KabarMakassar.com — Soundrenaline “Sana Sini di Makassar” menjadi ruang pertemuan musisi lintas generasi dan genre di Phinisi Point Area, Kota Makassar, Sabtu (29/8/2026).
Tak sekadar menghadirkan pertunjukan musik, festival ini juga menjadi momentum reuni bagi sejumlah musisi yang kembali menyapa penonton Makassar setelah beberapa tahun.
Float, Seringai, Danilla hingga The SIGIT menjadi beberapa nama yang berbagi cerita tentang pengalaman mereka bermain di festival, perubahan ekosistem musik, hingga kesan terhadap antusiasme penonton Kota Daeng.
Bagi Float, panggung festival memiliki daya tarik karena menjadi tempat bertemunya musisi dengan penonton sekaligus sesama pelaku musik.
“Pasti itu, ketemu sama teman. Walaupun musisi itu kan juga teman. Teman-teman musisi juga. Dan pasti itu energinya dari penonton. Itu juga menarik banget,” ujar personel Float saat ditemui di sela Soundrenaline.
Menurut Float, festival akan tetap relevan selama musik masih menjadi bagian dari kehidupan manusia.
“Festival itu sebenarnya kayak pameran, ekshibisi. Ada ekshibisi otomotif, ada ekshibisi seni. Nah, ini ekshibisinya seni pertunjukan, khususnya musik,” katanya.
“Jadi kayaknya sampai kapan pun, selama musik itu masih bagian dari kehidupan masyarakat, kehidupan manusia, festival akan tetap relevan,” lanjutnya.
Float dan Kenangan Panjang dengan Makassar
Makassar bukan kota asing bagi Float. Band tersebut mengingat kunjungan pertamanya ke Makassar pada 2007 ketika menjalani rangkaian promosi film 3 Hari untuk Selamanya.
Sejak saat itu, Float mengaku beberapa kali kembali manggung di Makassar.
“Pertama kali itu 2007, waktu promo film 3 Hari untuk Selamanya. Berarti itu 19 tahun yang lalu. Dan sejak 2007 sampai sekarang kita lumayan sering ke Makassar,” tuturnya.
Selain kuliner, karakter masyarakat Makassar menjadi salah satu hal yang membekas bagi Float.
“Karakter orang-orangnya juga beda. Lebih ekspresif, lebih cuek untuk dekat ke kita. Itu juga salah satu faktor yang bikin kita selalu pengin balik lagi ke Makassar,” ujarnya.
Setelah sekitar tiga hingga empat tahun tidak berkunjung, Soundrenaline 2026 menjadi momentum yang mereka nantikan.
“Ini momen yang kita tunggu-tunggu juga, balik lagi ke Makassar. Makassar ini selalu spesial. Selalu kita tunggu-tunggu acara di Makassar. Apalagi ini balik untuk Soundrenaline. Ini spesial banget,” katanya.
Float menyiapkan sembilan lagu untuk penampilannya. Bagi mereka, seluruh materi yang dibawakan terasa istimewa karena menjadi kesempatan kembali berjumpa dengan publik Makassar.
“Semua pasti spesial, setiap yang kita bawakan. Apalagi sudah tiga sampai empat tahun yang lalu terakhir kita di Makassar,” ungkapnya.
Seringai Sebut Antusiasme Makassar Sangat Terasa
Kesan serupa disampaikan Seringai. Band rock asal Jakarta itu mengaku merasakan antusiasme besar dari penonton saat kembali tampil di Makassar.
“Seru banget. Kita terakhir mungkin 2023 waktu kolaborasi sama Burgerkill. Antusiasmenya sangat terasa. Kayak kitanya juga menunggu, ternyata keluarga Makassarnya juga sangat menunggu. Terlihat dari animonya tadi,” ujar personel Seringai.
Dalam penampilannya, Seringai membawakan sekitar 11 lagu. Sebagian besar repertoar mereka kini diisi materi dari album terbaru.
“Sekarang repertoarnya memang semenjak rilis album, sekitar 50 sampai 60 persen materi lagu baru yang kita bawakan,” katanya.
Beberapa lagu baru yang menjadi bagian dari set Seringai antara lain “Sejati” dan “Pengungsi ’98”.
Tak hanya soal musik, Makassar juga menyimpan kenangan panjang bagi Seringai. Kota ini disebut sebagai salah satu daerah pertama di luar Jawa dan Bali yang pernah mereka sambangi pada masa awal perjalanan band.
