OPINI: Enam Dekade KOHATI, ke Mana Arah Pembinaan dan Gerakan Perempuan HMI?

3 hours ago 2

Oleh: Titin Alfida (Ketua Korps HMI WATI Koordinator Komisariat Universitas Bosowa)

KabarMakassar.com – Enam dekade bukanlah waktu yang singkat. Enam puluh tahun perjalanan Korps HMI-Wati (KOHATI) merupakan rentang sejarah yang diisi dengan proses kaderisasi, pergulatan pemikiran, pengabdian, serta keterlibatan perempuan HMI dalam berbagai ruang kehidupan. Dari generasi ke generasi, KOHATI terus tumbuh sebagai bagian integral dari perjalanan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Milad ke-60 KOHATI semestinya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan bertambahnya usia organisasi. Momentum ini perlu menjadi ruang untuk kembali bertanya: ke mana arah pembinaan dan gerakan perempuan HMI hari ini?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena zaman terus berubah. Tantangan yang dihadapi perempuan hari ini tidak lagi sama dengan tantangan yang dihadapi generasi sebelumnya. Perempuan berhadapan dengan perkembangan teknologi, perubahan sosial, dinamika politik dan hukum, persoalan ekonomi, kekerasan berbasis gender, hingga tuntutan untuk mampu mengambil peran di ruang publik tanpa kehilangan pijakan nilai.

Di tengah perubahan tersebut, KOHATI memiliki pekerjaan besar untuk memastikan bahwa proses pembinaan tidak berhenti pada pembentukan kader yang aktif secara organisatoris, tetapi juga melahirkan perempuan yang memiliki kapasitas intelektual, keteguhan moral, kepekaan sosial, serta keberanian untuk mengambil peran di tengah masyarakat.

Pembinaan Tidak Boleh Kehilangan Arah

Pembinaan merupakan salah satu jantung dari keberadaan KOHATI. Namun, pembinaan tidak seharusnya dipahami sebatas agenda formal, forum rutin, atau pemenuhan program kerja organisasi. Pembinaan harus menjadi proses yang benar-benar membentuk karakter dan kapasitas kader.

Kader KOHATI perlu memiliki ruang untuk belajar dan bertumbuh. Bukan hanya belajar mengenai organisasi, tetapi juga hukum, politik, ekonomi, kepemimpinan, isu perempuan, kebijakan publik, teknologi, hingga berbagai persoalan masyarakat yang berkembang.

Sebab, perempuan yang dibutuhkan zaman bukan hanya perempuan yang mampu berbicara di dalam forum, tetapi juga perempuan yang mampu membaca persoalan, menyusun gagasan, menawarkan solusi, dan mengambil tindakan nyata.

Di sinilah pembinaan KOHATI perlu terus dievaluasi. Apakah proses yang berjalan hari ini telah cukup menjawab kebutuhan kader? Apakah setiap kader mendapatkan ruang untuk mengembangkan potensi? Dan apakah pembinaan telah mampu mempersiapkan kader untuk hadir di tengah masyarakat setelah melewati proses panjang di HMI?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk menegasikan apa yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya. Justru sebaliknya, pertanyaan itu merupakan bentuk tanggung jawab untuk menjaga agar warisan perjuangan KOHATI tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Dari Kaderisasi Menuju Gerakan

KOHATI tidak cukup hanya menghasilkan kader yang memahami nilai dan tradisi organisasi. Lebih jauh, kader harus mampu menerjemahkan nilai tersebut menjadi gerakan.

Gerakan perempuan hari ini membutuhkan keberanian untuk hadir di berbagai ruang. Kader KOHATI harus mampu mengambil bagian dalam ruang akademik, profesi, hukum, pemerintahan, masyarakat sipil, dunia usaha, maupun ruang-ruang sosial lainnya.

Keterlibatan tersebut tentu tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Gerakan dapat tumbuh dari keberanian seorang kader menyuarakan persoalan di lingkungan sekitarnya, melakukan kajian terhadap kebijakan publik, mendampingi masyarakat, menulis gagasan, melakukan advokasi, maupun membangun ruang belajar bagi perempuan lainnya.

