Solok, Klikpositif – Nagari Selayo, Kabupaten Solok mendadak ramai siang itu, Sabtu (25/7/2026). Tuo-tuo silek dari berbagai sasaran atau perguruan di Kota dan Kabupaten Solok berkumpul di depan kantor Wali Nagari dalam event bertajuk Balerong Silek Tuo.
Suasana yang diselimuti aura masa lalu itu dihadiri langsung ketua IPSI Sumbar, Vasco Ruseimy. Hadir Anggota DPRD Sumbar, H. Daswippetra Dt. Manjinjiang Alam, Wakil Bupati Solok, H. Candra, hingga ratusan pegiat silek tradisi dari puluhan perguruan silek di daerah Solok.
Gema pelestarian seni beladiri Minangkabau tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Gubernur Sumbar. Menurutnya, Balerong Silek Tuo bukan sekadar pertemuan para pesilat, melainkan momentum penting untuk membangkitkan kembali jati diri budaya Minangkabau.
“Saya sangat bangga bisa hadir di acara kebanggaan kita ini, tempat berkumpulnya urang-urang baju hitam. Dari data yang kami peroleh, Sumatera Barat memiliki sekitar 200 aliran silek tradisi. Namun ketika kami mulai menjabat, hanya sekitar 50 aliran yang masih aktif berkembang,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjut Wagub, menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Berangkat dari keprihatinan itu, pemerintah mengambil langkah strategis dengan mewajibkan kegiatan ekstrakurikuler silek di seluruh SMA dan sederajat di Sumatera Barat.
Menurutnya, salah satu penyebab mulai memudarnya silek tradisi adalah karena generasi muda tidak lagi memandang silek sebagai sesuatu yang menarik maupun membanggakan. Padahal, silek merupakan warisan budaya tak benda yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan karakter yang sangat tinggi.
Wakil Bupati Solok, H. Candra, S.H.I menyampaikan apresiasi kepada anggota DPRD Sumbar H. Daswippetra dan seluruh guru silek yang selama ini konsisten menjaga eksistensi Silek Tuo di Kabupaten Solok.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Solok, kami mengucapkan terima kasih kepada Dt. Manjinjiang Alam beserta seluruh tuo-tuo silek, khususnya di Nagari Selayo dan sekitarnya. Program Silek Tuo ini telah menjadi perhatian masyarakat dan berhasil membangkitkan semangat generasi muda untuk belajar silek,” ujarnya.
Pelestarian Silek Tuo bukan hanya bertujuan mempertahankan seni bela diri tradisional, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter yang efektif dalam membentuk generasi muda yang berakhlak mulia.
“Silek tidak hanya mengajarkan bagaimana membela diri, tetapi lebih dari itu membentuk kejujuran, kesantunan, kemandirian, disiplin, dan rasa hormat kepada sesama. Nilai-nilai kehidupan inilah yang sesungguhnya diwariskan melalui Silek Tuo,” jelasnya.

7 hours ago
3




















































