Infrastruktur Terintegrasi Dibutuhkan untuk Kawasan Mamminasata

6 hours ago 3
Infrastruktur Terintegrasi Dibutuhkan untuk Kawasan Mamminasata Kereta api Makassar-Parepare di Stasiun Tanete Rilau Kabupaten Barru (dok. Ist)

KabarMakassar.com — Pengembangan infrastruktur konektivitas di Sulawesi Selatan dinilai menjadi kunci untuk mendukung pertumbuhan kawasan industri sekaligus menekan biaya logistik. Konektivitas antarwilayah, khususnya di kawasan Mamminasata, diarahkan untuk menghubungkan pusat produksi dengan pelabuhan dan bandara.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulsel, Asrul Sani, mengatakan kebutuhan infrastruktur menjadi prioritas dalam mendukung pengembangan kawasan industri dan distribusi logistik. Konektivitas antar pusat pertumbuhan dinilai penting agar aktivitas ekonomi dapat berjalan lebih efisien.

“Iya, jadi memang pengembangan kota maupun pembangunan provinsi pasti butuh infrastruktur pendukung untuk mengoneksikan pusat-pusat pertumbuhan. kalau Khusus di Mamminasata itu untuk mengoneksikan bandara, pelabuhan, dan kawasan-kawasan industri,” ujarnya, Senin (04/05).

Ia menjelaskan, pengembangan kawasan Mamminasata telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 55 yang mendorong empat kabupaten/kota untuk mengembangkan kawasan industri. Selain Makassar, wilayah Maros, Gowa, dan Takalar juga menjadi bagian dari pengembangan tersebut.

“Kalau kita merujuk di Perpres 55, ada memang empat kabupaten kota yang diminta untuk mengembangkan kawasan industri. Kalau merujuk juga PP Nomor 14 terkait wilayah pertumbuhan industri, bukan hanya di kawasan industri Makassar, tapi juga Maros untuk mengembangkan kawasan industri Maros, kawasan industri Gowa, sekarang Takalar juga sudah ada, bahkan sudah berstatus proyek strategis nasional,” jelasnya.

Untuk mendukung pengembangan kawasan industri tersebut, pemerintah menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur transportasi yang terintegrasi. Jalur tol maupun kereta api dinilai menjadi solusi dalam menekan biaya logistik sekaligus mempercepat distribusi barang.

“Nah itu diminta untuk dihubungkan infrastrukturnya, baik itu jalan tol maupun kereta api, supaya bisa menekan biaya logistik. Jadi saling terhubung dari pusat-pusat pertumbuhan industri ke pelabuhan dan bandara,” ungkapnya.

Selain di kawasan Mamminasata, pengembangan konektivitas juga direncanakan menjangkau wilayah lain di Sulawesi Selatan. Jalur kereta api yang telah beroperasi di lintas Maros–Barru diharapkan dapat diperluas hingga ke wilayah Luwu Timur.

“Begitu juga di luar kawasan Mamminasata, ini kan sudah ada jalur existing dari Maros ke Barru, itu diharapkan bisa terkoneksi sampai dengan Luwu Timur. Kalau merujuk dengan rencana induk perkeretaapian nasional, sampai 2030 itu dari Makassar mutar ke Bulukumba, naik ke Sinjai, ke Bone. Itu maksudnya untuk menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan yang ada di kabupaten kota dan menekan biaya logistik,” paparnya.

Terkait minat investasi, Asrul menyebutkan tidak hanya Jepang yang menunjukkan ketertarikan terhadap proyek-proyek infrastruktur di Sulsel. Negara lain seperti China juga dinilai memiliki kepentingan, terutama dalam mendukung distribusi komoditas industri.

“Belum secara spesifik, tapi Cina juga pasti berkepentingan. Seperti produksi nikel yang ada di Luwu Timur itu memang lebih feasible sebenarnya kalau ada jalan darat atau kereta api. Dia bisa menghemat sampai dengan 20 persen biaya logistiknya,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan infrastruktur transportasi berbasis rel juga telah terbukti efektif di wilayah lain seperti Sumatera, khususnya untuk mendukung distribusi komoditas unggulan.

“Sama dengan di Sumatera, kereta api itu untuk angkutan barang seperti sawit. Memang pengembangannya harus berkelanjutan,” pungkasnya.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news