
Program bertajuk Workshop and Fieldtrip on Municipal Waste Management: Empowering Communities di Kelurahan Terban, Gondokusuman, pada Rabu (23/7/2026). Ist/ Kelurahan Terban
Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 22 mahasiswa internasional dari 17 negara diterjunkan ke Kelurahan Terban dan Kelurahan Baciro di Kemantren Gondokusuman untuk mempelajari secara langsung pengelolaan sampah perkotaan di Kota Jogja. Program ini menggabungkan pembelajaran lapangan, pemanfaatan teknologi, dan keterlibatan masyarakat dalam mencari solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Kegiatan bertajuk Workshop and Fieldtrip on Municipal Waste Management: Empowering Communities Through Sustainable Waste Solutions merupakan kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Pemerintah Kemantren Gondokusuman yang digelar di Aula Kelurahan Terban pada Rabu (23/7/2026).
Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, peserta tahun ini ditempatkan di dua wilayah, yakni Kelurahan Terban dan Kelurahan Baciro di Kemantren Gondokusuman. Pembagian lokasi dilakukan untuk memberikan pengalaman yang lebih beragam karena masing-masing kelurahan memiliki karakteristik, tantangan, dan pola pengelolaan sampah yang berbeda.
Ketua panitia, Irfan Dwijaya Prijambada, mengatakan para peserta tidak hanya mempelajari teknologi pengelolaan sampah, tetapi juga memahami pentingnya membangun keterlibatan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan sampah.
"Penanganan sampah memerlukan kombinasi antara teknologi dan pendekatan sosial kepada masyarakat. Karena itu mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana kondisi di lapangan," ujarnya saat workshop tersebut.
Menurut Irfan, penempatan mahasiswa di dua kelurahan diharapkan mampu memperluas sudut pandang peserta mengenai berbagai model pengelolaan sampah yang diterapkan masyarakat. Pengalaman tersebut juga dinilai penting untuk mengasah kepekaan sosial sekaligus menguji penerapan ilmu yang dipelajari selama menempuh pendidikan.
Selain mempelajari praktik pengelolaan sampah di Kota Jogja, para mahasiswa juga didorong untuk membagikan pengalaman dari negara asal masing-masing. Keberagaman latar belakang peserta diharapkan dapat memperkaya pertukaran gagasan terkait solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Mantri Pamong Praja Kemantren Gondokusuman, Guritno, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kelurahan Terban dan Kelurahan Baciro sebagai lokasi pembelajaran mahasiswa internasional tersebut.
Menurut dia, persoalan sampah masih menjadi tantangan yang dihadapi pemerintah dan masyarakat di Kota Jogja sehingga kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama antara peserta, pemerintah, dan masyarakat.
Ia berharap kehadiran mahasiswa dari berbagai negara dapat menghadirkan perspektif baru sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam penanganan sampah pada masa mendatang.
Program ini juga melibatkan pemerintah kelurahan, pemerintah kemantren, tokoh masyarakat, serta pihak kampus sebagai bentuk sinergi lintas sektor. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa melakukan peninjauan lokasi pengelolaan sampah, berdialog dengan warga, dan berdiskusi bersama pemerintah setempat mengenai berbagai tantangan pengelolaan sampah di lapangan.
Kolaborasi antara UGM, Pemerintah Kelurahan Terban, Pemerintah Kelurahan Baciro, dan Pemerintah Kemantren Gondokusuman diharapkan dapat memperkuat upaya bersama dalam mencari solusi atas persoalan sampah perkotaan yang menjadi perhatian tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

6 hours ago
3

















































