Paskibraka DIY Dibekali Makna Merah Putih, Bukan Sekadar Bendera

16 hours ago 5

Paskibraka DIY Dibekali Makna Merah Putih, Bukan Sekadar Bendera

Peneliti Pusat Studi Pancasila UGM, Diasma Sandi Swandaru dan Paskibraka DIY mengikuti Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan Paskibraka DIY 2026 yang diselenggarakan oleh Kesbangpol DIY di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan, Depok, Sleman, Selasa (5/8/2026)./ist Diasma Sandi Swandaru\r\n

Harianjogja.com, SLEMAN—Merah Putih bukan sekadar bendera yang dikibarkan saat peringatan Hari Kemerdekaan, tetapi menjadi simbol yang merekam perjalanan panjang bangsa Indonesia, memori kolektif, serta cita-cita yang diwariskan lintas generasi. Pesan itu disampaikan Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada peserta Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan Paskibraka DIY 2026 agar memahami makna historis dan filosofis di balik tugas mengibarkan Sang Saka.

Pembekalan tersebut berlangsung dalam materi Sesi Kelas Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945 pada Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan Paskibraka DIY 2026 yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan, Depok, Sleman, Selasa (5/8/2026).

Peneliti Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada, Diasma Sandi Swandaru, menegaskan sejarah Merah Putih tidak dimulai saat Proklamasi 17 Agustus 1945 maupun Sumpah Pemuda 1928. Menurutnya, simbol tersebut telah menjadi bagian dari identitas peradaban Nusantara sejak berabad-abad silam.

"Merah Putih telah menjadi simbol kerajaan pada masa Majapahit, warna merah dan putih juga muncul dalam sejumlah naskah kuno hingga kemudian dikristalisasi sebagai bendera kebangsaan Indonesia oleh para pendiri bangsa," ujarnya.

Diasma yang juga menjabat Ketua Umum Generasi Muda Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (Genmuda ISRI) menjelaskan jejak Merah Putih tidak hanya tercatat dalam sejarah kerajaan, tetapi juga hidup dalam tradisi masyarakat.

Ia mencontohkan sajian jenang merah dan jenang putih dalam berbagai upacara adat sebagai simbol keseimbangan, kehidupan, dan kesucian yang memperlihatkan bagaimana makna dua warna tersebut telah mengakar dalam budaya Nusantara.

Diasma mengingatkan para calon Paskibraka DIY agar tidak memandang bendera Merah Putih hanya sebagai atribut upacara. Menurutnya, setiap kali bendera dikibarkan, terdapat makna sejarah yang menghubungkan generasi saat ini dengan perjalanan panjang bangsa Indonesia.

"Merah Putih yang kalian bawa bukan sekadar kain berwarna merah dan putih. Di setiap lipatannya tersimpan memori kolektif bangsa, di setiap jahitannya terdapat pengorbanan para pendahulu, dan di setiap kibarannya hidup doa serta cita-cita seluruh rakyat Indonesia," katanya.

Tantangan Menjaga Kemerdekaan Kini Berbeda

Dalam pembekalan tersebut, Diasma juga menyoroti perubahan tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia setelah kemerdekaan.

Menurutnya, jika dahulu perjuangan berhadapan dengan kolonialisme fisik, saat ini ancaman muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, disinformasi dan hoaks, intoleransi, penyalahgunaan narkotika, menguatnya individualisme, politik identitas, hingga krisis moral.

Karena itu, ia menilai mengibarkan Merah Putih memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar menjalankan prosesi kenegaraan.

"Oleh karena itu, mengibarkan Merah Putih sejatinya adalah mengibarkan harapan. Mengibarkan berarti mengangkat harkat bangsa, mengangkat martabat bangsa, dan mengangkat cita-cita Indonesia. Ia bukan sekadar menaikkan selembar kain ke puncak tiang," tegasnya.

Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan Paskibraka DIY Tahun 2026 diikuti 38 pelajar kelas XI SMA yang mewakili Kabupaten Bantul, Sleman, Gunungkidul, Kulon Progo, dan Kota Jogja.

Selama 20 hari, peserta mengikuti rangkaian pelatihan yang mencakup pembinaan fisik, penguatan karakter, wawasan kebangsaan, hingga kepemimpinan sebagai bekal sebelum menjalankan tugas pada peringatan Hari Kemerdekaan.

Melalui pembekalan tersebut, Kesbangpol DIY berharap peserta Paskibraka tidak hanya memiliki kemampuan teknis sebagai pengibar bendera, tetapi juga memahami nilai historis, filosofis, dan kebangsaan yang melekat pada Merah Putih sebagai simbol pemersatu bangsa yang harus terus dijaga oleh setiap generasi Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news