
Foto ilustrasi Iran vs Amerika Serikat. - Freepik
Harianjogja.com, TEHERAN—Iran menyatakan angkatan bersenjatanya siap merespons jika Amerika Serikat (AS) melancarkan invasi ke Pulau Kharg. Di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara, Teheran juga mengonfirmasi telah menerima usulan dari sejumlah mediator untuk meredakan konflik dan saat ini tengah mengkajinya.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa Iran masih membuka ruang diplomasi di tengah situasi keamanan yang belum sepenuhnya mereda. Selain menegaskan kesiapan militernya, pemerintah Iran menyatakan korps diplomatik tetap menjalankan upaya-upaya untuk mencegah eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan angkatan bersenjata Iran telah siap menghadapi segala kemungkinan apabila pasukan AS memasuki wilayah negaranya.
"Ya, mereka akan menerima konsekuensinya. Saya pikir ada banyak orang di daerah itu yang sedang menunggu saat yang tepat untuk 'menyambut' mereka," kata Baghaei dalam konferensi pers pada Senin (20/7/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan The Wall Street Journal yang menyebut Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan perluasan operasi militer terhadap Iran. Mengutip sejumlah pejabat AS, laporan itu menyebut salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah pengerahan pasukan darat untuk menginvasi Pulau Kharg.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), seperti dikutip kantor berita Tasnim, juga menegaskan akan segera memukul mundur segala upaya pasukan AS yang memasuki wilayah Iran.
Ketegangan kedua negara sebelumnya sempat mereda setelah AS dan Iran pada 18 Juni menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang pecah sejak 28 Februari. Namun, situasi kembali memanas setelah militer AS melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap Iran sejak 8 Juli dengan alasan merespons tindakan Teheran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah dan menuduh Washington telah melanggar nota kesepahaman penghentian permusuhan yang sebelumnya disepakati.
Meski demikian, Iran menegaskan tetap berkomitmen terhadap jalur diplomasi. Baghaei mengatakan pemerintah Iran telah menerima sejumlah usulan dari para mediator yang bertujuan untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
"Kami telah menerima usulan melalui para mediator, tetapi tidak akan membahas detailnya pada tahap ini," kata Baghaei dalam keterangannya yang disiarkan stasiun televisi pemerintah IRIB.
Ia menambahkan korps diplomatik Iran akan terus menjalankan tanggung jawabnya secara bersamaan dengan angkatan bersenjataan negara. Menurutnya, respons militer dan diplomasi merupakan dua langkah yang sama-sama dijalankan pemerintah Iran dalam menghadapi situasi saat ini.
"Sementara angkatan bersenjata kita menanggapi dengan tegas dan cepat terhadap sumber agresi Amerika, diplomasi sepenuhnya menyadari tugasnya dan tidak akan mengabaikan upaya apa pun dalam memenuhinya," katanya.
Baghaei menegaskan para diplomat Iran tidak akan meninggalkan tanggung jawabnya, sebagaimana angkatan bersenjata negara juga tidak akan mengabaikan tugasnya dalam mempertahankan wilayah Iran.
Selain itu, Iran menyatakan akan bekerja sama dengan Oman untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menjalankan kedaulatannya secara penuh serta mencegah ancaman keamanan di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Dalam kesempatan yang sama, Baghaei juga membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran telah membebaskan seorang warga negara AS yang sebelumnya ditahan atas tuduhan spionase. Ia menegaskan individu yang dimaksud bukan merupakan tahanan dan tidak pernah didakwa atas kasus spionase di Iran.
"Individu yang dimaksud bukanlah tahanan dan tidak didakwa dengan spionase," ujarnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan Iran dan AS, pernyataan Teheran yang tetap membuka ruang diplomasi menjadi salah satu perkembangan yang terus dipantau berbagai pihak. Nasib usulan yang disampaikan para mediator dinilai akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah hubungan kedua negara dan stabilitas kawasan Timur Tengah dalam waktu mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

15 hours ago
5

















































