Hamsinah Hasan
- Dosen Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia/ Mahasisiwi Program Doktor Ilmu Farmasi Universitas Indonesia (Dok: Ist)
Oleh: Hamsinah Hasan (Dosen Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia/ Mahasisiwi Program Doktor Ilmu Farmasi Universitas Indonesia)
KabarMakassar.com – Berkunjunglah ke Takalar di setiap momentum akbar ini. Demikianlah ajakan yang cukup menarik di setiap tahunnya, khususnya jelang tanggal 29 Rabiul Awal, Sungai Cikoang di Kabupaten Takalar berubah wajah. Perahu-perahu kayu kecil yang disebut julung-julung dihias dengan kain warna-warni, telur-telur hias, dan hasil bumi, lalu diarak dengan penuh khidmat. Di baliknya, gema salawat dan tabuhan rate mengiringi setiap langkah warga Cikoang merayakan Maudu Lompoa, puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang telah berlangsung sejak abad ke-17.
Namun di balik kemeriahan yang setiap tahun menyedot perhatian pengunjung dari berbagai daerah, ada pertanyaan yang layak kita renungkan bersama, kira-kira sampai kapan tradisi ini akan bertahan selain sebagai denyut identitas masyarakat Sulawesi Selatan, warisan tradisi kearifan lokal untuk generasi mendatang, sekaligus tak hanya sekadar tontonan budaya yang kehilangan maknanya.
Maudu Lompoa bukan sekadar perayaan seremonial. Ia adalah warisan yang lahir dari pertemuan panjang antara ajaran Islam dan kearifan lokal Makassar. Setiap elemen dalam ritual ini menyimpan filosofi yang dalam.
Beras yang disusun dalam julung-julung melambangkan syariat sebagai fondasi tubuh, ayam menandai tarekat sebagai jiwa, kelapa menyimbolkan hakikat sebagai hati, sementara telur merepresentasikan ma’rifat, puncak pemahaman spiritual seorang hamba kepada Sang Pencipta. Empat unsur ini, yang dahulu diajarkan oleh Sayyid Jalaluddin al-Aidid kepada komunitas Sayyid di Cikoang, bukan hanya ritus keagamaan, melainkan juga sistem pengetahuan yang mengajarkan keseimbangan antara jasmani dan rohani. Namun justru letak kekayaan Maudu Lompoa pada aspek bahwa ia adalah teks budaya yang ditulis bukan dengan aksara, melainkan dengan laku dan simbol yang diwariskan lintas generasi.
Sayangnya, kekayaan semacam ini kerap terancam oleh dua kekuatan besar yang berjalan beriringan, yaitu modernisasi dan pergeseran generasi. Generasi muda Cikoang hari ini tumbuh di tengah derasnya arus digital, di mana identitas global lebih mudah diakses ketimbang narasi lokal tentang asal-usul mereka sendiri. Jika tidak diimbangi dengan upaya pewarisan yang serius, ada risiko nyata bahwa Maudu Lompoa akan mengalami reduksi makna, dari ritual sarat filosofi menjadi sekadar festival tahunan yang dinikmati sebagai hiburan visual semata.
Padahal, sebagaimana banyak tradisi lokal di Nusantara, nilai sejati dari Maudu Lompoa tidak terletak pada kemeriahan perahu hias yang berjejer di sungai, melainkan pada pesan solidaritas sosial, penghormatan kepada leluhur, dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang terus dihidupkan setiap tahunnya.
Di titik inilah pelestarian kearifan lokal menjadi agenda yang tidak bisa ditawar. Pelestarian bukan berarti membekukan tradisi dalam bentuknya yang lama, melainkan memastikan generasi penerus memahami akar filosofis di balik setiap simbol yang mereka rayakan.
Pemerintah daerah, tokoh adat, dan lembaga pendidikan di Sulawesi Selatan memiliki tanggung jawab bersama untuk mengintegrasikan pengetahuan tentang Maudu Lompoa ke dalam kurikulum muatan lokal, program literasi budaya, maupun riset akademik yang mendokumentasikan tradisi ini secara sistematis.
Upaya mendorong Maudu Lompoa sebagai warisan budaya tak benda tingkat nasional patut diapresiasi, tetapi pengakuan formal semacam itu hanya akan bermakna jika diiringi dengan penguatan pemahaman di akar rumput, di kalangan warga Cikoang sendiri, terutama generasi muda yang kelak akan menjadi pewaris utama tradisi ini.
Identitas budaya sebuah bangsa tidak lahir dari monumen atau museum semata, tetapi dari tradisi hidup yang terus dipraktikkan oleh masyarakatnya. Maudu Lompoa adalah salah satu bukti bahwa Islam dan budaya lokal di Sulawesi Selatan dapat berpadu secara harmonis tanpa saling meniadakan.
Ia mengajarkan bahwa merayakan kelahiran Nabi tidak harus seragam di seluruh penjuru negeri, melainkan dapat mengambil wajah yang khas sesuai konteks budaya setempat, tanpa mengurangi kedalaman makna keagamaannya. Justru di situlah kekuatan Nusantara: kemampuannya merangkul keberagaman ekspresi keimanan dalam satu bingkai persaudaraan.
Sebagai masyarakat Sulawesi Selatan, kita memiliki pilihan. Membiarkan Maudu Lompoa perlahan tereduksi menjadi tontonan tahunan tanpa kedalaman makna, atau menjadikannya ruang belajar lintas generasi tentang siapa kita dan dari mana akar keislaman serta kebudayaan kita berasal.
Menjaga julung-julung tetap berlayar di Sungai Cikoang setiap tahun tentu penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah menjaga agar filosofi di baliknya agar tidak ikut hanyut oleh zaman.
Khan tidak elok rasanya jika generasi mendatang hanya bisa menikmati tradisi akbar ini hanya melalui video-video lawas dan cerita turun temurun bekas tempat pelaksanaannya. Sebab pelestarian sejati bukan sekadar mengulang ritual, melainkan mewariskan sebuah makna.

















































