Honda Prelude Hybrid Dipakai 9.000 Km, 3 Fitur Ini Dikeluhkan

1 hour ago 2

Harianjogja.com, JOGJA— Honda Prelude hybrid menawarkan sejumlah teknologi yang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan sekaligus memberikan sensasi berkendara berbeda. Namun, pengalaman seorang pemilik di Jepang memperlihatkan bahwa fitur yang terlihat menarik dalam daftar spesifikasi belum tentu selalu terasa optimal ketika digunakan setiap hari.

Pemilik tersebut telah menggunakan Honda Prelude selama sekitar 11 bulan dengan jarak tempuh lebih dari 9.000 kilometer. Dalam periode tersebut, sistem hybrid e:HEV secara keseluruhan tetap dinilai bekerja dengan halus dan efisien.

Meski demikian, terdapat beberapa fitur yang justru mendapatkan catatan. Keluhan tersebut terutama berkaitan dengan wireless charging, sistem audio Bose, dan S+ Shift yang dirancang memberikan sensasi perpindahan gigi seperti mobil bermesin konvensional.

Pengalaman ini tentu merupakan penilaian individual. Namun, bagi calon pembeli yang mempertimbangkan Honda Prelude, catatan dari pemakaian jangka panjang tersebut dapat menjadi pertimbangan tambahan sebelum menentukan pilihan.

Wireless charging dinilai kurang efektif

Salah satu fitur yang mendapat keluhan adalah fasilitas pengisian daya ponsel secara nirkabel.

Fitur tersebut sebenarnya dirancang untuk memberikan kemudahan karena pengguna tidak perlu menghubungkan ponsel dengan kabel saat berada di dalam kabin. Namun, menurut pemilik Prelude yang dikutip Autoblog, performanya belum sesuai harapan untuk pemakaian sehari-hari.

"Daya ponsel hanya bertambah sekitar 10 sampai 15 persen dengan suhu perangkat yang meningkat panas," ujar pemilik Honda Prelude tersebut, dikutip dari Autoblog, Rabu (2/9/2026).

Dengan peningkatan daya yang relatif kecil dan suhu perangkat yang meningkat, pemilik tersebut menilai wireless charging bawaan kurang praktis dibandingkan menggunakan pengisi daya dengan kabel.

Catatan seperti ini menjadi relevan bagi pengguna yang sering mengandalkan ponsel untuk navigasi selama berkendara. Kecepatan pengisian dan pengelolaan panas perangkat menjadi bagian dari kenyamanan yang mungkin baru terasa setelah kendaraan digunakan dalam waktu lama.

Audio Bose memunculkan getaran kabin

Fitur kedua yang menjadi perhatian adalah sistem audio premium Bose dengan delapan speaker.

Sistem tersebut semestinya memberikan pengalaman audio lebih baik di dalam kabin. Akan tetapi, pemilik Prelude menemukan gangguan ketika volume dinaikkan dan pengaturan bass dibuat lebih kuat.

Panel kabin disebut memunculkan suara atau getaran yang dikenal sebagai rattle. Kondisi tersebut membuat kualitas suara yang diharapkan dari sistem audio premium tidak selalu terasa maksimal.

"Bukannya mendapatkan kedalaman suara bass yang lebih bersih, pengemudi justru disuguhkan getaran kabin tambahan," kata pengguna coupé hibrida tersebut.

Keluhan ini menunjukkan bahwa kualitas sistem audio tidak hanya bergantung pada speaker. Karakteristik kabin dan respons panel interior terhadap frekuensi tertentu juga dapat memengaruhi pengalaman pengguna ketika sistem audio digunakan pada tingkat volume tinggi.

Bagi calon pembeli, persoalan seperti ini mungkin tidak muncul ketika melakukan test drive singkat. Gangguan justru berpotensi lebih mudah diketahui setelah mobil digunakan secara rutin dalam berbagai kondisi.

S+ Shift dianggap kurang memberikan manfaat

Fitur ketiga yang menjadi sorotan adalah S+ Shift system.

Teknologi tersebut dirancang untuk memberikan sensasi berkendara yang lebih sporty melalui simulasi perpindahan gigi dan suara mesin. Fitur ini menjadi salah satu cara Honda memberikan karakter berkendara berbeda pada Prelude hybrid.

Namun, pemilik tersebut menilai simulasi yang diberikan belum terasa cukup realistis. Selain itu, sistem yang mempertahankan putaran mesin pada tingkat lebih tinggi disebut dapat berdampak terhadap konsumsi bahan bakar.

"Kecenderungan sistem yang menahan putaran mesin lebih tinggi justru berimbas pada konsumsi bahan bakar yang lebih boros," ungkap pemakai kendaraan ini.

Artinya, fitur yang ditujukan untuk memberikan pengalaman berkendara lebih emosional justru dianggap kurang menarik ketika prioritas pengguna adalah efisiensi.

Hal tersebut menjadi catatan menarik karena Honda Prelude menggunakan sistem hybrid e:HEV yang pada dasarnya menawarkan kombinasi performa dan efisiensi. Bagi pengguna yang lebih mengutamakan konsumsi bahan bakar, fitur simulasi tersebut mungkin tidak selalu menjadi pilihan utama.

Sistem hybrid tetap mendapat penilaian positif

Di luar tiga fitur tersebut, pengalaman pemilik tidak serta-merta menunjukkan bahwa Honda Prelude merupakan kendaraan yang mengecewakan.

Sistem hybrid e:HEV disebut tetap bekerja dengan halus dan nyaman untuk penggunaan sehari-hari. Bahkan, mobil dapat digunakan secara efisien tanpa harus mengaktifkan mode simulasi perpindahan gigi dan suara mesin.

Hal ini penting untuk diperhatikan agar pengalaman satu pengguna tidak diterjemahkan sebagai kelemahan seluruh unit Honda Prelude.

Justru, pengalaman tersebut memperlihatkan adanya perbedaan antara fitur yang ditawarkan ketika mobil dipasarkan dan bagaimana fitur tersebut benar-benar dirasakan setelah kendaraan digunakan selama berbulan-bulan.

Bagi calon pembeli, daftar spesifikasi tetap penting, tetapi bukan satu-satunya pertimbangan. Pengalaman pengguna setelah menempuh ribuan kilometer dapat memberikan gambaran tambahan mengenai fitur mana yang benar-benar berguna dan mana yang mungkin hanya digunakan sesekali.

Honda Prelude hybrid pada akhirnya tetap menawarkan sistem elektrifikasi dan teknologi berkendara modern. Namun, pengalaman pemakaian lebih dari 9.000 kilometer tersebut menjadi pengingat bahwa kenyamanan dan kepuasan terhadap sebuah fitur sangat bergantung pada kebutuhan serta kebiasaan masing-masing pengguna.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news