OPINI: Amnesia Ekologis di Balik Geliat Tren Foto Retro

3 hours ago 2

​Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah (Penulis, Dosen dan Pegiat Filsafat)

KabarMakassar.com – Sebuah foto bernuansa era 1980-an melintas di linimasa. Foto itu menampilkan tekstur gandum (grain) yang khas, saturasi warna hangat yang agak pudar, serta gaya rambut dan pakaian kuno yang membangkitkan ingatan pada album foto milik orang tua kita.

Banyak orang menyambutnya dengan senyum nostalgia, membagikannya ke grup percakapan, lalu merasa telah berhasil memanggil kembali masa lalu. Tetapi foto itu bukan hasil jepretan kamera film mekanis atau proses kimiawi di kamar gelap. Ia lahir dari perulangan algoritma Generative Artificial Intelligence (AI) yang bekerja di pusat-pusat data raksasa ribuan kilometer jauhnya dari genggaman jemari kita.

​Sebagian publik merespons tren visual ini dengan kekhawatiran tentang privasi data, tentang bagaimana wajah mereka digunakan tanpa sadar untuk melatih kecerdasan buatan. Sebagian lagi mempertanyakan batas keaslian identitas di tengah maraknya rekayasa gambar. Tetapi ada satu dimensi yang lebih mendasar dan hampir sepenuhnya luput dari perhatian. Bahwa semakin canggih dan tak kasatmata teknologi komputasi kita, maka semakin ia terasa tidak berbobot dan terlepas dari ikatan fisik bumi dalam kesadaran kita. Kita mengalami persepsi tanpa materialitas, meyakini bahwa dunia digital adalah ruang maya yang murni dan bersih serta tanpa jejak ekstraksi alam.

​Padahal, di balik antarmuka layar yang mulus dan pengunggahan data yang serba instan, ada infrastruktur fisik yang bekerja terus-menerus. Setiap kali ribuan atau jutaan pengguna secara simultan mengirimkan perintah (prompt) untuk memproses rekayasa gambar beresolusi tinggi, maka jaringan unit pemroses grafis (GPU) di pusat-pusat data membutuhkan pasokan energi listrik dan sistem pendinginan. Jejak material komputasi ini memang bervariasi, tergantung pada arsitektur model, lokasi geografis server, efisiensi infrastruktur pendingin, hingga jenis sumber listrik yang digunakan. Tetapi fakta dasarnya tetap ada, yaitu aktivitas digital yang tampak serba maya ini bersandar pada ekstraksi sumber daya material konkret dari bumi.

​Di saat yang sama, realitas fisik di sekitar kita sedang berbicara dalam bahasa yang ringkih. Di berbagai tempat, ancaman penurunan debit air dan penurunan kualitas sumber air permukaan pada daerah aliran sungai utama kerap menjadi berita harian yang berulang. Ketika tren estetika artifisial ini dirayakan di ruang-ruang perkotaan, warga kota tetap berhadapan dengan ancaman kekeringan musiman dan krisis pasokan air bersih. Dua realitas ini berlangsung berdampingan. Di satu sisi, infrastruktur komputasi global bekerja menjaga suhu mesin pemroses data. Di sisi lain, ekosistem lokal berjuang mempertahankan daya dukungnya.

Pertanyaan krusialnya tidak sekadar menghubungkan keduanya secara langsung, tetapi memahami mengapa satu dunia teknologi yang sama sanggup membuat hubungan material tersebut menjadi makin tak terlihat dari pengalaman harian kita.

​Ketimpangan antara citra digital dan realitas fisik ini mengingatkan saya pada filsuf Prancis, Jean Baudrillard, mengenai simulacra dan hyperreality. Baudrillard mengamati bagaimana budaya konsumen modern cenderung menggantikan kebudayaan dan tanda-tanda otentik dengan simulasi. Dalam konteks tren visual hari ini, foto bernuansa tahun 80-an buatan AI tidak merekam kembali sebuah peristiwa sejarah sebagaimana kamera merekam suatu kejadian. Ia hanya memproduksi kembali tanda-tanda visual yang kita kenali sebagai nostalgia. Kita mengonsumsi “rasa nostalgia” yang diekstrak dari algoritma, lalu membagikannya sebagai komoditas ekspresi diri di media sosial.

