Harianjogja.com, BANTUL — Menjelang Iduladha 2026, pergerakan perdagangan hewan kurban di Bantul mulai dipantau intensif oleh DKUKMPP Bantul. Pemerintah daerah tak hanya memastikan ketersediaan hewan, tetapi juga mengukur dampak ekonomi yang muncul di tengah masyarakat.
Kepala Bidang Sarana Perdagangan DKUKMPP Bantul, Zona Paramitha, menyebut pihaknya akan turun langsung bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk memantau lalu lintas perdagangan.
“Yang kami ukur nanti traffic-nya, dari skala ekonomi itu apakah ada peningkatan. Jadi serapan hewan itu apakah disuplai dari Bantul atau nanti dari luar daerah,” katanya, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, tren peningkatan sudah mulai terasa sejak satu hingga dua bulan sebelum Iduladha. Namun, lonjakan paling tajam biasanya terjadi pada masa prepekan atau sepekan sebelum hari raya.
“Kalau istilah orang Jawa itu prepekan, seminggu sebelum Iduladha pasti luar biasa peningkatannya,” ujarnya.
Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, jumlah pengunjung pasar hewan bisa naik hingga 40–45 persen, sementara omzet pedagang meningkat sekitar 30 persen.
Kambing Masih Jadi Primadona
Dari sisi komoditas, kambing tetap menjadi hewan kurban paling diminati di Bantul. Setelah itu, permintaan disusul oleh sapi.
Namun, kebutuhan hewan kurban di Bantul belum sepenuhnya bisa dipenuhi peternak lokal. Pasokan tambahan selama ini datang dari berbagai daerah seperti Wonosobo, Purworejo, Purwokerto hingga Jawa Timur seperti Jombang dan Jember.
“Mereka datang karena melihat peluang pasar. Naluri bisnisnya membaca kalau kebutuhan hewan di Bantul dan Jogja masih kurang,” kata Zona.
Pedagang Musiman Mulai Bermunculan
Selain pasar hewan resmi, Pemkab Bantul juga akan mengawasi munculnya pasar tiban atau pedagang musiman yang biasanya berjualan di pinggir jalan.
Sejumlah titik yang menjadi perhatian antara lain kawasan Jalan Bantul, Jalan Parangtritis, Jalan Imogiri, Jalan Wonosari hingga Ring Road. Aktivitas ini dinilai turut memengaruhi dinamika harga dan distribusi hewan kurban.
Konsumsi LPG Ikut Naik
Tak hanya sektor peternakan, momentum Iduladha juga berdampak pada kebutuhan energi rumah tangga. DKUKMPP Bantul memperkirakan konsumsi LPG akan meningkat signifikan.
Pemkab bahkan telah mengajukan tambahan kuota LPG sekitar 27–30 persen untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan.
Peningkatan ini dipicu perubahan kebiasaan masyarakat yang kini lebih banyak mengolah daging kurban sendiri di rumah.
“Kalau dulu beli tongseng jadi, sekarang banyak yang masak sendiri-sendiri di rumah,” katanya.
Dampak Ekonomi Meluas
Peningkatan aktivitas perdagangan hewan kurban tidak hanya menguntungkan pedagang, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari peternak, transportasi, hingga pelaku usaha kecil di sekitar pasar.
Dengan tren kenaikan ini, Bantul diproyeksikan kembali mengalami perputaran ekonomi yang signifikan selama momentum Iduladha 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

5 hours ago
3

















































