BPBD Sleman: Lima EWS Rusak, Satu Hilang di Wilayah Rawan Bencana

1 day ago 5

Harianjogja.com, SLEMAN—Pendataan terbaru BPBD Kabupaten Sleman menemukan enam Sistem Peringatan Dini (EWS) dalam kondisi bermasalah di kawasan rawan bencana Merapi, terdiri atas lima unit rusak dan satu unit hilang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sleman, Uun Mardiyanto, menjelaskan lima EWS yang rusak tersebar di beberapa titik dengan potensi bencana berbeda. EWS tersebut berada di Sungai Boyong Balong dan Sungai Krasak untuk ancaman banjir lahar, Kopeng untuk ancaman awan panas, serta Gunung Cilik dan Gayam yang rawan tanah longsor. Sementara itu, satu EWS yang dilaporkan hilang berada di wilayah Watukangsi dengan ancaman tanah longsor.

Secara keseluruhan, BPBD Sleman mengelola 39 titik EWS. Namun, tidak seluruhnya dilengkapi kamera pengawas. Dari jumlah tersebut, hanya 22 EWS yang telah terpasang kamera pengawas (CCTV), dengan beberapa titik memiliki satu hingga dua unit kamera.

EWS yang telah dilengkapi CCTV antara lain berada di Sungai Gendol Banjarsari, Sungai Kuning, Sungai Opak Pagerjurang/Merapi Golf, Sungai Trasi, Srunen 2, Barak Purwobinangun, An-Nur Pagerjurang, Ngepring, Kemiri, Turgo 2, Ngandong, Kalitengah Lor, Tunggularum, Gardu Pandang Kaliurang/Bunker Kaliurang, Bukit Turgo, serta Ngrangkah.

Dilihat dari jenisnya, perangkat peringatan dini di Sleman difokuskan untuk mengantisipasi tiga ancaman utama erupsi Gunung Merapi dan dampak ikutannya. EWS Awan Panas mendominasi jumlah perangkat, disusul EWS Banjir Lahar dan EWS Tanah Longsor. Selain itu, terdapat satu unit EWS Curah Hujan yang terpasang di wilayah Turgo 1.

Uun Mardiyanto menegaskan pemeliharaan EWS dilakukan secara rutin. BPBD Sleman setiap tahun mengalokasikan anggaran khusus untuk perawatan, disertai pengecekan harian di lapangan.

“Kami setiap tahun ada anggaran pemeliharaan EWS. Setiap hari kami juga melakukan pengecekan. Kalau rusak sebisa mungkin kami perbaiki atau ganti. Kami tidak akan menunggu rusak,” kata Uun dihubungi, Senin (2/2/2026).

Terkait rencana penambahan EWS baru, Uun menyebut saat ini belum memungkinkan karena kebutuhan anggaran yang cukup besar. Untuk satu titik EWS dengan fasilitas lengkap, termasuk CCTV dan model terbaru, dibutuhkan dana sekitar Rp60 juta.

Ia mencontohkan EWS Turgo 2 yang sudah menggunakan teknologi lebih maju. Perangkat ini tidak hanya berupa sirine, tetapi juga dapat mengeluarkan suara peringatan langsung dari operator melalui ponsel, layaknya sistem pengeras suara yang terhubung langsung dengan petugas.

“Tapi memang kebanyakan EWS di Sleman masih manual, belum otomatis. Makanya ada petugas penjaga di tiap titik. Petugas yang pertama kali mendeteksi ada bencana dan membunyikan EWS,” katanya.

Peran relawan menjadi bagian penting dalam operasional EWS. Ketua Komunitas Siaga Merapi (KSM), Rambat Wahyudi, mengatakan relawan yang ditugaskan harus selalu siap mengoperasikan EWS saat ada perintah maupun kondisi darurat kebencanaan.

“Rata-rata memang relawan yang ditugaskan itu yang rumahnya dekat dengan titik EWS,” kata Rambat.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman (FKKRS), Yoga Nugroho Utomo, menyampaikan hingga kini belum ada ancaman signifikan dari banjir lahar maupun longsor yang memicu pengaktifan EWS. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan.

“EWS Awan Panas khususnya sangat membantu, memberi peringatan dini untuk masyarakat sekitar dan relawan,” kata Yoga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news