Pakar ASPIKOM di AICCON Padang: Teknologi dan AI Tak Boleh Lepas dari Budaya, Agama, serta Kearifan Lokal

16 hours ago 3

Spanduk Dealer Program Juli Honda 300 x 50 cm

KLIKPOSITIF- Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM), Prof. Dr. Anang Sujoko, menegaskan perkembangan teknologi digital yang semakin masif tidak dapat dipisahkan dari nilai budaya, agama, dan kearifan lokal. Menurutnya, teknologi yang berkembang tanpa diimbangi nilai-nilai tersebut berpotensi memunculkan berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya dalam Annual International Conference on Communication (AICCON) ke-6 yang digelar di Hotel ZHM Premier Padang, Rabu (22/7/2026).

“Seolah-olah teknologi digital itu segalanya. Padahal, dalam banyak kajian kami menemukan teknologi digital tidak bisa dilepaskan dari local wisdom, budaya, dan agama. Kalau ketiga hal itu tidak dikombinasikan, masyarakat bisa tercerabut dari nilai-nilai yang sebenarnya,” ungkapnya Guru Besar Universitas Brawijaya ini.

Ia menyoroti berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini. Menurutnya, bencana tidak terlepas dari perilaku manusia yang lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dan teknologi dibandingkan menjaga kelestarian lingkungan.

“Kita mengakui bencana ini tidak akan terlepas dari unsur manusia. Orang berpikir soal ekonomi dan teknologi, tetapi lupa terhadap lingkungannya. Merawat lingkungan harus berbasis agama dan budaya, bukan hanya teknologi,” katanya.

Menurutnya, kepedulian generasi muda terhadap lingkungan juga perlu terus ditingkatkan. Tingginya penggunaan media sosial, lanjutnya, membuat sebagian anak muda semakin jauh dari lingkungan sosial maupun alam di sekitarnya.

“Anak muda sekarang banyak menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling TikTok, Reels, dan berbagai platform lainnya. Akibatnya mereka semakin jauh dari lingkungan sosial dan alam di sekitarnya,” ujarnya.

Selain membahas komunikasi lingkungan dan mitigasi bencana, AICCON ke-6 juga menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang kini semakin banyak dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, penelitian, hingga kehidupan sehari-hari.

Ia menegaskan AI harus dipahami sebagai alat bantu yang mempercepat pekerjaan manusia, bukan menggantikan fungsi berpikir maupun pengambilan keputusan.

“AI itu tools atau alat. Kendalinya tetap ada di manusia. Teknologi membantu mempercepat proses teknis, tetapi ide, analisis, dan verifikasi tetap harus dilakukan oleh manusia,” jelasnya.

Menurutnya, salah satu manfaat AI di dunia akademik adalah mempercepat pencarian referensi ilmiah. Jika sebelumnya dosen maupun peneliti membutuhkan waktu berhari-hari mencari jurnal yang relevan, kini proses tersebut dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit.

“Dulu mencari lima sampai sepuluh artikel yang benar-benar sesuai bisa memakan waktu satu minggu. Sekarang dengan bantuan AI, dalam hitungan menit kita bisa mendapatkan ratusan referensi yang relevan,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan seluruh informasi yang dihasilkan AI tetap harus diverifikasi. Menurutnya, masih banyak pengguna yang menerima hasil AI secara mentah tanpa memeriksa kembali sumber data yang digunakan.

“Yang sering menjadi masalah adalah ketika orang percaya sepenuhnya kepada AI. Semua informasi yang keluar dianggap benar tanpa dicek lagi sumbernya. Padahal, verifikasi tetap menjadi kewajiban pengguna,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, fenomena hyper-reality akibat perkembangan AI juga menjadi perhatian. Menurut Anang, kemampuan AI menghasilkan gambar, video, dan berbagai konten digital yang menyerupai kenyataan berpotensi membuat masyarakat sulit membedakan fakta dengan rekayasa teknologi.

“Produksi gambar, video, maupun konten menggunakan AI memang bagus. Tetapi masyarakat tetap harus berpikir kritis karena tidak semuanya mencerminkan realitas yang sebenarnya,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi peran mahasiswa dalam menjalankan fungsi kontrol sosial melalui kritik terhadap berbagai kebijakan publik. Namun, kritik tersebut harus didasarkan pada data dan analisis yang kuat agar tidak memicu disinformasi maupun hoaks.

“Mahasiswa harus menjadi motor komunikasi yang demokratis. Kami sangat mengapresiasi itu. Tetapi kritik harus berbasis data, jangan sampai justru menyebarkan disinformasi atau hoaks,” katanya.

Ia menegaskan literasi digital dan literasi AI menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda saat ini. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mengenal teknologi, tetapi juga harus memahami cara kerja dan mampu memanfaatkannya secara tepat serta bertanggung jawab.

“Kuncinya bukan hanya tahu, tetapi tahu, paham, dan menguasai. Di situlah pentingnya literasi digital dan literasi AI agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna pasif,” tutupnya.

AICCON ke-6 di Padang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas. Konferensi tersebut menghadirkan sejumlah pembicara internasional, di antaranya akademisi dari Malaysia yang membahas komunikasi lingkungan, perwakilan Queensland University yang mengulas komunikasi untuk perubahan sosial, serta pakar media Merlyna Lim yang mengupas peran media di era digital.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news