Ilustrasi anak-anak. - Harian Jogja
Keterlibatan ayah dalam pengasuhan bukan sekadar pelengkap dalam keluarga, melainkan fondasi penting bagi tumbuhnya generasi yang sehat secara emosional dan menjunjung kesetaraan. Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga pendidik nilai, pembentuk karakter, dan teladan tentang bagaimana laki-laki memperlakukan perempuan secara adil dan bermartabat.
Dalam tradisi Islam, kisah Luqman dalam Al-Qur’an menggambarkan sosok ayah yang menasihati anaknya tentang tauhid, akhlak, dan tanggung jawab moral. Ayah hadir sebagai pendidik nilai. Dalam hadis riwayat Muhammad yang diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Kepemimpinan ayah bukan hanya soal otoritas, tetapi soal keteladanan dan tanggung jawab.
Secara ilmiah, keterlibatan ayah juga terbukti berpengaruh besar. Psikolog perkembangan Michael E. Lamb dalam The Role of the Father in Child Development menjelaskan bahwa anak dengan ayah yang terlibat aktif cenderung memiliki regulasi emosi lebih baik, tingkat agresivitas lebih rendah, serta kepercayaan diri dan capaian akademik yang lebih tinggi. Pada anak perempuan, kehadiran ayah yang suportif memperkuat rasa aman dan harga diri dalam relasi sosial.
Nilai kesetaraan justru dibentuk melalui praktik sederhana sehari-hari. Anak laki-laki yang melihat ayahnya mencuci piring, menjemur pakaian, atau menghormati ibu tanpa kekerasan, akan menyerap pesan bahwa pekerjaan domestik bukan identitas gender, melainkan tanggung jawab bersama. Anak perempuan yang melihat ayahnya hadir saat persalinan, menyiapkan sarapan, datang ke pembagian rapor, atau mendampingi ketika gagal dalam lomba, akan mengingat bahwa ia dibesarkan oleh laki-laki yang peduli dan setara.
Pengalaman pribadi saya memperlihatkan hal itu. Saya pernah menjadi satu-satunya subjek laki-laki dalam penelitian etnografi “Laundry Lives” (2015) yang dilakukan antropolog Australia, Sarah Pink, tentang praktik mencuci di Yogyakarta. Aktivitas domestik yang kerap dianggap remeh atau “tidak maskulin” justru menjadi ruang pembelajaran kesetaraan dalam keluarga. Anak tidak belajar kesetaraan dari ceramah, melainkan dari contoh nyata.
Namun, menjadi ayah yang terlibat bukan tanpa tantangan. Budaya patriarki masih kuat. Tidak jarang muncul komentar sinis ketika seorang ayah menjemur pakaian atau aktif di grup wali murid yang mayoritas ibu-ibu. Secara struktural, tekanan ekonomi dan waktu kerja panjang juga membuat peran domestik dianggap sebagai “tambahan”, bukan bagian dari kepemimpinan keluarga. Ada pula konflik psikologis: sebagian ayah tumbuh dengan model pengasuhan lama, di mana ayah jarang menyentuh pekerjaan rumah. Mengubah pola itu memerlukan kesadaran dan dialog dalam pasangan.
Di sisi lain, negara dan pemerintah daerah mulai memberi pengakuan struktural atas pentingnya peran ayah. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan menegaskan kewajiban ayah hadir mendampingi ibu dan anak, mendukung ASI eksklusif, serta memastikan akses layanan kesehatan. Ini pesan penting bahwa pengasuhan bukan urusan ibu semata.
Di tingkat daerah, Peraturan Daerah DIY Nomor 4 Tahun 2023 memastikan laki-laki dan perempuan memperoleh akses, partisipasi, dan manfaat pembangunan secara setara, termasuk dalam keluarga. Sementara Peraturan Daerah DIY Nomor 7 Tahun 2018 menegaskan bahwa ketahanan keluarga adalah tanggung jawab bersama yang dijalankan melalui fungsi-fungsi keluarga secara setara. Bahkan Pasal 31 perda tersebut secara eksplisit menyebut dukungan pemerintah daerah berupa edukasi keharmonisan keluarga dan pemberian kesempatan suami mendampingi istri saat melahirkan.
Artinya, peran ayah bukan lagi sekadar pilihan moral individual, melainkan bagian dari agenda pembangunan manusia. Ketahanan keluarga, kualitas generasi, dan kesetaraan gender bertemu dalam figur ayah yang hadir.
Pertanyaannya sederhana: akan seperti apa generasi yang tumbuh jika ayah-ayahnya hanya hadir sebagai penyedia biaya, tetapi absen secara emosional? Sebaliknya, bayangkan generasi yang menyaksikan ayahnya mencintai, menghormati, dan berbagi tanggung jawab dengan setara. Di sanalah masa depan dibentuk—di meja makan, di ruang keluarga, dan di tangan ayah yang tidak gengsi mencuci piring dan baju anaknya.
Karena pada akhirnya, fathers matter. Ayah yang hadir bukan hanya membesarkan anak, tetapi sedang membangun peradaban dan kemanusiaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

12 hours ago
7

















































