Para Pemangsa

22 hours ago 5

Spanduk Dealer Program Juli Honda 300 x 50 cm

Begitu pintu mobil terbuka, lelaki paruh baya itu –yang mulai kehilangan keseimbangan ketika menjejak tanah– menarik napas panjang. Ia memperhatikan jalanan kompleks yang sunyi. Tak ada kehidupan yang tersisa kecuali desah angin dan gemerisik daun kering yang sesekali menyeret di aspal. Lampu-lampu teras rumah tetangga sudah padam sejak berjam-jam lalu.

Ia mendekati pagar rumah, memasukkan kunci dengan hati-hati. Memutarnya hingga terdengar gembok itu berderak. Sekarang sudah pukul tiga kurang sedikit. Ia baru pulang.

Lembur.

Itu adalah kata mujarab yang selama ini ia katakan pada Tina, istrinya, jika pulang larut malam atau pagi seperti ini. Tentu saja ia bohong. Bau tubuhnya jelas, parfum yang bukan aroma parfumnya, aroma alkohol yang masih menguar dari pori-porinya. Di kerah bajunya, bahkan wangi perempuan itu masih menempel jelas.

Ia menyelinap ke garasi, memarkir mobil, lalu berjalan pelan ke pintu depan. Ia tahu, tak lama lagi, di balik pintu yang akan ia buka, ada ruang tamu yang akan berubah menjadi arena persidangan yang jauh lebih melelahkan dari pengadilan mana pun yang pernah ia hadapi.

Ia pernah memenangkan kasus koruptor yang disorot seluruh negeri. Ia pernah membuat rekaman mesum seorang pejabat dianggap manipulasi digital. Ia tahu celah hukum seperti orang lain tahu jalan pintas ke warung sebelah. Tapi menghadapi Tina? Tak ada pasal yang bisa ia manipulasi.

Ia membuka pintu. Lampu ruang tamu menyala seketika.

Tina berdiri di sana—bersilang tangan, rambut diikat, wajah seperih seseorang yang menunggu terlalu lama sambil menyingkirkan amarah sedikit demi sedikit agar tak meledak sebelum waktunya.

“Kamu belum tidur?” tanya lelaki itu, mencoba menyelipkan tubuh ke sofa.

Tina mengikutinya. Ia hanya menduduki sofa sekejap. Kemudian mulai membaui napasnya, kerah kemejanya, bahkan rambut belakang telinganya. “Menurutmu, aku bisa tidur sementara kamu dipeluk perempuan lain?”

“Tina… sekali saja, jangan curiga. Aku capek. Kami baru menang perkara.”

“Perkara apa? Yang hotel itu? Yang Savitri tersenyum-senyum ke Mas di TV?”

Ia tak menjawab. Tetapi ia punya kebiasaan, jika kalah dalam argumen, menangkan dalam transaksi. Ia mengangkat koper hitam dan meletakkannya di pangkuan Tina. Uang seratus juta mengilap seperti doa yang tiba-tiba memiliki wujud.

Dan seperti biasanya, Tina diam. Untuk sementara, rumah kembali tenang.

***

Klontang… tang… tang…

Meooong…

Belum setengah jam ia memejamkan mata ketika suara dari dapur membuatnya terlonjak. Tina sudah bangkit lebih dulu, wajahnya keras seperti semalam belum ditutup secara emosional.

“Kucing sialan itu lagi,” gerutunya.

Lelaki itu menyusul. Di dapur, rantang berserakan, ayam goreng terseret ke lantai, ikan tongkol tercerai-berai. Tina berteriak memanggil Ijah dengan nada yang membuat siapapun di rumah itu merasa bersalah meski tak melakukan apa-apa.

Begitu kembali ke kamar, Tina masih mendesis. “Aku besok akan labrak Santi. Sudah dua minggu mereka pelihara kucing, tiap malam rumah kita yang jadi korban.”

“Tin, itu cuma kucing—”

“Tapi pemiliknya bukan! Dulu, ikan ditaruh di meja pun aman. Sekarang? Baru ditinggal sebentar, hilang!”

Dia mendengarkan saja, seperti seorang terdakwa yang tahu bahwa membela diri hanya akan memperpanjang hukuman. Dalam hati ia tahu, kemarahan Tina bukan hanya tentang kucing. Tetapi ia membiarkan istrinya memindahkan amarah itu kepada sesuatu yang lebih aman untuk dibenci.

***

Keesokan paginya, kompleks mulai ramai. Anak-anak berangkat sekolah, bapak-bapak berseragam kantor tergesa menuju mobil, ibu-ibu menyapu halaman sambil bergosip pelan. Kompleks itu sudah lama hidup dengan ritme sama, siapa tukang kredit baru yang datang, siapa yang belum bayar iuran keamanan, siapa yang sering cekcok.

Hari ini gosipnya lain: Tina, Santi, dan kucing.

