semen, 20 ton, 16 ton di antaranya untuk betonnya saja. Dan, itu dari pabrik semen dari Indarung. Besi, sekitar tiga setengah ton. Pasir, mungkin empat puluh delapan meter kubik atau 70 ton. Batu kali, sekitar lima puluh meter kubik, barangkali seratus dua puluh ton. Dan, 90 ribu keping bata merah.
Saya tak percaya maka saya minta tolong kepada beberapa insinyur teknik sipil. Setelah ia baca dan analisa, jawabnya, “Ampia bana pres…indk ka barubah jauh angkonyo,” beberapa lainnya, jawaban senada. Saya lega.
Jam Gadang kita yang masih muda, meski sudah berusia 100 tahun itu, memakai semen, besi, pasir, batu dan bata, tak dapat disangkal lagi. Semua ini, bertolak dari kajian ilmiah Universitas Bung Hatta (UBH), Padang. UBH tidak menghitung volume bahan. Tim itu mengukur. Tinggi menara 28,295 meter. Lima lantai. Empat kolom beton bertulang berdiri di tiap sudut, mengecil ke atas. Di 80 sentimeter persegi menjadi empat puluh sentimeter di puncak. Tulangannya besi 18 milimeter. Kawat begel berdiameter 10 mm melilit tulangan tegak 18 mm di empat kolom. Taksiran kasar saya sekitar 480 buah. Mutu betonnya sekitar 25 MPa (MegaPascal), kalau ini asli dari UBH. Apa itu 25 MPa? Saya juga tidak tahu, pokoknya itu.
Menurut kali-kali saya semen dipakai kira-kira dua puluh ton. Di betonnya saja sekitar enam belas ton. Sisanya untuk spesi pengikat bata dan pondasi. Kalau yang ini, saya tahu: pada masa itu semen datang dalam vat atau tong kayu seberat 170 kilogram sesuai ukuran internasional, jadi bukan karung seperti sekarang. Maka Jam Gadang kira-kira menelan 90 – 120 vat semen.
Besi, sekitar tiga setengah ton. Mungkin 2,6 ton di antaranya tulangan; bila dibentang, panjangnya 2,4 kilometer. Sisanya, sekitar satu ton, baja profil H untuk balok yang menyatu dengan lantai. Plat H itu, seperti rel kereta api, atau memang itu yang dipakai.
Tapi, sepertinya tidak, sebab di Padang ada beberapa toko besi dan sudah lama ada. Hampir tiap hari beriklan: Sebuah kedai bernama “IJzerhandel” (perdagangan besi) di Schoolstraat nomor 14, Padang, telepon 369. Pengelolanya seorang Tionghoa, Gho Lay Kiong. Dalam iklannya di Sumatra-bode, 7 Januari 1926 itu, ditawarkan “segala jenis besi batang”, alle soorten staaf-ijzer, di samping aneka bahan pipa air dan kursi besi.
Kemudian pasir, sekitar 48 m3 atau sama dengan tujuh puluh ton. Sebagian larut dalam beton, sebagian dalam adukan tembok, sisanya dalam plesteran dan pondasi. Batu kali, sekitar 50 meter kubik, barangkali 120 ton, tertanam diam-diam sebagai pondasi prisma sampai hampir dua meter ke dalam tanah liat. Prisma itulah yang menahan menara tegak dan saat gempa dua kali hanya miring tak sampai satu derajat. Tidak retak.
Lalu bata. Inilah yang paling banyak: kira-kira 90 ribu keping bata merah, masing-masing 18 x 13 x 5 cm, disusun jadi dinding setebal 64 cm di bawah, menipis ke atas. Haha… ini perkiraan saya, bukan oleh tim ahli. Kalau mau angka pasti, perlu gambar kerja 1926, saat Jam Gadang dibuat, yang sampai kini belum saya temukan. Tetapi, dari ukuran yang dicatat para insinyur Bung Hatta, beginilah kira-kira sebuah menara dibangun: dua puluh ton semen, tiga setengah ton besi, tujuh puluh ton pasir, seratus dua puluh ton batu dan sembilan puluh ribu bata. Berdiri sejak 1926, menunjuk waktu sampai hari ini.
Ringkasan dokumen ahli
Dari dokumen yang saya peroleh dari Universitas Bung Hatta pada Minggu (7/6/2026), terbaca ada rekomendasi rehabilitasi Jam Gadang. Dan sepertinya sudah dilakukan. Hasil rapat pembahasan penelitian/survei Jam Gadang, 6 April 2010 itu memuat dokumen kebijakan/konservasi dari Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI).
Saya juga mencari dan dapat dokumen The Construction and Structure Reliability of Jam Gadang: The Heritage of West Sumatra. Ini paper teknik oleh Khadavi & Yulcherlina, Teknik Sipil Universitas Bung Hatta, serta beberapa dokumen lainnya.