Tetapi pembacaan ini menjadi tidak lengkap jika berhenti pada kritik moral atas dangkalnya selera publik. Masalahnya bukan sekadar orang-orang suka membuat foto buatan mesin, tetapi bagaimana arsitektur teknologi digital itu sendiri dirancang untuk menyembunyikan jejak fisiknya. Dalam hal ini, kritisisme Martin Heidegger dalam risalahnya mengenai hakikat teknologi, The Question Concerning Technology, sangat relevan.

​Heidegger menjelaskan bahwa hakikat teknologi modern terletak pada Gestell, sebuah kerangka penyingkapan yang membuat segala sesuatu di alam hadir terutama sebagai Bestand atau cadangan siap pakai (standing-reserve). Dalam kerangka penyingkapan semacam ini, unsur-unsur alam tidak lagi dihayati dalam keberadaannya yang utuh, tetapi dinilai sejauh ia dapat diukur, diolah, serta dimanfaatkan bagi keperluan komputasi dan industri. Yang dipertaruhkan adalah kemungkinan bahwa cara melihat semacam itu akhirnya membuat manusia sendiri kesulitan mengalami alam di luar fungsi ketersediaannya.

​Kajian akademis, seperti riset yang dipelopori Shaolei Li dan timnya dari University of California, Riverside, bertajuk Making AI Less Thirsty, memperlihatkan landasan empiris dari kekhawatiran filosofis tersebut. Studi tersebut berupaya mengkuantifikasi bagaimana konsumsi air tawar pada sistem pendingin pusat data menjadi variabel material yang nyata dalam siklus hidup pemrosesan AI berskala besar. Begitu pula dengan perhatian dari berbagai lembaga internasional yang menyoroti meningkatnya tekanan atas ketersediaan air tawar global akibat akumulasi aktivitas industri, perubahan iklim, serta lonjakan kebutuhan energi infrastruktur digital.

​Kerangka ini menyingkap sebuah paradoks etis. Manfaat visual dan hiburan dari aplikasi AI dinikmati secara langsung oleh masyarakat urban berakses internet cepat, tetapi beban ekologisnya mulai dari penggunaan listrik hingga konsumsi air pada kawasan tempat infrastruktur pusat data berdiri, tersebar secara tak merata pada kawasan-kawasan tempat infrastruktur fisik itu beroperasi.

​Bagi masyarakat di Sulawesi Selatan, terutama yang bermukim di Metropolitan Makassar, jarak antara yang maya dan yang material ini dapat diamati dalam keseharian. Kehidupan Kota Makassar sangat bersandar pada daya dukung ekosistem Sungai Jeneberang dan kapasitas operasional Bendungan Bili-Bili sebagai penopang utama pasokan air baku Perumda Air Minum. Setiap kali musim kemarau tiba, warga di kawasan pinggiran dan utara kota selalu berhadapan dengan kendala distribusi air baku dan penurunan tekanan suplai pipa.

​Tentu saja, krisis air di Makassar tidak disebabkan oleh penggunaan aplikasi AI oleh warganya. Tetapi kehadiran krisis air lokal di satu sisi dan maraknya penggunaan teknologi AI di sisi lain memperlihatkan kontradiksi yang sama, bahwa betapa terpisahnya kesadaran publik perkotaan dari realitas material yang menopang hidupnya.

