PADANG, KLIKPOSITIF – Guru Besar di Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Drs. Syafruddin Karimi, SE, MA mengungkapkan, kelompok paling terdampak dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yakni kelas menengah pengguna kendaraan pribadi, pelaku UMKM yang bergantung pada distribusi harian, sopir travel, usaha logistik kecil, petani dan pedagang hasil pertanian, serta sektor pariwisata.
“Di Sumbar, sektor hortikultura akan menghadapi tekanan karena biaya angkut dari sentra produksi ke pasar meningkat. Pedagang kecil akan menghadapi pilihan sulit: menaikkan harga jual atau menyerap kenaikan biaya,” katanya melalui pesan singkat WhatsApp, Rabu siang, 10 Juni 2026.
Selain sektor hortikultura, Syafruddin menyebut sektor pariwisata juga rentan karena kenaikan biaya perjalanan, yang dapat menekan minat wisata domestik, terutama wisata keluarga yang sangat sensitif terhadap biaya transportasi.
“Kenaikan harga BBM ini sejalan secara makro dengan kenaikan BI Rate dari 4,75% menjadi 5,50% dalam arti sama-sama menjadi respons terhadap tekanan eksternal, pelemahan Rupiah, dan inflasi. Akan tetapi, keduanya memberi tekanan ganda kepada rumah tangga dan dunia usaha. BBM menaikkan biaya langsung, sedangkan BI Rate menaikkan biaya kredit dan menahan konsumsi,” paparnya.
Menurutnya, kebijakan ini rasional dari sisi stabilitas makro, tetapi pemerintah daerah perlu menyiapkan respons mikro: menjaga distribusi pangan, menahan ongkos logistik, melindungi UMKM produktif, dan memastikan kenaikan harga energi tidak menjalar menjadi inflasi daerah yang lebih luas.
Sebelumnya, Pertamina mengeluarkan kebijakan terbaru soal harga BBM. Harga Pertamax di Wilayah Sumatera Barat per hari ini, Rabu, 10 Juni 2026 menjadi Rp17.000, -/ liter. Harga ini penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek.
Selain Pertamax, kenaikan harga juga berlaku untuk produk Pertamax Series dan Dex Series, sementara harga BBM subsidi tetap tidak mengalami perubahan.
Berdasarkan daftar harga yang dipublikasikan Pertamina, harga Pertalite sebagai BBM subsidi tetap berada di angka Rp10.000 per liter. Sementara itu, Biosolar subsidi juga masih dijual dengan harga Rp6.800 per liter.
Untuk BBM non-subsidi, harga Pertamax (RON 92) kini menjadi Rp16.250 per liter di wilayah Jabodetabek. Kemudian Pertamax Green 95 dipatok Rp17.000 per liter, sedangkan Pertamax Turbo (RON 98) mencapai Rp20.750 per liter.
Pada kategori bahan bakar diesel non-subsidi, Dexlite (CN 51) dijual dengan harga Rp23.000 per liter. Sementara Pertamina Dex (CN 53) dibanderol Rp24.800 per liter.

7 hours ago
1

















































