Jangan Salah Paham, Ini Bedanya MHEV, HEV, PHEV, dan REEV

7 hours ago 3

Jumali

Jumali Selasa, 21 Juli 2026 16:17 WIB

Jangan Salah Paham, Ini Bedanya MHEV, HEV, PHEV, dan REEV

PT Honda Prospect Motor (HPM) melalui model CR-V e:HEV ikut mencicipi gurihnya pasar kendaraan hybrid eletric vehicle (HEV) yang mendominasi penjualan kendaraan listrik hingga September 2023.(Bisnis Indonesia/Dionisio Damara Tonce)

Harianjogja.com, JOGJA—Mobil elektrifikasi kini semakin mudah ditemui di Indonesia. Tidak hanya battery electric vehicle (BEV) atau mobil listrik murni, berbagai jenis mobil hybrid juga terus bermunculan dan menarik minat masyarakat berkat efisiensi bahan bakarnya tanpa bergantung sepenuhnya pada stasiun pengisian daya. Meski begitu, masih banyak calon pembeli yang belum memahami perbedaan teknologi hybrid yang beredar di pasar. Padahal, setiap sistem memiliki karakteristik, cara kerja, hingga tingkat efisiensi yang berbeda.

Secara umum, teknologi yang digunakan saat ini meliputi mild hybrid electric vehicle (MHEV) , hybrid electric vehicle (HEV) , plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) , dan range extended electric vehicle (REEV) .

MHEV: Motor Listrik Hanya Membantu Mesin Bensin

Mild hybrid electric vehicle (MHEV) merupakan teknologi hybrid dengan sistem paling sederhana dibandingkan jenis lainnya. Pada sistem ini, motor listrik tidak berfungsi sebagai penggerak utama kendaraan. Perannya hanya membantu mesin bensin dalam kondisi tertentu, seperti saat akselerasi atau ketika mobil mulai bergerak dari posisi diam.

Karena motor listrik hanya bertindak sebagai pendamping, peningkatan efisiensi bahan bakarnya tidak sebesar HEV maupun PHEV. Meski demikian, MHEV tetap mampu menekan konsumsi bahan bakar sekaligus mengurangi emisi gas buang dibandingkan mobil bermesin konvensional.

Di Indonesia, Suzuki menjadi salah satu produsen yang menerapkan teknologi MHEV pada sejumlah modelnya, seperti Grand Vitara, All New Ertiga Hybrid, XL7 Hybrid, dan Fronx.

HEV: Mesin dan Motor Listrik Saling Berbagi Peran

Berbeda dengan MHEV, hybrid electric vehicle (HEV) memungkinkan motor listrik ikut menggerakkan roda kendaraan, terutama saat kecepatan rendah atau ketika menghadapi kemacetan. Sumber tenaga berasal dari kombinasi mesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) dan motor listrik, yang dapat bekerja secara bergantian maupun bersamaan.

Salah satu keunggulan HEV adalah baterainya tidak perlu diisi menggunakan listrik dari luar. Energi listrik diperoleh dari mesin pembakaran dan sistem regenerative braking , yang mengubah energi saat pengereman menjadi listrik untuk mengisi baterai.

Jenis-jenis HEV:

HEV Seri: Mesin bensin tidak menggerakkan roda secara langsung. Mesin hanya menghasilkan listrik yang kemudian digunakan untuk mengoperasikan motor listrik sebagai penggerak. Contoh: Daihatsu Rocky Hybrid.

HEV Paralel: Mesin bensin dan motor listrik sama-sama memiliki kemampuan menggerakkan roda secara langsung. Contoh: Chery Tiggo Cross Hybrid dan Mitsubishi Xforce HEV.

PHEV: Bisa Digunakan Layaknya Mobil Listrik

Plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) menawarkan kemampuan berkendara menggunakan tenaga listrik murni dengan jarak yang lebih jauh dibandingkan HEV—sekitar 30–100 km tergantung kapasitas baterai. Ketika daya baterai mulai berkurang, mesin bensin akan aktif dan dapat membantu menggerakkan roda.

Keunggulan lain teknologi ini adalah baterainya dapat diisi ulang melalui sumber listrik eksternal. Dengan demikian, pengguna bisa memaksimalkan penggunaan mode listrik untuk aktivitas harian.

Beberapa model yang telah menggunakan sistem PHEV antara lain Lepas L8 dan Wuling Cortez Darion PHEV.

REEV: Mesin Bensin Hanya Menjadi Generator

Range extended electric vehicle (REEV) sering dianggap memiliki cara kerja yang sama dengan PHEV, namun terdapat perbedaan mendasar: pada REEV, roda kendaraan sepenuhnya digerakkan oleh motor listrik. Mesin bensin tidak memiliki hubungan mekanis dengan roda dan hanya bertugas menghasilkan listrik ketika daya baterai mulai menurun.

Karena seluruh tenaga penggerak berasal dari motor listrik, karakter berkendaranya lebih menyerupai mobil listrik murni. Kapasitas baterai REEV umumnya lebih besar, dan saat terisi penuh, kendaraan dapat menempuh jarak sekitar 300 km hanya menggunakan tenaga listrik.

TeknologiMotor Listrik Menggerakkan RodaPengisian Daya EksternalPeran Mesin Bensin
MHEVTidakTidakPenggerak utama
HEVYaTidakBerbagi tugas dengan motor listrik
PHEVYaYaMembantu menggerakkan roda dan mengisi baterai
REEVYaYaHanya sebagai generator listrik

Mana yang Cocok untuk Anda?

MHEV cocok bagi konsumen yang ingin efisiensi bahan bakar tanpa mengubah kebiasaan berkendara.

HEV menjadi pilihan ideal bagi pengguna yang menginginkan konsumsi BBM lebih hemat tanpa perlu mengisi daya baterai.

PHEV cocok untuk pemilik rumah yang memiliki akses pengisian daya dan ingin lebih sering berkendara menggunakan tenaga listrik.

Sementara itu, REEV menjadi alternatif menarik bagi pengguna yang menginginkan sensasi mobil listrik namun tetap memiliki cadangan tenaga dari mesin bensin saat baterai hampir habis.

Pilihan terbaik bergantung pada kebutuhan mobilitas, ketersediaan fasilitas pengisian daya, dan anggaran Anda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news