Harianjogja.com, JOGJA—Menguap ternyata memiliki peran yang lebih penting daripada sekadar menjadi tanda mengantuk atau bosan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa saat seseorang menguap, terjadi perubahan pada aliran cairan serebrospinal dan darah di dalam kepala yang diduga membantu menjaga fungsi otak tetap optimal.
Temuan tersebut membuka pemahaman baru bahwa menguap bukan hanya respons fisiologis biasa. Aktivitas yang dilakukan manusia hampir setiap hari ini diduga ikut membantu pengaturan cairan saraf, suhu otak, hingga proses pembuangan limbah metabolisme di dalam tubuh.
Di antara berbagai keunikan biologis manusia, menguap atau dalam istilah medis disebut oscitation masih menjadi salah satu fenomena yang terus diteliti para ilmuwan. Tidak hanya terjadi pada manusia, hampir seluruh hewan vertebrata juga memiliki kebiasaan menguap.
Mengutip Popular Mechanics, menguap melibatkan gerakan yang terkoordinasi pada bagian dada, diafragma, laring, dan langit-langit mulut. Sebagian besar proses tersebut berlangsung secara tidak sadar atau involunter.
Salah satu keunikan menguap adalah sifatnya yang dapat menular. Seseorang yang berada di ruangan dengan banyak orang menguap cenderung ikut menguap. Sebagian ilmuwan berpendapat bahwa fenomena tersebut merupakan bagian dari mekanisme sosial, sedangkan peneliti lainnya menilai menguap lebih berkaitan dengan pengaturan kondisi fisiologis tubuh.
Sejumlah teori menyebutkan bahwa menguap berperan dalam memperlancar sirkulasi darah, meningkatkan suplai oksigen ke paru-paru, mengatur kadar hormon kortisol, serta memicu berbagai perubahan fisiologis kecil yang membantu menjaga keseimbangan tubuh.
Untuk mengetahui fungsi menguap secara lebih rinci, para ilmuwan dari University of New South Wales dan Neuroscience Research Australia melakukan penelitian terhadap 22 partisipan menggunakan pemindaian magnetic resonance imaging (MRI).
Selama penelitian berlangsung, para partisipan diminta menjalani beberapa kondisi, yakni bernapas secara normal, menguap, menahan keinginan menguap, dan menarik napas dalam dengan kuat.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan yang menarik pada pergerakan cairan serebrospinal atau cerebrospinal fluid (CSF), yakni cairan bening yang berfungsi melindungi otak dan sumsum tulang belakang, serta aliran darah vena di dalam kepala.
Pada kondisi normal, cairan serebrospinal dan aliran darah vena bergerak ke arah yang berlawanan. Namun, saat seseorang menguap, keduanya justru mengalir ke arah yang sama. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa menguap kemungkinan membantu mengatur aliran neurofluida yang penting bagi fungsi otak.
"Pergerakan cairan serebrospinal sangat penting untuk mengangkut zat-zat tertentu dan membuang limbah metabolisme. Namun, pengaruh menguap terhadap dinamika cairan serebrospinal dan aliran darah masih belum banyak diteliti," tulis para peneliti.
Para ilmuwan menilai fenomena ini menunjukkan bahwa menguap bukan sekadar menarik napas lebih dalam, melainkan sebuah manuver kardiorespirasi khas yang membantu mengatur kembali aliran cairan saraf.
Temuan lain dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa aliran darah pada arteri karotis interna meningkat lebih dari sepertiga selama seseorang menguap. Peningkatan tersebut diduga berkaitan dengan pergerakan cairan serebrospinal dan aliran darah vena yang keluar dari rongga tengkorak.
Penulis utama penelitian dari Neuroscience Research Australia, Adam Martinac, mengatakan bahwa manfaat menguap kemungkinan tidak hanya berkaitan dengan satu fungsi tertentu.
"Manusia mungkin tetap bisa hidup tanpa menguap. Namun, bisa jadi ada enam, tujuh, atau bahkan delapan efek kecil yang jika digabungkan membantu tubuh mengatur pembuangan limbah, menjaga suhu tubuh, bahkan memengaruhi dinamika emosional dalam suatu kelompok," ujar Adam Martinac.
Para peneliti juga menduga bahwa menguap yang terjadi secara spontan memiliki dampak fisiologis yang lebih besar dibandingkan menguap yang dipicu karena biasanya berlangsung lebih lama.
Meski demikian, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui secara lebih rinci bagaimana mekanisme perpindahan cairan serebrospinal dan darah vena selama proses menguap berlangsung.
Lebih Sering Terjadi saat Udara Dingin
Selain berkaitan dengan fungsi otak, suhu lingkungan juga diketahui memengaruhi frekuensi seseorang menguap. Penelitian menunjukkan bahwa menguap cenderung lebih sering terjadi ketika seseorang berada di lingkungan dengan suhu udara yang lebih dingin.
Mengutip KlikDokter, penelitian dari Princeton University menjelaskan bahwa menguap merupakan salah satu mekanisme pendinginan otak. Aktivitas tersebut juga diyakini menjadi respons ketika tubuh mengalami kelelahan maupun otak membutuhkan suplai oksigen yang lebih optimal.
Ketika menguap, terjadi peregangan kuat pada rahang yang membantu meningkatkan aliran darah menuju leher, wajah, dan kepala. Dokter Andika Widyatama dari KlikDokter menjelaskan bahwa proses tersebut memungkinkan terjadinya pertukaran antara darah yang lebih hangat dari dalam otak dengan darah yang lebih dingin.
"Karena itulah, menguap lebih sering terjadi saat suhu udara sedang dingin," katanya.
Hingga kini, penyebab pasti mengapa menguap dapat menular juga masih terus diteliti. Penelitian dari University of Nottingham menduga bahwa menguap dipicu oleh refleks primitif pada bagian otak yang disebut korteks motorik primer yang berperan dalam mengatur pergerakan tubuh.
Sementara itu, teori lainnya menyebut bahwa menguap menular berkaitan dengan rasa empati, perilaku meniru, dan cara manusia membangun interaksi sosial dengan orang-orang di sekitarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

3 hours ago
3

















































