KATASUMBAR – Keceriaan masa kanak-kanak masih mendominasi puluhan karya yang dipamerkan dalam Pameran Lukisan Anak pada Saba Fest 2026 yang digelar Taman Budaya Sumatera Barat. Namun, di balik warna-warna cerah dan goresan polos khas anak-anak, terselip pesan yang cukup serius: kepedulian terhadap masa depan bumi.
Pameran yang menjadi salah satu rangkaian Saba Fest 2026 edisi ketiga ini menampilkan sekitar 50 karya lukis hasil kreativitas siswa SD hingga SMP dari berbagai daerah di Sumatera Barat.
Sebagian besar lukisan masih bercerita tentang dunia anak-anak yang penuh kebahagiaan. Mereka menggambarkan aktivitas bermain, keluarga, persahabatan, hingga suasana alam yang menjadi bagian dari keseharian mereka.
Namun, sejumlah karya menunjukkan cara pandang yang jauh melampaui usia para pelukisnya. Isu lingkungan, energi terbarukan hingga masa depan kota menjadi tema yang diangkat melalui imajinasi mereka.
Salah satunya adalah karya Raysa Fatmah Azhari berjudul “Bersama Menyiapkan Pangan Masa Depan”. Lukisan tersebut menampilkan sebuah kebun kecil yang ditanami berbagai tanaman pangan seperti stroberi, wortel, mangga dan tanaman lainnya. Menariknya, di atas bangunan penyimpanan hasil panen tampak terpasang panel surya sebagai sumber energi.
Melalui karya itu, Raysa seolah mengajak masyarakat memanfaatkan energi terbarukan sekaligus menjaga ketahanan pangan. Pesan tentang merawat bumi disampaikan dengan bahasa visual yang sederhana, namun mudah dipahami.
Pandangan tentang masa depan juga tergambar dalam karya Dhumaera Putri Nalika berjudul “Cahaya Menembus Batas Waktu”.
Lukisan tersebut menghadirkan sebuah kota futuristik dengan jalan layang bertingkat serta kendaraan yang tidak lagi melintas di jalan raya, melainkan terbang di udara. Imajinasi itu seperti memprediksi kehidupan manusia di masa depan ketika ruang di darat semakin terbatas sehingga transportasi udara menjadi kebutuhan sehari-hari.
Tak hanya berbicara mengenai teknologi, beberapa karya lain juga menyuarakan kritik sosial dan kepedulian terhadap kelestarian alam.
Salah satu lukisan, misalnya, menggambarkan sekelompok orang membawa spanduk bertuliskan “Petisi Selamatkan Hutan”. Meski dibuat dengan gaya visual khas anak-anak, pesan yang disampaikan cukup tegas, yakni ajakan menjaga hutan sebagai penyangga kehidupan.
Berbagai karya tersebut menunjukkan bahwa anak-anak tidak hanya merekam pengalaman sehari-hari melalui lukisan, tetapi juga mulai memahami persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar. Mereka menyampaikan harapan tentang bumi yang lebih hijau, penggunaan energi yang ramah lingkungan, hingga pentingnya menjaga hutan untuk generasi mendatang.
Pameran ini menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan gagasan dan kepedulian mereka. Melalui kanvas dan sapuan warna, mereka tidak hanya bercerita tentang dunia yang mereka lihat hari ini, tetapi juga tentang dunia yang mereka harapkan hadir di masa depan.

12 hours ago
5



















































