OPINI: Pendidikan yang Membumbung, Siswa yang Terpasung

20 hours ago 5
 Pendidikan yang Membumbung, Siswa yang TerpasungJusman Usman (Akademisi)

Jusman Usman (Akademisi/Pemerhati Kesehatan Masyarakat)

KabarMakassar.com — Dua hari sebelum hari pendidikan nasional 2026 ini diperingati, potret buram pendidikan kita masih saja memperlihatkan hal miris. Dua orang pelajar di Pare-Pare, Sulsel yang masih berstatus pelajar dan berusia 16 tahun.

Si anak mengaku nekat mengambil ayam karena mengalami kesulitan biaya sekolah. Rencananya hasil penjualan ayam curian itu ingin digunakan untuk membayar uang praktik sekolah.

Saat pemerintah sedang giat-giatnya memperbaiki gizi para murid dan siswa, rupanya tetap saja ada yang luput, yakni dua siswa yang sedang berjuang untuk bertahan tetap sekolah meski dengan cara keliru yang terpaksa mereka lakukan.

Betapa keren tema Hari Pendidikan Nasional kita di 2026 ini yang begitu semangatnya menegaskan “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Sebuah tema yang menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen, baik pemerintah, masyarakat, dan juga lembaga untuk ikut menciptakan pendidikan yang berkualitas, merata, dan berkelanjutan.

Semangat ini yang secara tak langsung ingin dirasakan oleh sang siswa remaja kita ini. Namun apa daya, kondisi ekonomi mereka tidak berbading lurus dengan semangat mereka.

Kita tentu masih ingat bagaimana Eko Prasetyo (2004) dalam salah satu tulisannya mengungkapkan bagaimana wajah pendidikan kita saat ini yang semakin dicemari oleh mahalnya biaya dan kekerasan yang terjadi di dalamnya. Dan para Korbannya selalu dari kalangan orang-orang kalangan bawah.

Jika kita mengaitkan kejadian yang dialami kedua siswa tersebut dengan teori Defenisi Sehat menurut UU Kesehatan No. 23 tahun 1992, maka kita sadar bahwa negara belum sepenuhnya mampu memberikan status “Sehat” kepada setiap warganya. Dimana masih adanya masyarakat yang belum mampu hidup sehat secara sosial dan ekonomi.

Untunglah ada sedikit hiburan di Hardiknas tahun ini, saat siswa SMA Negeri 8 Pinrang bernama Rehan berhasil mendapatkan penghargaan dari National Aeronautics and Space Administration (NASA). Sebuah pengakuan internasional yang diberikan kepada Rehan setelah menemukan celah keamanan atau bug dalam sistem NASA. Capaian yang membanggakan tentunya.

Meskipun nasib berbeda yang dialami kedua remaja di Pare-pare ini, yang gagal menemukan celah dengan tidak ketahuan oleh warga. Namun tetap saja ketiga remaja ini punya impian sama, bisa berkonstribusi kelak ke negerinya sendiri setelah menempuh pendidikan yang layak dan diterima di dunia kerja.

Apa daya nasib berkata lain. Nama Rehan berhasil tercatat dalam Hall of Fame (HoF) NASA, sementara kedua remaja kita ini tercatat dalam catatan kepolisian. Walaupun pada akhirnya masalah ini berkhir damai atas kebesaran hati si pemilik ayam.

Pertanyaannya, apakah pemerintah masih bisa mengangkat tegak mukanya atas prestasi Rehan di level internasional di saat ada dua orang anak bangsa yang terpaksa mencuri hanya untuk sekedar bisa membanyar uang praktiknya?

Mungkin wajah pemerintah kita akan tetap tegak setegak-tegaknya dan tertutup oleh tebalnya lembaran rilis pemberitaan media tentang capaian prestasi global.

Lagipula, bukankah kadang-kadang di mata birokrasi kita, mencuri demi uang praktik mungkin tetaplah kriminalitas, dan sementara gagal membiayai anak bangsa hanyalah masalah anggaran saja yang belum terealisasi.

Setidaknya catatan kecil di Hardiknas tahun ini adalah : Rehan sukses pergi ke bintang-bintang, sementara dua sebaya tetangga Kabupatennya hanya cukup bisa sampai ke meja introgasi. Sebuah jarak yang tetap saja sama jauhnya dari kepedulian negara.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news