Foto ilustrasi hotel. / Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Tingkat okupansi hotel di Bantul hingga pertengahan April 2026 masih rendah di kisaran 30%, di tengah tekanan kenaikan harga dan kelangkaan LPG non subsidi.
Pelaku industri perhotelan mengaku biaya operasional meningkat signifikan, terutama pada sektor food and beverage (FnB) yang bergantung pada pasokan gas.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Bantul, Yohanes Hendra Dwi Utomo, menyebut kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha.
“Capaian okupansi sampai pertengahan April ini masih rendah sekali di Bantul, kurang lebih hanya 30%,” ujarnya.
Ia berharap situasi membaik pada Mei 2026 seiring banyaknya tanggal merah yang berpotensi mendongkrak kunjungan wisata.
Di sisi lain, kenaikan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) non subsidi turut menambah beban operasional hotel. Selain mahal, pasokan tabung LPG 50 kg juga disebut sulit didapat.
“Kita kesulitan mendapatkan LPG 50 kg, sehingga terpaksa beralih ke tabung 12 kg. Namun penggunaannya tidak maksimal karena harus mengubah jalur instalasi,” jelasnya.
Perubahan tersebut memaksa hotel membuat sistem portabel untuk menyambungkan tabung 12 kg langsung ke kompor, yang sebelumnya terhubung melalui pipa khusus untuk tabung besar.
Meski biaya meningkat, pelaku usaha masih berupaya menyesuaikan harga pokok penjualan (HPP) agar tetap dalam batas yang dapat ditanggung.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha, promosi terus digencarkan guna meningkatkan tingkat hunian.
“Kami tetap melakukan promosi agar kunjungan meningkat dan bisa menutup biaya operasional yang naik,” tambahnya.
Sementara itu, PT Pertamina (Persero) menjelaskan penyesuaian harga BBM dan LPG non subsidi mulai 18 April 2026 dilakukan mengikuti regulasi pemerintah.
Area Manager Communication, Relations, & CSR Regional JBT, Taufiq Kurniawan, menyebut penyesuaian tersebut mengacu pada Kepmen ESDM No.245.K/MG.01/MEM.M/2022, dengan mempertimbangkan harga minyak dunia dan kurs dolar.
Ia menegaskan mayoritas konsumsi LPG masih didominasi LPG subsidi 3 kg yang tidak mengalami perubahan harga, sehingga dampak terhadap masyarakat luas dinilai terbatas.
Meski menghadapi tekanan biaya dan okupansi rendah, pelaku industri perhotelan Bantul berharap momentum libur panjang mampu mendorong pemulihan sektor pariwisata dalam waktu dekat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

8 hours ago
4

















