Lalu dari mana saya sok tahu soal Jam Gadang memakai semen dan besi? Dari catatan klarifikasi yang disarikan dari Laporan Pemeriksaan dan Investigasi Struktur Jam Gadang, Laboratorium Teknologi Beton & Struktur Universitas Bung Hatta. Ini, berakar dari penyelidikan menyeluruh oleh BPPI bekerja sama dengan Shared Heritage Program Belanda pasca gempa, dengan tim dari Balai Konservasi Borobudur, Laboratorium Sipil & Beton Universitas Bung Hatta dan BP3 Batusangkar.
Makalah Khadavi & Yulcherlina telah saya baca dan dalam tulisan sebelumnya sudah dijelaskan pula. Inilah dia: Khadavi, K., & Yulcherlina, Y. (2018). The Construction and Structure Reliability of Jam Gadang: The Heritage of West Sumatera. Jurnal Rekayasa Konstruksi Mekanika Sipil (JRKMS), 1(1), 9–18. https://doi.org/10.54367/jrkms.v1i1.232 (di versi jurnal ini afiliasi kedua penulis tertulis Fakultas Teknik Universitas Katolik Santo Thomas, sedangkan pada naskah PDF tertulis Universitas Bung Hatta.)
Membantah Mitos Utama
Mitos populer: Jam Gadang dibangun tanpa besi dan tanpa semen, hanya kapur, pasir dan putih telur, sudah saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya. Namun, bia tarang bak bulan, janiah bak langik, diperdalam sekali lagi. Saya sudah membantah mitos itu dalam, https://www.hariansinggalang.co.id/berita/243221/meluruskan-kesalahan-fatal-jam-gadang.
Sumber-sumber ilmiah di atas membantahnya secara langsung: Struktur utama, beton bertulang (portal terbuka), bukan pasangan bata murni. Empat kolom beton bertulang di tiap sudut, mengecil ke atas (800×800 mm menjadi 400×400 mm), dengan tulangan memanjang 18 mm dan sengkang 10 mm. Balok dan pelat berupa struktur komposit baja profil H. Dinding bata hanya partisi/pengisi, tidak memikul beban dan tanpa angkur ke kolom, kecuali dinding khusus lantai lima yang sengaja dirancang sebagai dudukan mesin jam. Apa itu angkur? Angkur, besi penambat/pengikat yang menyambungkan satu elemen bangunan ke elemen lain, seperti ikat pinggang bapak-bapaklah. Misal besi yang menancap dari kolom beton masuk ke dalam pasangan bata, supaya dinding “terikat” menyatu dengan kolom. Dalam konteks Jam Gadang, ini justru poin penting. Tim Bung Hatta tidak menemukan angkur antara dinding bata dan kolom beton. Maknanya: dinding bata hanya mengisi ruang di antara kolom, tetapi tidak diikat/disatukan dengan rangka beton. Itulah sebabnya dinding itu disebut partisi/pengisi, bukan pemikul beban. Berdiri sebagai sekat yang secara struktur terpisah dari kolom.
Tidak adanya angkur memperkuat gambaran, rangka beton bertulanglah (kolom + balok) yang memikul Jam Gadang, sedangkan bata hanya kulit pengisi. Implikasinya, framing “tanpa besi-semen” tidak didukung bukti. Semen justru menjadi perekat struktur (spesi pengikat bata) di semua lantai; kapur hanya pelapis/plesteran permukaan dan itu pun terbatas pada lantai 1–3. Belum kita temukan putih telur. Semua mitos ini dimuat di web Pemko Bukittinggi. Semen lemnya, kapur cat dindingnya. Yang menyatukan bata menjadi tembok kokoh sebagai perekat strukturnya adalah semen di semua lantai. Yang melapisi permukaan agar halus dan rapi sebagian besar masih memakai kapur.
Seluruh dinding sudah memakai mortar (campuran pasir dan semen) sebagai perekat antar-bata. Berlaku untuk siar vertikal maupun horizontal, dengan ketebalan 1,0–1,5 cm. Inilah perekat yang menahan kesatuan struktur dinding dan bukan kapur. Lantai 1, 2, dan 3: plesteran penutup permukaan memakai kapur. Lantai 4: plesteran memakai mortar/semen. Pondasi batu kali juga diikat dengan mortar (pasir dan semen).
Catatan kritis tim UBH
Yang retak diperbaiki dengan metode injeksi dinilai tidak tepat. Material injeksi berbasis semen jauh lebih kuat dan getas dibanding pasangan bata yang sebagian masih berplester kapur. Ketidakhomogenan ini justru berpotensi memicu retak baru di sepanjang injeksi. Rekomendasinya, gunakan mortar yang mutunya didekatkan dengan mortar lama (existing), bukan semen yang jauh lebih kuat. Kesimpulan tim pasca gempa 2009, tidak ada kerusakan struktur, kondisi keseluruhan aman. Kemiringan di bawah 1 derajat (ambang 3,6 derajat); defleksi maksimum 63 mm di bawah batas 83,7 mm.
