Kemiskinan Turun, Pengangguran Naik: Wajah Ganda Ekonomi Sulsel Sepanjang 2025

8 hours ago 3

KabarMakassar.com — Gambaran sosial ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel) sepanjang 2025 menunjukkan dua sisi yang jauh berbeda.

Di satu sisi, angka kemiskinan dan ketimpangan terus membaik. Namun di sisi lain, tekanan di pasar kerja justru meningkat, tercermin dari naiknya tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang semakin tinggi.

Kemiskinan Turun ke Level Terendah
Perbaikan paling menonjol terjadi pada indikator kemiskinan Sulsel. Hingga September 2025, persentase penduduk miskin turun ke angka 7,43 persen atau sekitar 685,14 ribu jiwa terendah dalam enam tahun terakhir.

Penurunan ini melanjutkan tren positif sejak masa pandemi, bahkan melampaui capaian sebelum krisis kesehatan global. Dibanding Maret 2025, jumlah penduduk miskin berkurang hampir 13 ribu orang. Secara tahunan, penurunan mencapai lebih dari 26 ribu orang.

Penopang utama perbaikan ini berasal dari wilayah perdesaan, yang menunjukkan hasil nyata dari program perlindungan sosial dan pembangunan. Sementara di perkotaan, penurunan kemiskinan cenderung stagnan dan nyaris tidak terlihat hasilnya.

“Tren ini menunjukkan pemulihan ekonomi mulai dirasakan lebih luas, terutama di wilayah perdesaan,” demikian gambaran dalam laporan statistik resmi.

Garis Kemiskinan Naik, Tekanan Hidup Sulsel Terus Meningkat

Meski jumlah penduduk miskin menurun, tekanan ekonomi belum sepenuhnya reda. Garis kemiskinan justru naik menjadi Rp514.958 per kapita per bulan atau meningkat 7,74 persen.

Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga kebutuhan dasar, terutama makanan yang menyumbang lebih dari 70 persen komponen garis kemiskinan.

Artinya, standar minimum untuk hidup layak semakin di Sulsel setiap harinya semakin tinggi. Rumah tangga miskin harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk memenuhi kebutuhan dasar, terutama pangan dan energi.

Ketimpangan Sulsel Membaik, Distribusi Lebih Merata

Dari sisi pemerataan, kondisi juga menunjukkan perbaikan. Gini Ratio turun menjadi 0,350 pada September 2025, lebih rendah dibanding Maret 2025 yang berada di angka 0,363.

Penurunan terjadi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Bahkan, berdasarkan indikator Bank Dunia, Sulawesi Selatan masuk kategori ketimpangan rendah dengan pangsa pengeluaran kelompok 40 persen terbawah mencapai 19,24 persen.

Ini menandakan hasil pembangunan mulai lebih merata, tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu.

Ekonomi Tumbuh Stabil, Ditopang Konsumsi dan Investasi

Kinerja ekonomi daerah juga terbilang solid. Sepanjang 2025, ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh 5,43 persen, meningkat dari tahun sebelumnya.

Aktivitas ekonomi didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Sektor jasa menjadi motor pertumbuhan baru, sementara ekspor tetap memberikan kontribusi signifikan.

Namun, pada triwulan IV-2025, ekonomi sempat mengalami kontraksi ringan akibat penurunan ekspor. Meski begitu, lonjakan belanja pemerintah dan investasi mampu menahan perlambatan lebih dalam.

Struktur ekonomi masih didominasi konsumsi rumah tangga dengan kontribusi lebih dari 50 persen, diikuti investasi dan belanja pemerintah.

Pengangguran Sulsel Naik, Pasar Kerja Tertekan

Di tengah perbaikan berbagai indikator tersebut, masalah muncul di sektor ketenagakerjaan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) justru meningkat menjadi 4,45 persen pada November 2025.

Jumlah pengangguran bertambah sekitar 9,84 ribu orang dibanding periode sebelumnya. Pada saat yang sama, jumlah penduduk bekerja justru menurun.

Kondisi ini menandakan pasar kerja belum mampu menyerap tambahan tenaga kerja yang terus meningkat.
“Peningkatan TPT menjadi sinyal adanya tekanan di pasar kerja yang perlu segera direspons,” demikian catatan dalam data ketenagakerjaan.

Perempuan dan Perkotaan Paling Terdampak di Sulsel

Tekanan pengangguran tidak merata. Kelompok perempuan mencatat tingkat pengangguran lebih tinggi, yakni 5,10 persen, dibanding laki-laki 4,03 persen.

Di sisi wilayah, pengangguran di perkotaan mencapai 6,08 persen jauh di atas perdesaan yang hanya 2,84 persen.

Sementara dari sisi pendidikan, lulusan menengah terutama SMK menjadi kelompok paling rentan dengan TPT tertinggi mencapai 9,74 persen.

Dominasi Sektor Informal Masih Tinggi Struktur ketenagakerjaan juga menjadi tantangan tersendiri.

Sebagian besar pekerja masih berada di sektor informal dengan proporsi 58,82 persen.

Meski terjadi sedikit peningkatan di sektor formal, dominasi pekerjaan informal menunjukkan kualitas pekerjaan yang belum optimal, termasuk dari sisi pendapatan dan perlindungan tenaga kerja.

Pemulihan Berjalan, Tantangan Baru Terus Muncul

Secara umum, Sulsel menunjukkan pemulihan ekonomi yang kuat dan inklusif, ditandai dengan turunnya kemiskinan dan ketimpangan.

Namun, peningkatan pengangguran menjadi alarm baru. Pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya sejalan dengan penciptaan lapangan kerja yang memadai.

Kondisi ini menegaskan bahwa agenda ke depan tidak hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memastikan kualitas tenaga kerja dan perluasan kesempatan kerja agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan secara merata.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news