KLIKPOSITIF — Bedah mulut pada tindakan odontektomi adalah tindakan pembedahan pada gigi yang mengalami impaksi atau pertumbuhan yang tidak normal, baik itu tumbuh miring, tertanam atau tidak bisa keluar sepenuhnya dimana paling sering terjadi pada gigi bungsu. Tindakan ini dilakukan oleh dokter gigi spesialis bedah mulut ketika pencabutan biasa tidak memungkinkan atau diperlukan penanganan khusus.
Tindakan odontektomi memerlukan manajemen anestesi yang tepat untuk menjamin kenyamanan pasien dan keberhasilan tindakan. Pemilihan teknik anestesi harus mempertimbangkan anatomi rahang dan gigi, tingkat kecemasan pasien, durasi tindakan, serta risiko komplikasi. Metode anestesi yang paling umum digunakan adalah anestesi lokal dengan atau tanpa sedasi, dengan fokus pada blok saraf alveolar posterior superior dan infiltrasi lokal.
Namun, gigi impaksi dimana gigi gagal erupsi/tumbuh secara normal ke dalam rongga mulut akibat hambatan jaringan keras maupun jaringan lunak. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti nyeri, infeksi, kerusakan gigi tetangga, kista odontogenik, dan gangguan fungsi pengunyahan. Salah satu metode penatalaksanaan yang sering dilakukan adalah odontektomi atau pencabutan gigi impaksi.
Artikel ini bertujuan untuk mengulas proses anestesi pada odontektomi, yang meliputi evaluasi pra-anestesi, bius umum/total, hingga manajemen pascaoperasi.
Keberhasilan prosedur odontektomi ini sangat bergantung pada kontrol nyeri melalui teknik anestesi yang tepat. Impaksi gigi bungsu pada rahang atas memiliki karakteristik tersendiri karena pada regio maksila punya struktur tulang yang lebih porous dibandingkan mandibula, sehingga memungkinkan difusi anestesi yang lebih baik. Pada kasus tertentu, penggunaan anestesi umum dipilih pada kasus impaksi yang kompleks, tindakan bedah yang diperkirakan berlangsung lama, pasien dengan kecemasan tinggi, atau ketika beberapa gigi impaksi harus dicabut dalam satu sesi operasi.
Tindakan awal yang dilakukan adalah melakukan tindakan Evaluasi Pra Anastesi untuk mengetahui penyulit dalam tindakan bedah mulut. Evaluasi pra-anestesi bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi sistemik pasien yang dapat memengaruhi tindakan anestesi. Hal-hal yang perlu diperhatikan seperti Riwayat medis (penyakit kardiovaskular, asma, diabetes), Anamnesis lengkap mengenai riwayat penyakit, alergi, obat-obatan yang sedang dikonsumsi, dan riwayat anestesi sebelumnya, penetapan status fisik berdasarkan ASA (American Society of Anesthesiologists), Penilaian jalan napas (airway assessment) untuk memprediksi kemungkinan kesulitan intubasi, pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan radiografi, seperti foto panoramik atau Cone Beam Computed Tomography (CBCT), untuk menentukan posisi dan tingkat kesulitan impaksi. Pemeriksaan fisik dasar, termasuk tekanan darah dan denyut nadi.
Pasien juga dipuasakan minimal selama 6 jam sebelum tindakan operasi dan dipasang infus untuk menjaga status cairan pasien selama berpuasa. Jalur infus ini nanti juga berfungsi sebagai jalur pemberian obat intravena.
Pemasangan alat monitor standar, Elektrokardiografi (EKG) untuk memantau aktivitas jantung, pengukuran tekanan darah noninvasif. pulse oximetry untuk memantau saturasi oksigen, Kapnografi untuk memantau kadar karbon dioksida selama ventilasi merupakan prosedur kadangkala dilakukan selanjutnya sebagai alat pengawasan selama prosedur operasi bedah mulut dilakukan.
Setelah semua terpasang maka induksi untuk anestesi umum dilakukan. Induksi anestesi umum merupakan tahap awal untuk membuat pasien kehilangan kesadaran. Obat anestesi diberikan melalui jalur intravena sehingga bekerja dengan cepat menggunakan agen hipnotik untuk menginduksi tidur anestesi, Analgesik opioid untuk mengurangi respons nyeri dan Relaksan otot apabila diperlukan.
Karena tindakan dilakukan di rongga mulut, pengelolaan jalan napas menjadi aspek yang sangat penting. Metode yang digunakan adalah intubasi trakeal, yaitu pemasangan pipa endotrakeal baik melalui ronga mulut ataupun melalui hidung menuju trakea. Teknik ini memberikan akses yang lebih luas bagi operator untuk melakukan prosedur bedah di rongga mulut.
Prosedur operasi bedah mulut dilakukan dan anestesi dipertahankan selama operasi menggunakan agen anestesi inhalasi atau teknik Total Intravenous Anesthesia (TIVA). Dokter anestesi terus memantau kondisi pasien melalui alat alat yang telah dipasang sebagaimana dijelaskan tadi.
Setelah prosedur bedah selesai, pemberian obat anestesi dihentikan secara bertahap. Pasien kemudian dibangunkan sambil dilakukan pemantauan ketat terhadap fungsi pernapasan dan sirkulasi.
Apabila digunakan relaksan otot selama operasi, diberikan obat antagonis untuk mengembalikan fungsi otot normal. Setelah pasien mampu bernapas secara normal dan refleks protektif telah kembali, pipa endotrakeal dapat dilepas (ekstubasi).
Pasien kemudian dipindahkan ke ruang pemulihan (Post-Anesthesia Care Unit/PACU) untuk observasi lebih lanjut
Anestesi umum merupakan pilihan yang efektif dan aman untuk pencabutan impaksi molar ketiga maksila pada kasus-kasus tertentu.
Keberhasilan prosedur sangat bergantung pada evaluasi pra-anestesi yang menyeluruh, pengelolaan jalan napas yang tepat, pemantauan intraoperatif yang ketat, serta perawatan pascaoperasi.

4 days ago
16


















