Lelaki itu mendengar teriakan Tina dari rumah sebelah. Nada yang sudah ia kenal: tinggi, ritmis, seperti palu sidang yang dipukul tanpa henti. Santi membalas tak kalah lantang. Dan ketika dua perempuan bertengkar, seluruh warga berubah menjadi penonton yang haus peristiwa. Mereka tidak melerai, malah antusias mengamati. Ada kenikmatan aneh melihat orang lain membuka aib, bahkan jika aib itu hanya tentang ikan tongkol.

“Dasar kucing rakus!”

“Kamu yang rakus!”

“Kucingmu itu—”

“Kamu yang kucing!”

Lelaki itu memejamkan telinga dengan bantalan sofa. Dunia hukum terasa sangat damai dibandingkan ini.

Tina pulang tanpa kata. Diam yang bukan damai. Sejak itu hubungan mereka dengan pasangan barunya retak seperti gelas yang jatuh di keramik—bisa direkatkan, tapi tak akan bening kembali.

***

Malam berikutnya.

Klontang… tang…

Meeoong…

Tina berlari dengan pentungan. Suaranya berat, seperti seseorang yang menemukan dalih untuk melepaskan seluruh tekanan yang tak tersalurkan.

Lelaki itu menunggu. Satu menit, dua menit, tapi tidak ada teriakan Tina. Tidak ada suara kucing melolong. Senyap.

Ia menyusul ke dapur.

Di lantai, ia melihat sesuatu yang tak bisa ia pahami langsung.

Tina berjongkok. Tak hanya itu—ia memakan sisa ikan yang berserakan, berebut dengan kucing belang tetangga yang tampak sangat nyaman. Tina menyambar tulang ikan langsung dengan mulutnya. Gerakannya cepat, luwes, seperti hewan yang sudah lama tahu cara melakukannya.

Ketika ia menoleh, wajah Tina tertutup bulu halus. Kumis tipis meruncing di kedua sisi bibirnya. Matanya memantulkan cahaya lampu dapur seperti kaca-kaca kecil penuh kilat.

“Tin…” suaranya pecah.

Tina tersenyum—senyum yang bukan manusia. “Mas… ikan ini memang enak. Pantas kucing ini betah.”

Ia ingin mundur, tetapi tubuhnya sendiri mulai gatal. Bulu tumbuh merayapi lengan, pergelangan kaki, merambat seperti akar yang menemukan tanah paling subur. Ia membuka mulut untuk menjerit, tetapi yang keluar hanya suara serak melengkung.

Meoong.

Ia memejamkan mata. Ketika membuka, dunia tampak lebih lebar, lebih tajam, lebih rendah. Ia merasa kecil, ringan, dan lapar.

“Kata Santi,” ujar Tina yang wajahnya semakin mengecil, “kucingnya hanya mencuri ikan. Tapi suamiku jauh lebih rakus dari kucing mana pun.”

Ia ingin membantah, tapi kini mulutnya hanya mampu mengeluarkan:

Mrrr… meeong…

Kucing tetangga itu—yang kini tampak seperti makhluk bijak—mengangguk kecil. “Banyak manusia yang berubah menjadi binatang. Kalian hanya dua dari sekian banyak. Ada yang menjadi ular, anjing, monyet. Kalian berubah karena alasan yang sama, kelaparan yang tak pernah terpuaskan.”

Kelaparan apa? Uang? Nafsu? Pengakuan?

Ia tidak tahu. Atau ia tahu, tapi pura-pura tidak tahu selama ini.

Langkah berat mendekat. Ijah muncul di pintu, memegang pentungan.

“Ha!” serunya. “Kucing sialan! Semalam satu, sekarang tiga! Jangan-jangan besok satu keluarga kau bawa ke sini!”

Pentungan itu terayun. Lelaki itu melesat panik bersama Tina—yang kini sama-sama menjelma kucing penuh bulu—berusaha berteriak bahwa mereka manusia, bahwa mereka majikan, bahwa mereka butuh ditolong.

Tapi dari mulut mereka hanya keluar:

“Meooong… meooong… meooong…”

***

Di luar, kompleks kembali sunyi. Angin dini hari yang sama mengalir pelan. Dari kejauhan, kucing-kucing liar berkeliaran di selokan, di bawah mobil, di balik pot kembang.

Semua makan sesuatu, semua tampak lapar. Dan jika diamati baik-baik, beberapa di antaranya memiliki mata manusia. (*)

Uda Agus, belajar menulis secara autodidak. Tulisan pertamanya dimuat majalah Annida (Juli, 2001). Buku perdananya berjudul Ngebet Nikah, sebuah Kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh DAR! Mizan, 2004. Sejak tahun 2011 konsisten menggelar Lomba Menulis Bersama Uda Agus (LMBUA) hingga saat ini. Berdomisili di Payakumbuh, mendirikan Taman Baca Masyarakat, Pustaka Dua-2 (Rumah Baca dan Diskusi Sastra). Bisa dihubungi via email [email protected], WA 085274244342, Instagram @udaagus dan FB udaagus2708
Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news