Tidak ada retak baru pasca gempa 2007 dan 2009; kerusakan hanya pada plesteran. Tidak perlu perkuatan struktur, cukup perbaikan plesteran (material sesuai asli), pembersihan, dan pengecatan dengan cat organik yang “bernapas”. Direkomendasikan pengurangan beban: bongkar keramik tambahan (kembali ke lapisan PC + floor hardener), bongkar lantai balkon, ganti tangga besi dengan tangga ringan menyerupai aslinya dan batasi pengunjung naik. Atap tetap dipertahankan sebagai bentuk gonjong (kondisi terakhir), namun kayunya mulai lapuk dan perlu segera direhabilitasi.
Peserta Rapat 6 April 2010
Tim ilmiah dari UBH dan BPPI mungkin rapat 6 April 2010 yang hadir 24 orang, saat gempa baru saja reda. Jam Gadang harus diperiksa dan orang-orang yang paham duduk di satu meja. Yang memimpin Drs. Khairul, Ketua Team Pengarah Rehabilitasi Jam Gadang (Pemko). Hadir Jusra Adek, Wakil Ketua DPRD; Ir. Melwi Zardi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Juni Amri, SH, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Merekalah tuan rumah, yang menanggung menara itu sehari-hari.
Dari Jakarta datang Badan Pelestarian Pusaka Indonesia. Ketuanya, Dr. Setyanto P. Santosa. Wakilnya, Dra. Pia Alisjahbana. Direktur eksekutifnya, Ir. Catrini P. Kubontubuh, M.Arch. Merekalah yang menggerakkan penyelidikan, bersama Shared Heritage Program dari negeri Belanda. Lalu para ahli, orang-orang yang benar-benar membaca tubuh menara. Dari Universitas Bung Hatta, Ir. Jonny Wongso, M.Arch., dari Pusaka, dan Ir. Khadavi Mahyuddin dari Laboratorium Beton dan Sipil, tangan yang kemudian menulis laporan tentang beton bertulang itu. Dari Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Amrinsyah Nasution, pakar struktur. Dan, para konservator, yang menggali dan mencatat. Drs. Budi Istiawan dan Ismijono dari BP3 Batusangkar. Bramantara, ST, dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, yang biasa merawat candi, kini menengok sebuah menara.
Di meja itulah Jam Gadang dibedah di atas kertas. Dan, dari situlah lahir keputusan: menara ini tak perlu diperkuat, hanya dirawat. Masih kuat. Dan laporan tim itu yang saya baca. Pak Walikota Bukittinggi, mungkin luput dengan dokumen tersebut.
Dan, saya sudah lama membantah semua mitos itu, tapi tidak viral, meski ditulis di media yang sama: Singgalang. Kebetulan sekarang HUT Jam Gadang ke-100, saya tulis lebih dalam dan dengan data yang aduhai, eee viral pula dia. Hutang ka saringgik juga, hari akan berjalan juga, saya tambah satu lagi soal Jam Gadang. Lebih dalam, lebih mencakau – menurut saya sih – agar ke depan Jam Gadang tidak lagi dibalut mitos. Yang jelas-jelas sajalah lagi. (*)
Penegasan Soal Semen pada Struktur Jam Gadang
Berdasarkan Laporan Pemeriksaan dan Investigasi Struktur Jam Gadang, Laboratorium Teknologi Beton dan Struktur Universitas Bung Hatta (BPPI – Shared Heritage Program, 2010).
Intinya
Semen itu lem-nya, kapur itu cat dindingnya. Yang menyatukan bata menjadi tembok kokoh — perekat strukturnya — memakai semen di semua lantai. Yang melapisi permukaan agar halus dan rapi sebagian besar masih memakai kapur.
Perekat Struktur (Spesi Pengikat Bata) → Semen
- Seluruh dinding sudah memakai mortar (campuran pasir dan semen) sebagai perekat antar-bata.
- Berlaku untuk siar vertikal maupun horizontal, dengan ketebalan 1,0–1,5 cm.
- Inilah perekat yang menahan kesatuan struktur dinding — bukan kapur.
Plesteran / Finishing → Kapur dan Semen
- Lantai 1, 2, dan 3: plesteran penutup permukaan masih memakai kapur.
- Lantai 4: plesteran sudah memakai mortar/semen.
- Pondasi batu kali juga diikat dengan mortar (pasir dan semen).
Ringkasan
| Fungsi | Bahan | Lokasi |
| Perekat struktur (pengikat bata) | Semen (mortar) | Semua lantai |
| Plesteran / finishing | Kapur | Lantai 1–3 |
| Plesteran / finishing | Semen (mortar) | Lantai 4 |
| Pengikat pondasi batu kali | Semen (mortar) | Pondasi |
Catatan Kritis Tim UBH
Perbaikan retak dengan metode injeksi dinilai tidak tepat. Material injeksi berbasis semen jauh lebih kuat dan getas dibanding pasangan bata yang sebagian masih berplester kapur. Ketidakhomogenan ini justru berpotensi memicu retak baru di sepanjang injeksi. Rekomendasinya: gunakan mortar yang mutunya didekatkan dengan mortar lama (existing), bukan semen yang jauh lebih kuat.

9 hours ago
6

















































