Indonesia Tertinggal dari Vietnam soal EBT, Ini Penyebabnya

5 hours ago 2

Indonesia Tertinggal dari Vietnam soal EBT, Ini Penyebabnya

Foto ilustrasi biofuel. Energi bauran bahan bakar minyak dan bahan bakar nabati. - Stockcake AI

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah mengungkap penyebab Indonesia masih tertinggal dibandingkan Vietnam dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), meskipun memiliki potensi energi surya yang jauh lebih besar. Salah satu faktor utama yang dinilai menjadi pembeda adalah kepastian regulasi yang mampu menarik investasi secara masif.

Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Edi Prio Pambudi, mengatakan Vietnam berhasil menjadi motor utama pengembangan energi terbarukan di kawasan ASEAN dalam satu dekade terakhir.

Menurutnya, lebih dari separuh penambahan kapasitas energi terbarukan di ASEAN selama 10 tahun terakhir berasal dari Vietnam. Sementara itu, kontribusi Indonesia masih berada di kisaran 10%.

Padahal, Indonesia memiliki potensi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang sangat besar. Potensi PLTS nasional diperkirakan mencapai sekitar 7.700 gigawatt (GW), sehingga menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Kepastian Aturan Jadi Penentu Investasi

Edi menjelaskan keberhasilan Vietnam tidak hanya ditopang oleh potensi sumber daya, tetapi juga kemampuan pemerintah menghadirkan kepastian bagi investor.

Menurutnya, pemerintah Vietnam menetapkan tarif yang jelas, menyederhanakan proses perizinan, serta membangun regulasi yang membuat ribuan proyek energi bersih layak memperoleh pembiayaan dalam waktu singkat.

"Pelajaran dari setiap negara yang berhasil ternyata sama. Modal mengalir bukan kepada negara dengan sumber daya yang terbanyak, tetapi kepada negara dengan aturan yang paling jelas," katanya dalam Indonesia Net Zero Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Ia menambahkan kepastian regulasi kini menjadi faktor yang lebih penting dibandingkan besarnya insentif yang diberikan pemerintah.

Investor, lanjut Edi, membutuhkan proses perizinan yang cepat, kepastian hukum, serta skema proyek yang memiliki kelayakan pembiayaan (bankable) agar investasi dapat segera direalisasikan.

Investasi Energi Bersih ASEAN Masih Rendah

Dalam kesempatan tersebut, Edi juga menyoroti masih rendahnya investasi energi bersih yang masuk ke kawasan Asia Tenggara.

Saat ini, ASEAN baru mampu menarik sekitar 2% investasi energi bersih global, padahal kawasan tersebut mengonsumsi sekitar 5% kebutuhan energi dunia.

Menurutnya, kesenjangan tersebut bukan disebabkan keterbatasan sumber daya, melainkan masih berkaitan dengan kebijakan yang diterapkan masing-masing negara.

"Kesenjangan ini bukan persoalan sumber daya, melainkan persoalan kebijakan. Persoalan kebijakan adalah sesuatu yang bisa kita selesaikan bersama," ujarnya.

Pemerintah Percepat Reformasi Regulasi EBT

Untuk mengejar ketertinggalan, pemerintah berkomitmen mempercepat reformasi regulasi di sektor energi baru dan terbarukan.

Langkah yang disiapkan meliputi penyederhanaan proses perizinan, peningkatan kepastian investasi, serta penciptaan iklim usaha yang lebih menarik bagi investor.

Pemerintah berharap kebijakan tersebut dapat mempercepat pengembangan EBT di Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing industri hijau nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news