Dengan demikian, KOHATI tidak hanya menjadi ruang pembinaan internal, tetapi juga menjadi ruang lahirnya gagasan dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Perempuan HMI dan Tantangan Zaman

Hari ini kita hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat. Media sosial memberikan ruang yang luas bagi siapa pun untuk menyampaikan pendapat. Namun, ruang yang luas tersebut juga menuntut kemampuan untuk memilah informasi, membangun argumentasi, dan mempertanggungjawabkan setiap gagasan yang disampaikan.

Kader perempuan HMI tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi. Ia harus mampu menjadi produsen gagasan

KOHATI perlu mendorong kader untuk membaca lebih banyak, berdiskusi lebih kritis, menulis, melakukan penelitian, dan berani menyampaikan gagasan di ruang publik. Sebab, kualitas gerakan juga akan sangat ditentukan oleh kualitas pengetahuan dan kedalaman berpikir kadernya.

Di sisi lain, penguatan kapasitas perempuan juga harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter. Kecakapan intelektual tanpa integritas akan kehilangan makna. Begitu pula semangat perjuangan tanpa pengetahuan dapat kehilangan arah.

Karena itu, pembinaan KOHATI idealnya melahirkan kader yang cerdas secara intelektual, kuat secara moral, peka terhadap persoalan sosial, dan berani mengambil peran.

Menjaga Warisan, Membuka Jalan Baru

Enam puluh tahun perjalanan KOHATI tentu telah meninggalkan banyak warisan. Ada gagasan, tradisi, pengalaman, perjuangan, dan keteladanan dari para kader perempuan yang telah lebih dahulu menjalani proses di dalam organisasi.

Tugas generasi hari ini bukan sekadar mengulang apa yang pernah dilakukan generasi sebelumnya. Kita perlu memahami nilai yang diwariskan, kemudian menerjemahkannya sesuai kebutuhan zaman.

Sebab, mempertahankan organisasi bukan berarti mempertahankan seluruh cara lama tanpa evaluasi. Menjaga keberlanjutan justru membutuhkan keberanian untuk melakukan pembaruan.

KOHATI harus mampu menjawab kebutuhan kader hari ini tanpa kehilangan akar perjuangannya. Tradisi intelektual harus tetap hidup, pembinaan harus terus diperkuat, dan gerakan harus semakin terbuka terhadap berbagai persoalan masyarakat.

60 Tahun dan Pertanyaan untuk Generasi Hari Ini

Milad ke-60 KOHATI pada akhirnya bukan hanya tentang melihat sejauh mana organisasi telah berjalan, tetapi juga tentang menentukan ke mana langkah berikutnya diarahkan.

Ke mana pembinaan KOHATI akan dibawa?
Perempuan seperti apa yang ingin dilahirkan oleh KOHATI?
Dan kontribusi seperti apa yang ingin diberikan KOHATI kepada masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak memiliki jawaban yang sederhana. Namun, justru dari pertanyaan itulah ruang untuk berpikir dan bergerak dapat dibuka.

Enam dekade adalah bukti bahwa KOHATI telah melewati perjalanan panjang. Tetapi usia panjang bukanlah alasan untuk berhenti berbenah. Justru semakin panjang usia sebuah organisasi, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memastikan bahwa keberadaannya tetap memiliki makna.

Maka, memasuki usia 60 tahun, KOHATI perlu terus merawat nilai, memperkuat pembinaan, memperluas ruang belajar, dan mendorong kader perempuan HMI untuk hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan zaman.

Karena pada akhirnya, masa depan KOHATI tidak hanya ditentukan oleh bagaimana kita mengenang enam puluh tahun yang telah berlalu, tetapi oleh keberanian kita menentukan apa yang akan dilakukan setelah enam dekade ini.

Selamat Milad ke-60 KOHATI.
Terus bertumbuh, terus belajar, dan terus mengambil peran.

#BahagiaHmIJayalahKohati#

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news