
Kawah Ijen. (Shutterstock)\n
Harianjogja.com, BANYUWANGI— Geopark Ijen di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, bersiap menjalani revalidasi sebagai UNESCO Global Geopark (UGG) pada 3-7 Agustus 2026. Penilaian ini menjadi penentu keberlanjutan status green card atau kartu hijau yang telah disandang sejak 2023.
Persiapan revalidasi dilakukan melalui rapat koordinasi yang dipimpin Menteri Pariwisata Widhiyanti Putri Wardhana bersama para pemangku kepentingan di Pendopo Kabupaten Banyuwangi pada Sabtu. Seluruh pihak diminta memperkuat koordinasi untuk menindaklanjuti rekomendasi asesor UNESCO.
"Agenda kita kali ini membahas persiapan revalidasi Ijen UNESCO Global Geoprak yang akan berlangsung pada 3-7 Agustus 2026, dan keberhasilan mempertahankan predikat ini menjadi tanggung jawab kita bersama," katanya.
Menurut Widhiyanti, target utama dalam revalidasi tahun ini adalah mempertahankan status green card. Untuk itu, diperlukan sinergi yang semakin kuat agar seluruh rekomendasi asesor UNESCO dapat diimplementasikan secara optimal.
Selain mempertahankan status jaringan Geopark UNESCO yang telah ditetapkan sejak 2023, pengelola juga diminta memperkuat promosi warisan geologi di kawasan Geopark Ijen.
"Juga peningkatan aksesibilitas kemitraan dan pengelolaan kawasan blue fire yang tetap mengedepankan aspek keselamatan dan prinsip pariwisata berkelanjutan," kata Widhiyanti.
Ia optimistis Geopark Ijen mampu mempertahankan status green card dalam penilaian UNESCO Global Geopark tahun ini.
"Sebagai Geopark Terbaik di Indonesia, saya yakin Geopark Ijen akan bisa mempertahankan status green card pada penilaian UNESCO Global Geoprak," katanya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan pengelolaan UNESCO Global Geopark Ijen selama ini dilakukan dengan semangat menjaga warisan geologi, menghidupkan budaya, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark bukan menjadi tujuan akhir, melainkan amanah untuk terus menjaga kelestarian alam dan meningkatkan manfaat bagi masyarakat.
"Bagi kami, nantinya pengakuan tersebut bukanlah garis akhir, melainkan amanah untuk terus menjaga kelestarian alam, meningkatkan kualitas edukasi, memperkuat pemberdayaan masyarakat dan mengembangkan ekonomi lokal secara berkelanjutan," ujarnya.
Ketua Badan Pengelola Geopark Ijen Abdillah Baraas menjelaskan terdapat lima rekomendasi UNESCO yang menjadi perhatian dalam pengelolaan Geopark Ijen. Rekomendasi tersebut meliputi penguatan riset dan pemetaan geologi, peningkatan promosi warisan geologi, penambahan panel informasi edukatif di area geopark, serta peningkatan keaktifan pengelola dalam menyelenggarakan agenda nasional dan internasional.
Ia memastikan berbagai rekomendasi tersebut telah mulai dijalankan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat.
"Rekomendasi sudah kami jalankan dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, provinsi dan pusat," ujarnya.
Rapat koordinasi persiapan revalidasi Geopark Ijen sebagai UNESCO Global Geopark juga diikuti Wakil Bupati Bondowoso As'ad Yahya Syafii, General Manajer Geopark Ijen Abdillah Baras, Kepala Balai Taman Nasional Alas Purwo Probo Resni Aji, Kepala RKW 14 Kawah Ijen Balai Besar Konservasi SDA Jawa Timur Rusdi Santoso, serta jajaran Kementerian Pariwisata.
Revalidasi UNESCO Global Geopark merupakan evaluasi menyeluruh yang wajib dijalani setiap jaringan geopark setiap empat tahun sekali untuk memastikan standar internasional tetap terpenuhi. Hasil evaluasi nantinya akan menentukan status green card (dipertahankan), yellow card (perbaikan selama dua tahun), atau red card (dicabut).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

6 hours ago
2

















































