KLIKPOSITIF- Kisah guru honorer yang mengabdi tanpa kepastian kesejahteraan kembali menjadi sorotan. Hamdani, guru honorer di MTsN 10 Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, harus rela berjalan kaki sejauh 6 kilometer setiap hari ke sekolah setelah sepeda motornya ditarik dealer karena tak mampu membayar cicilan.
Pakar Pendidikan Universitas Dharmas Indonesia (UNDHARI), Prof. Dr. Rodi Chandra, menilai kisah Hamdani merupakan gambaran nyata masih rendahnya perhatian terhadap nasib guru honorer di Indonesia. Bahkan potret buram dari bukti nyata penanggungan pejuang pendidik di Indonesia.
Menurutnya, persoalan kesejahteraan guru honorer telah berlangsung dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya dan hingga kini belum menemukan solusi yang berpihak kepada para pejuang pendidikan. Meski saat kampanye, Prabowo berjanji akan mensejahterakan mereka pada 2024 lalu.
“Ini adalah potret negeri kita yang tidak pernah selesai. Dari masa ke masa persoalan guru honorer terus berulang. Padahal kesejahteraan guru selalu menjadi janji yang disampaikan pemerintah,” ungkapnya kepada Katasumbar.
Ia menegaskan, Hamdani hanyalah satu dari banyak guru honorer maupun tenaga honorer lain yang masih berjuang tanpa kepastian penghasilan dan status kepegawaian. Walaupun setiap periode selalu mengatur regulasi untuk memperhatikan.
“Kita berharap pemerintah segera menaruh perhatian serius. Masih banyak pahlawan pendidikan yang mungkin mengalami kondisi serupa, bahkan lebih berat. Jangan sampai kisah-kisah seperti ini terus bermunculan tanpa ada solusi nyata,” terangnya.
Sebelumnya, kisah Hamdani viral di media sosial saat menerima hadiah sebuah sepeda motor dari rekan-rekan guru MTsN 10 Pesisir Selatan. Bantuan itu diberikan setelah diketahui motornya ditarik dealer akibat tunggakan cicilan.
Ironisnya, Hamdani bukan guru honorer baru. Ia telah mengabdi selama lima tahun. Namun hingga kini belum diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Bahkan, selama setahun terakhir ia tetap mengajar tanpa menerima gaji.
Kepala MTsN 10 Pesisir Selatan, Azwar Alif, membenarkan Hamdani merupakan guru honorer di madrasah tersebut. “Dia memang honorer di sekolah ini. Tidak ada aturan yang membuatnya menerima gaji. Jadi selama setahun terakhir dia mengajar tanpa digaji,” kata Azwar kepada Katasumbar, Selasa (21/7/2026).
Ia mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab Hamdani belum masuk dalam database PPPK karena dirinya baru beberapa bulan menjabat sebagai kepala madrasah.
“Informasi yang saya terima, beliau sempat berkeinginan menjadi pegawai dinas. Mungkin karena itu datanya tidak masuk. Namun saya tidak mengetahui secara pasti,” ujarnya.
Sejak motornya ditarik, Hamdani berjalan kaki sekitar 6 kilometer dari Sungai Gemuruh menuju MTsN 10 Pesisir Selatan di Tigo Sungai, Inderapura, setiap pagi usai menunaikan salat Subuh.
Melihat perjuangan tersebut, para guru berinisiatif menggalang dana melalui program Jumat Berkah. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli satu unit sepeda motor yang diserahkan kepada Hamdani oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Jefrianto, disaksikan seluruh keluarga besar MTsN 10 Pesisir Selatan.
“Kami berharap bantuan ini dapat memudahkan Hamdani menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Lebih dari itu, semoga kepedulian ini semakin mempererat rasa kekeluargaan di lingkungan madrasah,” tutupnya.

16 hours ago
3


















