“Itu pertama kali gue merasakan benar-benar di Makassar. Itu masih core memory,” ujarnya.
Kedekatan tersebut turut diperkuat dengan pengalaman kuliner yang hampir selalu mereka nantikan setiap berkunjung.
“Pastinya di Makassar, kulinernya juga selalu kita tunggu. Kita punya kuliner-kuliner langganan yang setiap kali ke sini kita selalu ke sana,” katanya.
Danilla Soroti Perubahan Cara Musik Dikonsumsi
Sementara itu, Danilla melihat perkembangan festival tidak bisa dilepaskan dari perubahan teknologi dan cara masyarakat menikmati musik.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat proses produksi hingga distribusi musik menjadi jauh lebih cepat dibanding era 2000-an.
“Teknologinya juga sudah beda banget dari tahun 2000-an sampai 2020-an. Sekarang cara orang mengonsumsi musik juga beda,” kata Danilla.
Kecepatan produksi dan perilisan karya bahkan membuat pilihan musik semakin beragam.
“Sekarang semakin cepat bikin musik. Setiap minggu ada rilisan baru, jadi lebih beragam lagi. Tapi di satu sisi mungkin lumayan jadi sesak juga,” ujarnya.
Di tengah perubahan tersebut, Danilla mengatakan musisi tetap perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan karakter karya masing-masing.
The SIGIT Jaga Lagu Lama Tetap Terasa Segar
Bagi The SIGIT, salah satu tantangan musisi yang telah lama berada di industri adalah menjaga lagu-lagu lama tetap memiliki energi ketika kembali dimainkan di atas panggung.
Band asal Bandung tersebut mengaku terus mencari cara agar materi yang telah dibawakan selama bertahun-tahun tidak terasa monoton, baik bagi musisi maupun penonton.
“Walaupun lagu lama yang sudah sering kita mainkan, kami selalu coba memperbaiki sedikit cara kami memainkannya dari tahun ke tahun,” ujar personel The SIGIT.
Perubahan kecil dalam aransemen maupun cara memainkan lagu menjadi strategi mereka menjaga pengalaman panggung tetap segar.
“Versi album dengan versi lain itu enggak pernah sama. Setidaknya bagi kita yang memainkannya jadi fresh, jadi mainnya enggak kelihatan membosankan,” katanya.
The SIGIT juga menilai atmosfer Soundrenaline Makassar memberikan pengalaman tersendiri, baik dari sisi penonton maupun interaksi antarmusisi di belakang panggung.
“Menyenangkan dari sisi penontonnya. Salah satu Soundrenaline yang paling menarik menurut saya. Terus backstage juga seru banget,” ujarnya.
Soundrenaline Bawa Konsep Mall Takeover
Soundrenaline “Sana Sini di Makassar” merupakan kelanjutan perjalanan Soundrenaline 2026 setelah sebelumnya berlangsung di Jakarta pada 18–19 Juli 2026. Setelah Makassar, rangkaian tersebut dijadwalkan berlanjut ke Palembang, Yogyakarta, dan Bandung.
Di Makassar, Soundrenaline mengusung konsep mall takeover dengan menghadirkan pengalaman festival di ruang yang lebih dekat dengan keseharian publik. Gelaran ini mempertemukan nama-nama lintas generasi seperti Iwan Fals & Band, Danilla, Float, Kelompok Penerbang Roket, Seringai, The SIGIT hingga sejumlah musisi baru dan proyek kolaborasi.
Tiga konsep pertunjukan dibawa melalui The Unseen Performance, The Unplugged, dan The Next Meet Now, yang mempertemukan musisi mapan, emerging musicians hingga proyek eksperimental dalam satu rangkaian festival.
Kolaborasi khusus juga tersaji melalui Yoko City Ghost × The SIGIT serta OG Avamato × Float.
Melalui perjalanan “Sana Sini”, Soundrenaline berupaya tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang temu musik, seni, talenta dan komunitas dari berbagai generasi.
Bagi para musisi yang malam itu kembali bertemu publik Kota Daeng, satu hal terlihat sama: Makassar bukan hanya kota tujuan tur, melainkan kota dengan energi penonton dan memori yang membuat mereka ingin kembali.


















































