Wisatawan menikmati sensasi mandi air panas di Pancuran 13 Guci, Tegal, Sabtu (14/2/2026), meski dengan fasilitas seadanya setelah kawasan tersebut porak poranda dilanda banjir pada Januari lalu. - Harian Jogja - Nina Atmasari
Harianjogja.com, TEGAL—Pancuran 13 air panas Guci di Tegal, Jawa Tengah mulai merangkak bangkit seusai banjir awal 2026 yang sempat merusak kawasan wisata tersebut. Pemerintah Kabupaten Tegal menyatakan fokus membangun dan menata ulang destinasi unggulan itu agar kepercayaan wisatawan kembali pulih.
Di lapangan, wajah Pancuran 13 memang belum sepenuhnya pulih. Deretan guci kecil yang dulu tersusun rapi di bawah air terjun kini berganti pancuran bambu sederhana buatan warga. Uap tipis tetap mengepul dari kucuran air panas yang mengalir deras, sementara kolam di bawahnya hanya berupa cekungan sederhana dengan bebatuan dan tumpukan karung pasir sebagai bendungan agar tetap bisa dipakai berendam.
Meski kondisinya masih jauh dari sempurna, magnet wisata air panas Guci belum padam. Sejak pagi, wisatawan silih berganti datang. Semakin siang, jumlah pengunjung bertambah dan kolam sederhana itu kembali dipenuhi orang-orang yang ingin merasakan sensasi mandi air hangat langsung dari sumber alami.
"Akhirnya bisa menikmati lagi mandi di pancuran air panas lagi di sini. Setelah banjir kemarin, baru ini pertama ke sini. Kalau sebelumnya setiap bulan saya ke sini, memang tujuannya untuk mandi air panas," kata Gunawan, 34, wisatawan asal Randudongkal, Pemalang, ditemui seusai berendam di kawasan Pancuran 13 Guci, Sabtu (14/2/2026) pagi.
Gunawan datang bersama delapan anggota keluarganya, termasuk anak-anak. Ia menilai kondisi saat ini relatif aman selama cuaca cerah dan tidak mendung.
"Makanya saya kesini pagi, dan saat cuaca cerah, saya yakin aman-aman saja. Kalau mulai mendung, saya tidak berani. Sekarang kami senang ke sini karena gratis, beramai-ramai lebih asyik. Kalau dulu kan bayar," katanya.
Ia berharap kawasan pancuran air panas Guci segera dibenahi agar kembali nyaman dan tertata seperti sebelum bencana.
Harapan serupa disampaikan Faqih Maulana, 30, wisatawan asal Pemalang. Ia datang untuk memastikan kondisi terkini Pancuran 13 seusai banjir Januari lalu.
"Ternyata aman untuk mandi dan berendam. Memang beda dengan sebelumnya, sekarang seadanya, tapi kan gratis, kalau kemarin kan bayar tiket. Semoga segera dibenahi biar jadi bagus lagi," katanya.
Kembalinya wisatawan perlahan menggerakkan ekonomi sekitar Pancuran 13 Guci. Sejumlah kios oleh-oleh dan kerajinan mulai membuka kembali lapaknya seusai sempat tutup beberapa pekan akibat banjir. Namun, geliat tersebut belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan penjualan.
"Ini buka sedikit saja pintunya, ada yang mampir, ya, syukur. Orang-orang memang mulai datang, tapi masih orang lokalan yang penasaran, datang melihat, foto-foto, kadang mandi, sudah, tidak belanja. Kalau dulu banyak rombongan ziarah dari mana-mana dan belanja. Semoga segera ramai lagi," ujar Endah, 41, pedagang kerajinan.
Sementara itu, Wakil Bupati Tegal Ahmad Kholid menegaskan bahwa pemerintah daerah kini memprioritaskan penataan dan pembangunan ulang kawasan wisata Guci.
"Kami sudah berkoordinasi dengan KLH, Kementerian Pariwisata, dan BNPB juga akan datang ke Guci untuk membantu menata dan membangun lagi pariwisata di Guci," katanya seusai penanaman pohon bersama PWI Jawa Tengah, Sabtu pagi.
Menurutnya, Pemkab Tegal juga aktif menyosialisasikan progres perbaikan agar publik mengetahui langkah-langkah yang telah dilakukan. Strategi ini diharapkan dapat memulihkan citra dan kepercayaan wisatawan terhadap wisata air panas Guci.
"Harapannya dengan masyarakat mengetahui bahwa Guci sudah diperbaiki, maka akan tumbuh lagi kepercayaan dan datang ke sini untuk berwisata lagi," pungkas Ahmad Kholid, seraya memastikan upaya penataan Pancuran 13 Guci akan terus dilanjutkan agar kawasan wisata ini kembali menjadi andalan pariwisata Kabupaten Tegal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

13 hours ago
4

















































