Newswire Rabu, 05 Agustus 2026 14:07 WIB

Tangkapan Layar - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026). ANTARA/HO-YouTube/Aditya Ramadhan\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA—Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai setiap Presiden Republik Indonesia memiliki gaya pidato dan komunikasi yang berbeda sesuai karakter, latar belakang, serta cara masing-masing dalam menyampaikan gagasan kepada publik. Menurutnya, hal tersebut juga terlihat pada gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto yang dinilai tetap konsisten sejak lama.
Pernyataan itu disampaikan Fadli Zon di Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu, saat dimintai tanggapan mengenai gaya komunikasi Presiden Prabowo kepada masyarakat.
Gaya Pidato Presiden Dinilai Mencerminkan Karakter
Fadli mencontohkan setiap presiden memiliki ciri khas tersendiri ketika berbicara di hadapan publik.
"Ada Bung Karno yang juga menggebu-gebu, Pak Harto yang kalem, Pak Habibie yang mungkin lebih kepada teknologi, Gus Dur banyak bercandanya, Bu Mega yang sangat formal, begitu juga dengan Pak SBY dan Pak Jokowi," katanya.
Menurutnya, perbedaan gaya komunikasi tersebut merupakan hal yang wajar karena dipengaruhi oleh karakter dan latar belakang masing-masing pemimpin.
Prabowo Dinilai Konsisten dengan Gaya Konseptual
Fadli mengatakan gaya pidato Presiden Prabowo tidak mengalami banyak perubahan sejak dahulu. Ia menilai Prabowo terbiasa menyampaikan gagasan secara konseptual dalam setiap kesempatan berbicara di depan publik.
Selain itu, penggunaan metafora maupun celetukan dalam pidato Presiden disebut sebagai bagian dari cara menyampaikan pesan agar lebih mudah dipahami sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat.
Menurut Fadli, Presiden Prabowo juga cukup sering menyampaikan pidato yang berisi penjelasan mengenai berbagai kebijakan pemerintah sehingga masyarakat memahami tujuan kebijakan tersebut sebagai bagian dari kepentingan nasional.
Kritik Tetap Dibutuhkan dalam Demokrasi
Fadli menegaskan kritik terhadap pemerintah tetap memiliki peran penting dalam sistem demokrasi.
Meski demikian, ia berharap setiap kritik yang disampaikan didasarkan pada argumentasi yang jelas, memiliki landasan yang kuat, serta berfokus pada substansi persoalan agar dapat memberikan masukan yang konstruktif bagi pemerintah.
Sebelumnya dalam pidato terbarunya, Presiden Prabowo menyoroti pentingnya kemandirian bangsa di bidang pangan dan energi sebagai fondasi utama menuju Indonesia Emas. Prabowo menyampaikan bahwa pengelolaan sumber daya alam yang optimal dan berkeadilan harus menjadi prioritas demi memastikan seluruh rakyat dapat merasakan manfaat nyata dari kekayaan tanah air.
Selain fokus pada kemandirian ekonomi, pidato tersebut juga menekankan pentingnya persatuan nasional dan peran aktif Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Prabowo mengajak seluruh elemen masyarakat, dari pemerintah hingga generasi muda, untuk mempererat kolaborasi dan menyampingkan perbedaan demi kemajuan bersama. Keberanian untuk melakukan pembenahan internal serta penguatan tata kelola pemerintahan yang bersih menjadi poin kunci yang diharapkan mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang disegani di kancah global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

15 hours ago
10

















































