BMKG: Sumbar Mulai Masuki Transisi Kemarau, Waspadai Cuaca Panas hingga Hujan Ekstrem Lokal

13 hours ago 4

KLIKPOSITIF- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Minangkabau menyebutkan wilayah Sumatera Barat mulai memasuki fase transisi menuju musim kemarau pada periode 5-11 Juni 2026. Kondisi ini ditandai dengan cuaca cerah berawan dan potensi hujan yang cenderung menurun dibandingkan periode sebelumnya.

BMKG menjelaskan, kondisi atmosfer saat ini dipengaruhi sejumlah faktor global dan regional yang saling berinteraksi. Salah satunya adalah fenomena El Niño yang masih aktif dengan indeks Niño 3.4 sebesar +0,69 dan Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -16,0.

Secara fisis, kondisi tersebut menyebabkan melemahnya pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat, termasuk Sumatera Barat. El Nino yang aktif sejak akhir April hingga awal Mei 2026 menjadi faktor utama yang menekan potensi curah hujan di daerah ini.

Selain itu, penguatan Monsun Australia yang membawa massa udara lebih kering turut mendukung kondisi cuaca cerah. Meski demikian, intensitas monsun masih berada di bawah normal sehingga hujan ringan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.

Sementara itu, Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 7 hingga 8 diperkirakan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap cuaca di Indonesia dalam sepekan ke depan. Meski peluang hujan menurun, BMKG mengingatkan masyarakat bahwa dinamika atmosfer regional masih dapat memicu hujan di beberapa wilayah.

Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang bergerak ke arah barat masih berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan, terutama di Sumatera bagian utara yang dapat berdampak hingga wilayah Sumatera Barat bagian utara.

Pada skala lokal, pemanasan permukaan akibat berkurangnya tutupan awan sejak pagi hingga siang hari dapat memicu terbentuknya awan konvektif. Kondisi ini berpotensi menyebabkan hujan singkat dengan intensitas cukup lebat pada sore hingga malam hari, khususnya di kawasan pegunungan Bukit Barisan.

BMKG menilai masa transisi menuju musim kemarau masih berlangsung secara bertahap dengan karakter cuaca yang berbeda di setiap wilayah. Risiko kekeringan dan kebakaran lahan mulai meningkat, terutama di dataran rendah pesisir barat.

Di sisi lain, potensi hujan konvektif lokal yang bersifat sporadis dan tidak merata masih perlu diwaspadai, terutama di daerah pegunungan dan lembah.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi paparan langsung sinar matahari.

Masyarakat juga diminta menjaga kecukupan cairan tubuh agar terhindar dari dehidrasi, kelelahan, dan gangguan kesehatan lainnya.
Selain itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan diminta tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.

Pengendara kendaraan bermotor juga diingatkan untuk berhati-hati terhadap kemungkinan hujan lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang yang dapat mengganggu perjalanan.

BMKG juga mengimbau masyarakat mewaspadai potensi pohon tumbang, baliho roboh, genangan air, serta sambaran petir dengan menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang tidak kokoh saat cuaca buruk terjadi.

“Kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu ini perlu menjadi perhatian dalam perencanaan berbagai aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti olahraga dan wisata,” tulis Prakirawan Stasiun Meteorologi Minangkabau dalam keterangannya, Jumat (5/6/2026).

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news