Kegiatan Halal Bihalal dan Media Gathering di Wiji Restaurant Grand Hotel De Djokja, Selasa (31/3 - 2026). Anisatul Umah/Harian Jogja.
JOGJA—Wajah baru Grand Hotel De Djokja mulai terlihat sejak pertengahan Maret 2026 dengan konsep yang tidak hanya menonjolkan sisi heritage, tetapi juga teknologi ramah lingkungan yang langsung terasa bagi tamu. Hotel ini sudah membuka kamar dan restoran untuk umum meski grand opening masih menunggu arahan manajemen pusat.
Transformasi tersebut dikenalkan melalui kegiatan Halal Bihalal dan Media Gathering di Wiji Restaurant di Grand Hotel De Djokja, Selasa (31/3/2026), sekaligus menjadi momentum memperlihatkan berbagai pembaruan fasilitas dan konsep yang diusung.
Soft Opening dan Arah Baru Hotel
Marcomm Manager Grand Hotel De Djokja, Maria Perwitasari, menjelaskan hotel ini telah melakukan soft opening sejak 16 Maret 2026. Ia menegaskan konsep yang dihadirkan bukan sekadar kenyamanan, tetapi juga pengalaman yang menggabungkan nilai sejarah dan keberlanjutan.
Menurutnya, identitas hotel sebagai bangunan bersejarah menjadi daya tarik utama. “Jadi kalau Grand Hotel De Djokja adalah hotel yang punya sisi history, yang pasti kita akan banyak mengekspos informasi terkait sejarahnya,” ujarnya di sela kegiatan.
Hotel ini berada di bawah naungan InJourney Hospitality yang memiliki misi merawat aset negara, termasuk hotel yang pernah menjadi saksi perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Bangunan Lama Tetap Dipertahankan
Secara historis, bangunan hotel ini pernah diduduki tentara Belanda hingga Jepang, bahkan menjadi bagian dari dinamika menjelang Agresi Militer dan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Nilai sejarah tersebut kini diangkat kembali sebagai bagian dari pengalaman menginap.
Maria menyebut hotel ini tidak pernah benar-benar berhenti beroperasi selama puluhan tahun, hanya mengalami perbaikan bertahap. Namun pada 2022, hotel ditutup sementara untuk menjalani renovasi menyeluruh tanpa mengubah struktur asli bangunan.
“Tahun 2022 mulai ditutup untuk mulai renovasi total. Tidak merubah struktur, justru kita akan melestarikan bangunan tersebut mengembalikan seperti bentuk awalnya,” jelasnya.
Teknologi Hemat Energi dan Minim Plastik
Selain mempertahankan arsitektur lama, hotel ini juga menghadirkan teknologi yang mendukung efisiensi energi. Sistem kunci kamar tidak lagi konvensional, melainkan menggunakan sensor otomatis yang langsung mengaktifkan lampu saat tamu membuka pintu.
Teknologi serupa juga diterapkan pada pendingin ruangan yang hanya aktif saat kamar digunakan dan akan mati otomatis ketika jendela dibuka. Penggunaan lampu dengan sistem dimmer memungkinkan pencahayaan menyesuaikan waktu, sehingga konsumsi listrik dapat ditekan.
Dari sisi pengelolaan air, hotel memanfaatkan panel khusus untuk mengatur penggunaan agar lebih efisien. Beberapa fasilitas kamar juga dilengkapi sensor gerak untuk mengoptimalkan penggunaan energi.
Upaya keberlanjutan juga terlihat dari pemilihan amenities. Produk seperti sabun dan sampo menggunakan bahan alami produksi dalam negeri, sementara penggunaan plastik diminimalkan dengan mengganti material ke eco paper, paper bag, hingga sedotan berbahan tepung singkong.
“Kami juga sedang mengusahakan untuk bagaimana penyimpanan-penyimpanan barang tetap bagus tapi tidak menggunakan plastik. Lampu juga ada tombol dimmernya jadi otomatis akan redup jam berapa, tidak menggunakan itu terus menerus,” lanjutnya.
Melalui kegiatan ini, manajemen berharap publik dan media dapat melihat langsung perubahan yang dilakukan, mulai dari fasilitas hingga nilai sejarah yang melekat di dalamnya. Proses menuju grand opening masih menunggu arahan dari manajemen pusat sebagai bagian dari strategi pengelolaan aset negara. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

8 hours ago
4

















































