Harianjogja.com, TANGERANG—Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan Indonesia sedang bertransformasi dari sekadar pasar otomotif menjadi basis produksi kendaraan.
Perubahan tersebut, menurutnya, menjadi arah baru pengembangan industri otomotif nasional yang ditopang oleh pertumbuhan produksi, ekspor, serta meningkatnya investasi di sektor manufaktur.
Pernyataan itu disampaikan Agus Gumiwang saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (30/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan tiga pesan utama pemerintah kepada pelaku industri otomotif nasional.
"Indonesia sedang dalam proses berpindah dari berbasis pasar menjadi basis produksi," ujar Agus.
Industri Otomotif Jadi Penopang Ekonomi Nasional
Pada pesan pertama, Menperin menekankan industri otomotif tidak hanya berperan sebagai sektor perdagangan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Menurut Agus, di tengah ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi global, perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh 5,6 persen pada triwulan I-2026.
Sektor industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional dengan menyumbang 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) serta lebih dari 82 persen terhadap total ekspor nasional.
Selain itu, industri alat angkutan tercatat memberikan nilai tambah lebih dari Rp285 triliun bagi perekonomian Indonesia.
Produksi Kendaraan Nasional Terus Meningkat
Pesan kedua yang disampaikan Menperin berkaitan dengan posisi Indonesia yang mulai memasuki fase baru sebagai basis produksi otomotif.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan produksi kendaraan bermotor sepanjang semester I-2026 mencapai 615 ribu unit, meningkat 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, penjualan kendaraan secara wholesales juga tumbuh 15,9 persen menjadi 436 ribu unit.
Dengan tren tersebut, Agus optimistis target penjualan kendaraan domestik sebanyak 850 ribu unit sepanjang 2026 dapat tercapai.
Meski demikian, ia menilai potensi pasar otomotif Indonesia masih sangat besar karena tingkat kepemilikan kendaraan masih jauh di bawah negara-negara tetangga.
Saat ini rasio kepemilikan mobil di Indonesia baru sekitar 99 unit per 1.000 penduduk, sedangkan Thailand telah mencapai 275 unit per 1.000 penduduk dan Malaysia sekitar 490 unit per 1.000 penduduk.
"Artinya, dengan jumlah penduduk sekitar 284 juta jiwa, kenaikan satu unit saja pada rasio tersebut setara dengan tambahan sekitar 280 ribu kendaraan hampir sepertiga dari seluruh pasar domestik kita hari ini. Angka 850 ribu unit bukanlah batas atas. Ini baru titik awal. Pasar otomotif Indonesia jauh dari jenuh, pasar kita justru baru dimulai," katanya.
Menurut Agus, besarnya peluang tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat industri otomotif nasional melalui peningkatan produksi dalam negeri.
"Dan justru karena itulah pesan pemerintah menjadi semakin tegas, ruang tumbuh sebesar itu tidak boleh diisi oleh produk impor. Ruang itu harus diisi oleh barang yang diproduksi dalam negeri," ujarnya.
Ekspor Naik, Impor Kendaraan Turun
Agus juga memaparkan sejumlah indikator yang menunjukkan semakin kuatnya posisi Indonesia dalam rantai pasok industri otomotif global.
Sepanjang semester I-2026, ekspor kendaraan utuh atau completely built-up (CBU) meningkat 7,7 persen, ekspor completely knocked down (CKD) tumbuh 38 persen, sedangkan ekspor komponen melonjak 46 persen.
Di sisi lain, impor kendaraan utuh justru mengalami penurunan hingga 49 persen.
Menurut Agus, tren tersebut menunjukkan Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar, tetapi mulai berkembang sebagai negara produsen kendaraan.
"Empat variabel itu membentuk satu pola tunggal, dan pola itulah pesan yang sesungguhnya, semakin dalam posisi kita di dalam rantai nilai, semakin cepat pertumbuhannya. Indonesia tidak lagi sekadar mengekspor kendaraan. Kita telah mulai mengekspor kemampuan untuk membuat kendaraan. Arsitektur rantai pasok yang kita sepakati bersama berjalan pada jalur yang tepat, dan arah inilah yang harus kita jaga dengan sungguh-sungguh," katanya.
Transisi Energi Dilakukan Melalui Multijalur
Pada pesan ketiga, Menperin menegaskan pemerintah tetap mendorong transisi energi di sektor otomotif melalui pendekatan multijalur yang disesuaikan dengan kebutuhan nasional.
Ia mengungkapkan penjualan kendaraan elektrifikasi sepanjang semester I-2026 meningkat 69,4 persen menjadi sekitar 117 ribu unit, atau setara 26,8 persen dari total penjualan kendaraan penumpang nasional.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 69 ribu unit merupakan battery electric vehicle (BEV) atau kendaraan listrik berbasis baterai.
Menurut Agus, capaian tersebut menunjukkan transformasi industri otomotif nasional berjalan seiring dengan penguatan industri manufaktur dalam negeri sekaligus mendukung target transisi menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

7 hours ago
8
















