​Ada jurang psikologis yang lebar antara layar ponsel pintar di genggaman kita dengan aliran Sungai Jeneberang yang surut saat kemarau. Kita bisa sangat reaktif terhadap tren digital terbaru yang bergulir secara global, tetapi pada saat yang sama menjadi tumpul untuk merasakan kerapuhan ekologis di lingkungan tempat kita tinggal. Amnesia ekologis ini bekerja dengan sangat halus. Sistem kehidupan perkotaan mengisolasi kita dari proses produksi air, listrik, serta pemrosesan data. Kita memutar keran tanpa tahu dari mana air berasal, menyalakan sakelar tanpa melihat cerobong pembangkit, serta mengunggah gambar hasil komputasi rumit tanpa pernah membayangkan jaringan server yang membutuhkan daya di belahan bumi lain.

​Sebuah analisis yang jujur tentu harus memperhitungkan sanggahannya. Muncullah kontra-argumen yang rasional. Bahwa bukankah perusahaan-perusahaan teknologi global kini sedang berinvestasi dalam teknologi pendingin hemat air (closed-loop cooling), penggunaan energi terbarukan, serta perbaikan efisiensi algoritma? Bukankah tidak adil membebankan masalah lingkungan global kepada seorang pengguna media sosial yang hanya ingin mencoba filter foto retro secara iseng?

​Sanggahan ini memang memiliki dasar yang perlu diakui. Efisiensi teknologi adalah langkah nyata yang sedang diupayakan, dan memperlakukan masalah ekologis sistemik semata-mata sebagai beban moral personal pengguna adalah bentuk penyederhanaan yang dangkal. Tetapi mengandalkan efisiensi teknis semata tanpa memeriksa pola konsumsi kita adalah sebuah ilusi. Dalam studi ekonomi ekologis, kita mengenal Jevons Paradox, yaitu fenomena yang memperlihatkan bahwa peningkatan efisiensi penggunaan suatu sumber daya tidak otomatis mengurangi konsumsi totalnya. Ketika teknologi membuat pemrosesan data menjadi lebih murah dan cepat serta efisien, maka tingkat penggunaan secara keseluruhan justru berpotensi melonjak drastis karena biaya penggunaan yang semakin rendah dapat mendorong perluasan permintaan dan penggunaan pada skala yang lebih besar.

Meski demikian, saya pun harus berdiri di hadapan cermin dengan jujur. Esai yang sedang Anda baca ini disebarkan melalui jaringan komputasi digital yang juga mengonsumsi listrik dan membutuhkan infrastruktur fisik bumi. Tidak ada seorang pun dari kita di masyarakat modern yang benar-benar bisa mengklaim diri bersih dari jejaring keterlibatan ini. Tetapi menyadari keterlibatan diri di dalam sistem yang bermasalah bukanlah alasan untuk memilih apatisme. Justru dari kesadaran akan kerentanan bersama inilah, maka sebuah pemikiran kritis dapat dimulai.

​Tujuan dari penyingkapan ini bukanlah untuk mendorong gerakan penolakan teknologi atau mengajak masyarakat kembali ke era pra-digital. Menolak teknologi secara naif tidak akan serta-merta memulihkan ekosistem yang tertekan. Maka hal yang lebih mendasar untuk diuji adalah sejauh mana kita masih mampu menyadari materialitas di balik pengalaman digital kita. Mengapa semakin material infrastruktur teknologi yang kita gunakan, justru semakin tidak material ia terasa dalam kesadaran kita?

​Amnesia ekologis terjadi ketika keindahan simulasi visual di layar membuat kita melupakan kabel-kabel, prosesor yang memanas, watt listrik yang dibakar, serta air yang dialirkan demi menopang keberlangsungan sistem tersebut. Sebelum kita mengetuk layar untuk memproses tren visual berikutnya, persoalannya bukan lagi sekadar boleh atau tidak membuat gambar buatan mesin. Persoalan sejatinya adalah, apakah di tengah kepungan simulasi digital ini, kita masih memiliki kepekaan untuk melihat dunia material yang nyata, yaitu dunia yang airnya sedang kita minum dan buminya sedang kita pijak?

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news