Cegah Erosi Lintas Generasi, Kali Kuning Dihijaukan

10 hours ago 4

Cegah Erosi Lintas Generasi, Kali Kuning Dihijaukan Anggota Komunitas Nandur Tuk Memetri Tuk, Agus Prasetya, sendang menanam pohon di Tepi Sungai Edupark Tapan, Karanglo, Purwomartani, Sleman, Sabtu (28/3/2026). - Harian Jogja/Andreas Yuda Pramono.

Harianjogja.com, SLEMAN—Gerakan pelestarian lingkungan kembali digelorakan oleh Sekretariat Bersama (Sekber) Perhimpunan Pencinta Alam DIY melalui aksi penanaman pohon di Tepi Sungai Edupark Tapan, Karanglo, Purwomartani, Sleman, Sabtu (29/3/2026).

Langkah nyata ini difokuskan pada area konservasi di sekitar aliran Kali Kuning sebagai strategi jangka panjang untuk mencegah terjadinya erosi dan menjaga ekosistem sungai.

Ketua Panitia Penanaman Pohon, Richo Adi Nugraha, menjelaskan bahwa agenda hijau ini merupakan bagian dari rangkaian acara Syawalan Pencinta Alam DIY yang menyatukan para aktivis lingkungan lintas generasi sejak era 1970-an.

Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini memperkuat posisi Sekber sebagai wadah konsolidasi bagi para pegiat alam di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Sekber ini sebenarnya satu ruang menjalin komunikasi antarpegiat pencinta alam di DIY. Kami menaungi teman-teman pencinta alam di SMA dan perguruan tinggi, termasuk yang tidak berinduk,” ujar Richo saat ditemui di lokasi penanaman, Sabtu.

Partisipan senior Sekber PPA DIY, Edy Hartono, yang telah aktif sejak 1976, menekankan bahwa isu konservasi tetap menjadi prioritas utama di tengah masifnya alih fungsi lahan.

Edy menyoroti dinamika sektor industri yang seringkali mengabaikan keseimbangan alam demi pembukaan lahan baru. Baginya, kontrol terhadap aktivitas penebangan pohon harus diimbangi dengan kewajiban menanam kembali demi keberlangsungan makhluk hidup.

“Warga butuh hidup. Perlu membuka lahan, tapi kan harus ada kontrol. Paling tidak kalau menebang ya harus menanam,” tutur Edy memberikan pandangannya terkait dilema pembangunan dan lingkungan.

Dalam aksi kali ini, Sekber PPA DIY menggandeng Komunitas Nandur Tuk Memetri Tuk yang dikenal fokus pada penyediaan bibit tanaman konservasi secara cuma-cuma.

Perwakilan komunitas, Agus Prasetya, memaparkan bahwa pihaknya sengaja memilih jenis tanaman dari genus Ficus karena memiliki ketahanan dan fungsi ekologis yang sangat tinggi. “Utamanya tanaman dari genus ficus. Pohon Beringin itu salah satunya, tapi genus ini ada 800 lebih jenisnya,” kata Agus.

Agus menambahkan bahwa genus Ficus, seperti pohon Bodhi, serta genus Inocarpus seperti pohon Gayam, memiliki akar yang sangat kuat untuk mencengkeram tanah serta tajuk yang rimbun.

Karakteristik fisik inilah yang membuat jenis pohon tersebut sangat efektif dalam memulihkan kualitas lingkungan di bantaran sungai. Selain fungsi ekologis, Komunitas Nandur Tuk Memetri Tuk juga berkomitmen melestarikan tanaman endemik lokal yang memiliki kaitan erat dengan sejarah dan budaya penamaan daerah di Yogyakarta.

“Candi Sambisari contohnya. Ada tanaman bernama Sambi. Lalu, Gondanglegi. Gondang itu masuk genus ficus. Ada budaya yang melekat,” ucap Agus.

Dengan ketersediaan bibit hasil budidaya sendiri yang mencapai 80 persen, gerakan ini diharapkan tidak hanya sekadar menanam, tetapi juga merawat memori kolektif masyarakat terhadap identitas alam lokal.

Aksi di Kali Kuning ini sekaligus menjadi pengingat bagi publik bahwa pelestarian lingkungan adalah tanggung jawab berkelanjutan yang harus diwariskan dari generasi ke generasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news