Ilustrasi Ramadan. / Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO—Menjelang Ramadan 2026, MUI Kulonprogo mengingatkan potensi perbedaan awal Ramadan yang bisa terjadi di tengah masyarakat. Umat Islam diminta menyikapi kemungkinan tersebut dengan kedewasaan, menjaga toleransi, dan memperkuat kedamaian di Bumi Binangun.
Imbauan ini disampaikan seiring semakin dekatnya bulan suci Ramadan, yang kerap diwarnai perbedaan penetapan awal puasa. MUI menilai suasana rukun dan harmonis harus menjadi prioritas utama agar pelaksanaan ibadah berjalan khusyuk dan kondusif.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kulonprogo, Muhammad Jumarin, menegaskan potensi perbedaan awal Ramadan harus disikapi dengan penuh kedamaian dan toleransi. Ia berharap umat Islam di Kulonprogo tetap menjaga hubungan harmonis, termasuk dengan umat beragama lain yang tidak menjalankan puasa.
“Misalnya, meskipun itu baik ya, penggunaan pengeras suara juga harus dikendalikan juga. Demi waktu istirahat ya, tengah malam pengeras suara masih bersuara itu kan akan mengganggu juga,” katanya saat dimintai keterangan, Minggu (15/2/2026).
Jumarin juga mengajak masyarakat menjalani Ramadan dengan sikap sederhana dan tidak berlebihan, terutama dalam hal konsumsi saat berbuka puasa. Menurutnya, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih harus menjadi pertimbangan agar masyarakat tidak bersikap konsumtif selama Ramadan maupun menjelang Lebaran.
“Ini kan ekonomi kan juga tidak terlalu bagus-bagus sekali. Nanti kalau masyarakat terlalu konsumtif, enggak baik juga baik waktu puasa maupun lebaran,” imbaunya.
Selain kepada masyarakat umum, ia meminta seluruh pengurus masjid dan tokoh agama agar menyampaikan materi pengajian yang menyejukkan serta tidak kontroversial. Ceramah diharapkan membangun semangat kebersamaan dan mengarahkan umat ke hal-hal positif.
Jumarin juga mendorong instansi terkait untuk memastikan situasi tetap kondusif selama Ramadan, termasuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok. Ia mengingatkan, peningkatan konsumsi selama Ramadan kerap memicu lonjakan harga.
“Misalnya ketersediaan bahan-bahan pokok. Ramadan biasanya konsumsi meningkat dan harga kadang-kadang tidak bisa terkendali juga. Ini kan pemerintah yang bisa mengendalikannya,” tutur Jumarin.
Ia menambahkan, aspek ketertiban umum juga perlu mendapat perhatian serius. Aparat kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja diminta mengantisipasi potensi gangguan keamanan seperti tawuran maupun peredaran minuman keras yang kerap meningkat saat Ramadan.
“Secara umum kemudian ketertiban saya kira kepolisian dan juga mungkin Satpol PP itu dijaga. Misalnya tawuran kecil atau miras, tawuran-tawuran itu kan agak meningkat juga (saat Ramadan). Itu harus dikendalikan juga lah supaya suasana Ramadan bisa lebih nyaman, damai,” imbuhnya.
Sementara itu, Satpol PP bersama Polres Kulonprogo akan bersinergi untuk menjaga kondusivitas Ramadan di Kulonprogo selama sebulan penuh. Kepala Satpol PP Kulonprogo, Budi Hartono, mengatakan patroli gabungan akan digelar guna memastikan situasi tetap aman dan terkendali, termasuk melibatkan Jaga Warga yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Nanti kami akan ada giat bersama dengan Polres tetapi waktunya sedang disusun dahulu,” ucapnya, menandaskan kesiapan aparat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat selama Ramadan 2026 di Kulonprogo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

10 hours ago
1

















































