AQI Jakarta 158, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat, Nomor 3 Terburuk Dunia

4 hours ago 1

Newswire

Newswire Minggu, 13 September 2026 07:47 WIB

AQI Jakarta 158, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat, Nomor 3 Terburuk Dunia

Penampakan kawasan Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan pada Sabtu (12/9/2026)./ ANTARA/Mario Sofia Nasution

Harianjogja.com, JAKARTA—Kualitas udara Jakarta pada Minggu (13/9/2026) pagi masuk tiga terburuk di dunia berdasarkan pemantauan IQAir. Jakarta berada di posisi ketiga dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) 158 atau masuk kategori tidak sehat.

Berdasarkan data IQAir pada pukul 05.50 WIB, Jakarta berada di bawah Kinshasa, Kongo, dan Kampala, Uganda. Polutan utama yang tercatat adalah PM2,5 dengan konsentrasi mencapai 65,3 mikrogram per meter kubik.

Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara yang tidak sehat bagi kelompok sensitif. Paparan polusi dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif, serta berpotensi menimbulkan kerusakan pada tumbuhan dan nilai estetika.

Jakarta di Bawah Kinshasa dan Kampala

Kinshasa di Kongo menjadi kota dengan kualitas udara terburuk di dunia dengan AQI 215. Posisi kedua ditempati Kampala, Uganda, dengan AQI 162, sedangkan Jakarta berada di urutan ketiga dengan angka 158.

Di bawah Jakarta terdapat Kuching, Malaysia, dengan AQI 157. Sementara itu, Baghdad, Irak, berada di peringkat kelima dengan AQI 153.

IQAir juga mencatat sejumlah kategori kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2,5. Rentang PM2,5 sebesar 51-100 masuk kategori yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan, tetapi dapat berpengaruh terhadap tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika.

Adapun kategori baik berada pada rentang PM2,5 0-50. Pada kategori tersebut, kualitas udara tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan serta tidak berpengaruh terhadap tumbuhan, bangunan, maupun nilai estetika.

Selanjutnya, kategori sangat tidak sehat berada pada rentang 200-299. Pada level ini, kualitas udara dapat merugikan kesehatan sejumlah segmen populasi yang terpapar.

Kategori terakhir adalah berbahaya dengan rentang 300-500. Secara umum, kualitas udara pada level tersebut dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan populasi.

Warga Jakarta Diminta Waspada

Dengan indeks kualitas udara tersebut, warga DKI Jakarta direkomendasikan untuk selalu mengenakan masker ketika berada di luar ruangan.

Selain itu, warga disarankan menutup jendela untuk menghindari masuknya udara luar yang kotor serta menyalakan alat penyaring udara.

Walhi Soroti Pengelolaan Lingkungan

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai buruknya kualitas udara di Jakarta dan kota-kota besar lainnya bukan sekadar fenomena musiman. Wahyu Eka Styawan, Pengkampanye Urban Berkeadilan dan Kebijakan Tata Ruang Walhi Eksekutif Nasional, menyebut kondisi tersebut sebagai kegagalan struktural dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Menurut dia, kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari model pembangunan yang masih bergantung pada energi fosil dan minim pengendalian terhadap sumber pencemar.

Data Walhi pada Mei 2026 menunjukkan kualitas udara Jakarta berada pada kisaran AQI 134-189. Puncaknya terjadi pada 9 Mei dengan AQI mencapai 189, yang masuk kategori tidak sehat bagi seluruh populasi.

Kondisi serupa juga terjadi di wilayah penyangga Jakarta. Serpong dan Tangerang Selatan mencatat indeks hingga 178.

Sementara itu, Bandung justru mencatat tren yang kerap lebih buruk dibandingkan Jakarta, dengan AQI berkisar 137-171.

Polusi Udara Jakarta Dinilai Kronis

Wahyu mengatakan persoalan polusi udara bersifat kronis dan telah terjadi selama bertahun-tahun tanpa penyelesaian yang tuntas.

Menurut dia, putusan citizen lawsuit nomor 374/Pdt.G/LH/2019/PN.Jkt.Pst yang dimenangkan 32 warga pada 2021 sebenarnya telah memerintahkan Kementerian Lingkungan Hidup hingga Gubernur Jakarta untuk mengambil langkah konkret.

Langkah tersebut antara lain memperketat baku mutu udara, memperbanyak alat pemantau, hingga mengintegrasikan data kesehatan masyarakat.

“Saya melihat belum ada upaya signifikan pemerintah,” katanya seperti dilansir dari Mongabay.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news