
Ilustrasi budi daya perikanan./JIBI
Harianjogja.com, BANTUL— Kemarau panjang yang berlangsung lebih dari dua bulan di Kabupaten Bantul mulai memberikan dampak nyata terhadap sektor perikanan budi daya. Sejumlah pembudidaya ikan terpaksa menghentikan aktivitas produksi karena kolam mengering akibat minimnya pasokan air. Kondisi ini tidak hanya menghentikan usaha sementara, tetapi juga berpotensi mengurangi pendapatan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor tersebut.
Dampak kemarau juga dirasakan oleh kelompok pembudidaya ikan di Padukuhan Karangbendo Tengah, Kalurahan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Seluruh kolam yang dikelola kelompok tersebut mengalami penurunan debit air secara drastis sehingga sebagian besar tidak lagi dapat digunakan untuk memelihara ikan.
Salah seorang pengelola kelompok pembudidaya ikan, Prasetya, mengatakan kekeringan mulai dirasakan sejak pertengahan Juni 2026. Kondisi tersebut diperparah oleh karakteristik tanah di wilayahnya yang mudah menyerap air serta terbatasnya sumber pasokan air selama musim kemarau.
"Kami memang hanya mengandalkan mata air karena jarak sungai cukup jauh, jadi kalau musim kemarau ya seperti ini kolamnya kering," katanya, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, kelompok tersebut mengelola tujuh kolam ikan. Sebanyak lima kolam dimanfaatkan untuk usaha dan konsumsi pribadi, sedangkan dua kolam lainnya digunakan untuk aktivitas pemancingan.
Namun, lima kolam kini telah kosong tanpa ikan karena debit air berkurang secara signifikan. Sementara itu, dua kolam yang tersisa masih menyimpan air dalam jumlah terbatas, tetapi kegiatan pemancingan juga telah dihentikan.
"Yang kolam dua lagi paling akhir bulan ini nanti sudah dikuras. Yang lima kolam itu terakhir panen bulan Juni, setelah itu kami setop karena sama sekali tidak ada pasokan air," jelasnya.
Rata-rata kolam yang dikelola berukuran 3 x 3 meter dengan kedalaman sekitar satu meter. Jenis ikan yang dibudidayakan antara lain nila, bawal, dan lele. Keterbatasan sumber air membuat kelompok tersebut hanya mampu melakukan satu kali siklus budi daya ikan dalam satu tahun.
Prasetya mengakui penggunaan sumur bor sebenarnya dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan air kolam. Namun, biaya operasional yang harus dikeluarkan dinilai tidak sebanding dengan hasil usaha yang diperoleh.
"Tanah di sini juga cepat sekali menyerap air, sementara kalau mau pakai bantuan sumur bor tidak masuk hitungan biayanya," jelas dia.
Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) sebenarnya telah tersedia di wilayah tersebut. Kendati demikian, kelompok pembudidaya ikan tidak berani memanfaatkan air dari sumber tersebut karena khawatir kualitasnya kurang sesuai untuk kebutuhan budi daya ikan.
Menurut Prasetya, warna air yang cenderung kekuningan dikhawatirkan dapat memengaruhi pertumbuhan ikan apabila digunakan secara terus-menerus.
Selain itu, bantuan kolam terpal juga pernah diberikan kepada kelompok pembudidaya ikan. Akan tetapi, fasilitas tersebut tidak lagi digunakan karena persoalan utama tetap berada pada keterbatasan sumber air selama musim kemarau.
"Bantuan kolam terpal juga sudah masuk sebenarnya tapi tidak lagi dipakai karena sumber airnya susah. Jadi kami lebih milih berhenti saja kalau musim kemarau," katanya.
Kemarau di Kabupaten Bantul pada tahun ini tercatat lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kabupaten Bantul menjadi wilayah dengan durasi hari tanpa hujan (HTH) terpanjang di Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia dengan kategori HTH ekstrem panjang.
Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Supari, mengatakan hingga awal Juli 2026, Bantul telah mengalami hari tanpa hujan selama lebih dari 60 hari dan angka tersebut masih berpotensi terus bertambah.
"Menurut data BMKG sampai awal Juli daerah dengan durasi jeda tanpa hujan paling panjang itu teramati di Bantul, DIY dengan kondisi HTH sudah lebih dari 60 hari atau lebih dari dua bulan. Data ini akan terus bertambah karena seiring waktu nanti kondisi HTH-nya akan bertambah dan meluas," kata Supari.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada ketersediaan air. Selain sektor pertanian, kemarau panjang juga mulai memberikan tekanan terhadap sektor perikanan budi daya yang sangat bergantung pada keberlanjutan pasokan air sepanjang tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

17 hours ago
5

















































