Harianjogja.com, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin, seiring pelaku pasar mencermati dinamika kebijakan domestik yang dinilai menjadi sentimen utama pergerakan pasar saham Indonesia.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyampaikan bahwa perhatian investor saat ini tertuju pada arah implementasi kebijakan otoritas pasar, khususnya terkait delapan rencana aksi percepatan reformasi pasar modal Indonesia yang telah dicanangkan.
“Dalam jangka sangat pendek, IHSG berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidatif, seiring investor masih mencermati arah kebijakan otoritas pasar serta respons investor global terhadap berbagai isu domestik dan eksternal yang berkembang,” ujar Hendra saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Ia memproyeksikan dalam sepekan ke depan pergerakan IHSG akan diwarnai volatilitas tinggi dengan rentang pergerakan yang relatif lebar, yakni berada di kisaran 8.171 hingga 8.480.
Menurut Hendra, arah pergerakan IHSG dalam sepekan mendatang hingga sepanjang Februari 2026 masih sangat dipengaruhi oleh proses penyesuaian kepercayaan pasar, di tengah dinamika kebijakan dan volatilitas yang belum sepenuhnya mereda.
“Setelah mengalami koreksi tajam, pasar saham Indonesia kini memasuki fase krusial, di mana faktor psikologis investor memegang peranan yang sama pentingnya dengan fundamental ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, tekanan masih berpotensi muncul akibat sikap kehati-hatian investor pascagejolak yang terjadi sebelumnya. Meski demikian, peluang terjadinya technical rebound dinilai tetap terbuka, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang telah mengalami koreksi cukup dalam.
Selama tidak muncul sentimen negatif baru yang bersifat ekstrem, Hendra menilai pelaku pasar cenderung berupaya membangun level keseimbangan baru.
“Kondisi ini mencerminkan pasar yang belum sepenuhnya pulih, tetapi juga tidak lagi berada dalam fase panic selling seperti pada fase awal koreksi,” katanya.
Berbagai dinamika yang muncul menjelang akhir pekan, mulai dari isu seputar otoritas pasar modal, dinamika di Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pergerakan harga emas global yang mencerminkan meningkatnya kecenderungan investor mencari aset aman, dinilai turut memperkuat volatilitas jangka pendek.
“Ketidakpastian sentimen global juga masih membayangi pergerakan pasar,” ujar Hendra.
Meski demikian, ia menilai potensi terjadinya trading halt kembali relatif terbatas, selama stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dan komunikasi kebijakan dari otoritas berlangsung jelas, konsisten, serta terkoordinasi.
“Apabila langkah-langkah otoritas dipersepsikan sebagai upaya memperbaiki tata kelola dan memperkuat kredibilitas pasar, respons investor justru berpeluang membaik, meskipun penguatan yang terjadi bersifat selektif dan bertahap,” ujarnya.
Dalam kondisi pasar seperti ini, Hendra menekankan bahwa strategi investor menjadi faktor penentu. Pendekatan defensif dan selektif dinilai menjadi kunci, dengan fokus pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta peran strategis dalam pembentukan indeks.
Ia merekomendasikan investor jangka pendek untuk disiplin dalam mengelola risiko dan tidak memaksakan pembukaan posisi di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Sementara itu, investor jangka menengah dan panjang dinilai dapat mulai melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham berkualitas yang valuasinya telah berada pada level lebih rasional.
“Strategi ini penting agar investor tidak terjebak pada gejolak jangka pendek, namun tetap memiliki eksposur ketika pasar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi,” kata Hendra.
Berdasarkan data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia pada Jumat (30/1) pekan lalu, IHSG ditutup menguat 97,41 poin atau 1,18 persen ke posisi 8.329,61. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan naik 20,52 poin atau 2,52 persen ke level 833,53.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.399.348 kali transaksi, dengan volume perdagangan mencapai 57,76 miliar lembar saham senilai Rp41,33 triliun. Sebanyak 551 saham menguat, 194 saham melemah, dan 65 saham tercatat tidak mengalami perubahan harga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara

2 days ago
3

















































