Mahasiswa HIMAKAHA Unhas mengembangkan Program OCEANS (One Health Coastal Environment and Nutrition Sustainability) sebagai strategi pengendalian faktor risiko stunting berbasis potensi dan karakteristik wilayah pesisir. (Dok: Ist)
KabarMakassar.com – Desa Popo di Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, memiliki potensi sumber pangan laut yang melimpah. Namun, melimpahnya akses terhadap protein hewani seperti ikan belum sejalan dengan status gizi anak di kawasan pesisir tersebut.
Data awal Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (HIMAKAHA) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) menunjukkan terdapat 38 kasus stunting (20,54 persen) di desa tersebut.
Menjawab tantangan ini, mahasiswa Unhas mengembangkan Program OCEANS (One Health Coastal Environment and Nutrition Sustainability) sebagai strategi pengendalian faktor risiko stunting berbasis karakteristik wilayah pesisir.
Stunting tak hanya dipengaruhi oleh kecukupan gizi, melainkan juga kualitas air, sanitasi, penyakit infeksi, serta perilaku hidup bersih. Desa Popo dipilih karena merepresentasikan kondisi khas pesisir: kaya pangan laut, tetapi menghadapi tantangan lingkungan seperti kualitas air dan sanitasi.
Melalui pendekatan One Health, kesehatan manusia, lingkungan, dan sumber pangan dipandang sebagai satu ekosistem yang saling memengaruhi. Intervensi yang dilakukan mencakup tiga aspek utama yakni memanfaatkan ikan nila hasil budidaya bioflok sebagai sumber protein untuk Makanan Pendamping ASI (MPASI), memperkuat edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) guna mengurangi risiko penyakit infeksi seperti diare dan mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi yang baik sebagai bagian dari pencegahan stunting.
Salah satu bentuk implementasi di lapangan diwujudkan melalui Program SIPADIA (Siaga Pencegahan Diare pada Anak) di UPT SD Inpres No. 189 Kanite, Desa Popo, pada Senin (27/07). Melalui metode belajar interaktif, para siswa diajak membiasakan pola hidup bersih sejak dini, termasuk praktik Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) 6 langkah standar Kemenkes.
Ketua Tim PPK Ormawa HIMAKAHA Unhas, Rahmat Satrio, menjelaskan keterlibatan mahasiswa Kedokteran Hewan berangkat dari keilmuan veteriner yang erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat.
“Persoalan stunting dan diare berkaitan dengan keamanan pangan, kesehatan lingkungan, dan kesehatan manusia yang saling memengaruhi. Melalui pendekatan One Health, kami berkontribusi dalam mendorong keamanan pangan asal hewan, edukasi kesehatan lingkungan, serta kolaborasi lintas disiplin,” terang Rahmat.
Demi menjamin keberlanjutan program, tim Unhas turut mengembangkan aplikasi GiziTa untuk memudahkan pemantauan status gizi anak secara mandiri oleh masyarakat. Selain itu, pelatihan kader Posyandu digelar guna memperkuat kapasitas deteksi dini stunting secara lokal.
Nama-nama Tim OCEANS Unhas:
1. Muhammad Rizky Isnayanto, Kedokteran Hewan
2. Rahmat Satrio, Kedokteran Hewan
3. Amanda, Kesehatan Lingkungan
4. Berliana Rizki Kusuma Wardani, Ilmu Gizi
5. Elsa Panggalo, Kedokteran Hewan
6. Farid Asshyddiq Sumartin, Kedokteran Hewan
7. Hidayat Nur Halid, Teknik Sipil
8. Husnul Khatimah Syarif, Ilmu Gizi
9. M. Farel Alfarizi A., Kedokteran Hewan
10. M. Zaky Muchdar Mappagassing, Ilmu Komunikasi
11. Mayumi Almira Bhatari, Kedokteran Hewan
12. Muhammad Tri Argianto, Kedokteran Hewan
13. Ratu Mourizka Salsabella, Kedokteran Hewan
14. Rifki Kurniawan, Kedokteran Hewan
15. Andi Sophie Banuna Amrie, lSistem Informasi
Dosen Pendamping:
drh. Muhammad Ardiansyah Nurdin, M.Si.


















































